Para perupa asal Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar pameran karya seni bertajuk ‘Sulawesi Pa’rasanganta’ di Gedung Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Palmerah, Jakarta Pusat, mulai 10 Januari 2019 hingga 20 Januari 2019. Pameran ini diadakan oleh 24 pelukis yang memamerkan 24 karya tulis serta 3 karya instalisasi.

Menurut Kurator Pameran, Anwar Jimpe Rachman, latar belakang diangkatnya tema pameran ini berangkat dari lagu yang berjudul Sulawesi Pa’rasanganta ciptaan B Mandjia. Kata Anwar, judul lagu tersebut telah menjadi ungkapan dan kata ganti yang awam untuk merujuk wilayah di bagian selatan Pulau Sulawesi.

“Lalu (Sulawesi Pa’rasanganta) berubah sebagai identitas daerah lantaran lirik lagu itu berbahasa Makassar, dilantunkan dengan tempo adante, lantas menjelma layaknya lambaian tangan ibu yang memanggil pulang (kampung),” tutur Anwar dalam sambutan di acara pembukaan pameran tersebut, Kamis, 10 Januari 2019.

Judul lagu ini, tambah Anwar, menjadi tema pameran karya perupa Sulawesi Selatan yang berlangsung 10-20 Januari 2019 di Bentara Budaya Jakarta. Eksibisi bersama kali ini merupakan pameran kedua perupa dari wilayah sama di galeri serupa dengan jarak 15 tahun (2003).

Mengukir Diri Karya Mike Turusy. foto; Baharudin
Mengukir Diri Karya Mike Turusy. foto; Baharudin

Anwar mengatakan, rentang waktu 15 tahun dan tema pameran tak dimungkiri meletupkan beberapa hal. Rentangan masa bisa menjadi semacam beban bagi para peserta pameran. Unsur itu menjelma sebagai satu karya apa saja yang menjadi wajah perkembangan seni rupa di Sulawesi Selatan.

“Rentang masa tersebut, sadar atau tidak, berubah layaknya momok pertanyaan dalam benak perantau yang hendak pulang, ‘apakah mereka sudah layak pulang?’,” kata Anwar.

Karya 'My Greatest Indonesia of All' karya Muhammad Suyudi. Foto; Baharudin
Karya ‘My Greatest Indonesia of All’ karya Muhammad Suyudi. Foto; Baharudin

Di sisi lain, menurut Anwar tema ini juga sangat mungkin diibaratkan sebagai pedang bermata dua, bukan hanya bisa ‘melukai’ tangan para perupa Sulawesi Selatan, tapi juga ‘mengiris’ tangan khalayak umum. “Bila tidak hati-hati memegangnya, keduanya bisa terluka. Luka yang bisa berawal dari perihal yang bernama tafsir,” ungkap Anwar.

Konten Terkait:  Hanya Ada Satu Hari Tidak Baik pada Pekan ini

Anwar menjelaskan, tafsir awal seniman yang mengemuka tentang tema ini bisa menggiring perupa mengumpulkam karya-karya yang menampakkan citra Sulawesi Selatan yang figuratif.

“Bagaimana pun ikatan gagasan mereka tertambat kuat pada jangkar kesan yang muncul kala mereka menyebut ‘Sulawesi Pa’rasanganra’, lagu yang melantunkan ajakan untuk menciptakan kampung halaman yang aman dan tenteram,” jelas Anwar.
Direktur Program Bentara Budaya, Frans Sartono bercerita, 17 tahun yang lalu seorang pelukis bernama Ali Walangadi membakar puluhan lukisannya. Pembakaran itu berlangsung usai Ali berpameran di Universitas Hasanudin, Makassar. Namun, menurut Frans, pembakaran itu dapat dimaknai sebagai pembakaran semangat untuk terus berkarya dalam situasi apapun.

Suasana Pengunjung Pameran Pa'rasanganta. Foto; Baharudin
Suasana Pengunjung Pameran Pa’rasanganta. Foto; Baharudin

“Dua tahun kemudian semangat berkarya itu tersatukan dalam Pameran 45 Perupa Sulawesi Selatan di Bentara Budaya Jakarta pada Agustus 2003,” ungkap Frans.

“Pada masa itu mereka berkarya di tengah tarik menarik kepentingan antara kebutuhan ekonomi, dan apa yang mereka sebut sebagai, ‘melukis apa yang kita
kehendaki’. Dalam bahasa mereka, rangsang kreatif, nafsu kesenian sering terusik oleh kebutuhan dapur. Namun dalam pameran itu mereka bertekad untuk apa yang mereka sebut sebagai “melukis seni” yang memuaskan hati
para seniman. Bukan memuaskan pasar,” tambah Frans.

Frans menuturkan, hampir 15 tahun kemudian, yaitu pada Januari 2019 ini, semangat yang sama mendasari pameran seni rupa Sulawesi Pa’rasanganta di Bentara Budaya Jakarta pada 10-20 Januri 2019.

Frans mengapresiasi dinamika kreativitas perupa di Sulsel. Sejumlah karya memilih tema kehidupan sehari-hari di Sulawesi Selatan seperti nelayan, perahu phinisi yang dikhawatirkan punah, sampai permainan tradisi sepak raga.

“Apapun wujud karya mereka, inilah bentuk semangat berkesenian seniman Sulawesi Selatan. Semangat yang menjadi pameran pertama Bentara Budaya Jakarta di tahun 2019. Dan semoga menjadi pelecut semangat seniman Sulawesi yang lebih 17 tahun lalu dibakar oleh Ali Walangadi,” tegas Frans. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here