Situasi Hindia Belanda Ketika Negeri Belanda Diserang Jerman Tahun 1940

0
148

Situasi Perang Dunia tahun 1940 sangat mencekam. Negeri Belanda yang bersikap netral pun akhirnya diserang oleh Jerman. Maka rakyat Belanda melawannya. Hindia Belanda yang dijajah oleh Belanda, pada saat itu masih aman. Namun demikian, Gubernur Jenderal, sebagai orang nomer satu di tanah Nusantara ini telah menyampaikan pengumuman, yang intinya, segala bantuan yang datang dari masyarakat Hindia Belanda akan disalurkan ke Negeri Belanda, untuk melawan Jerman.

Pengumuman itu disampaikan pada hari Jumat siang tanggal 10 Mei 1940. Malam sebelumnya, Negeri Belanda telah diserang oleh Jerman. Berita itu bisa dilacak kembali di Majalah Kajawen, sebuah majalah berbahasa dan beraksara Jawa terbitan edisi 39 tanggal 14 Mei 1940 halaman 519.

Pengumuman lewat majalah ini, karena berbagai pertimbangan ditulis dengan huruf Latin. Padahal majalah ini mayoritas isinya ditulis dengan aksara Jawa. namun demikian bahasa yang digunakan tetap sama, yaitu bahasa Jawa, bahkan bentuknya krama, atau orang awam, menyebutnya bahasa Jawa halus.

Lebih lanjut, Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, yang dijabat oleh Jhr Mr AWL Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyampaikan bahwa Negeri Hindia Belanda adalah otonom, yang bisa menjaga wilayahnya sendiri. Untuk itu, wilayah Hindia Belanda tidak menerima bantuan keamanan dari luar negeri, untuk menjaga seluruh wilayah Hindia Belanda, baik daratan maupun lautan.

Majalah Kajawen edisi 14 Mei 1940 yang memuat darurat perang di pulau Jawa. Repro: Suwandi
Majalah Kajawen edisi 14 Mei 1940 yang memuat darurat perang di pulau Jawa. Repro: Suwandi

Namun demikian, Pulau Jawa ditetapkan sebagai daerah terdampak perang. Untuk itu semua warga Jerman laki-laki yang ada di Pulau Jawa, berumur lebih dari 16 tahun “diamankan”, begitu pula orang-orang yang dicurigai (tertulis: wiwit ing wekdal punika sakapuloan ngriki sadaya katetepaken wonten ing salebeting bebaya perang. Tiyang jaler bangsa Jerman ingkang umuripun langkung 16 taun, sami dipunsingkiraken, dene tetiyang ingkang dipunsujanani, sami dipunkikis kamardikanipun).

Konten Terkait:  Pelestarian Bahasa dan Sastra Jawa di Kabupaten Bantul Melalui Lomba Baca Cerkak

Gubernur Jenderal juga memohon kepada warga Belanda dan bangsa lain yang tinggal di Jawa berkenan membantu pemerintah Hindia Belanda dan diharapkan mematuhi pengumuman ini. Untuk kehidupan sehari-hari diharapkan berjalan seperti biasanya. Lebih detail, silakan baca Majalah Kajawen koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here