Sebuah karya seni sering mengandung gagasan, gambaran situasi dan kondisi tertentu, pemikiran, visi, dan lain-lain yang pada titik singgung tertentu mewakili sebagian atau bahkan keseluruhan pemikiran, sejarah, laku hidup, situasi dan kondisi tertentu pada penikmat karya itu. Hal itu dalam kadar tertentu dialami juga oleh Ipeh (Nur Hanifah), yakni seniman muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jurusan Seni Grafis yang berkarya dan tinggal di Yogyakarta. Ipeh baru saja menggelar pameran karya rupanya (drawing) di Radbase Foundation, Jurug, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, 5-10 Januari 2019 dengan tema Salimah.

Karya-karya Ipeh yang diberi judul/tema Salimah terinspirasi oleh cerita pendek karya Intan Paramadhita yang berjudul Goyang Penasaran. Cerpen ini bagian dari buku berjudul Kumpulan Budak Setan, 2010. Cerpen Goyang Penasaran menampilkan sosok tokoh utama bernama Salimah. Ia penyanyi dangdut yang oleh karena profesinya itu ia harus menghadapi stigma negatif dari masyarakat religius di mana ia hidup.

Bacalah !, 50 x 35 cm, Drawing Pen on Paper, karya Ipeh. Foto: A.Sartono
Bacalah !, 50 x 35 cm, Drawing Pen on Paper, karya Ipeh. Foto: A.Sartono

Dangdut merupakan suatu genre musik rakyat Indonesia dan juga merupakan musik pop tradisional yang merupakan bagian dari akulturasi musik India, Melayu, dan Arab. Sedangkan penyanyi dangdut umumnya berpakaian seksi kala tampil di atas panggung, lebih-lebih dangdut koplo. Pakaian yang seksi ini masih ditambah lagi dengan tarian-tarian yang juga erotis.

Gerbang Emas, 50 x 35 cm, 2016, Drawing Pen On Paper, karya Ipeh. Foto: A.Sartono
Gerbang Emas, 50 x 35 cm, 2016, Drawing Pen On Paper, karya Ipeh. Foto: A.Sartono

Ipeh menampilkan 20 karya drawing di mana keempat belas panil karyanya menggambarkan interpretasi akan narasi cerpen tentang Salimah. Sedangkan enam buah panil karya lainnya menggambarkan pengalaman pribadi sang seniman dimana sang seniman analog dengan kisah hidup tokoh Salimah dalam cerpen di atas. Jika Salimah dihadapkan pada pada stigma negatif karena memilih untuk menjadi seorang penyanyi dangdut, Ipeh mendapatkan stigma negatif karena ia memilih untuk menjadi seorang seniman. Jika Salimah dihujat karena ia memertontonkan tarian erotis dan karena tidak menggunakan hijab, Ipeh dikritik karena menggambarkan visualisasi-visualisasi vulgar dan kritis pada karyanya dan juga karena karena tidak mengenakan hijab.

Konten Terkait:  Penyair Negeri Bahari Bertemu di Tegal
Di Bawah Cahaya Pendar, 50 x 35 cm, Drawing Pen on Paper 2016, karya Ipeh. Foto: A.Sartono
Di Bawah Cahaya Pendar, 50 x 35 cm, Drawing Pen on Paper 2016, karya Ipeh. Foto: A.Sartono

Semua stigma, hujatan, kritik, bahkan cemoohan atas pilihan-pilihan hidup Salimah dan profesinya yang juga analog dengan pilihan hidup dan profesi Ipeh sebagai seniman menjadi hujaman-hunjaman mental yang harus diterima oleh Salimah maupun Ipeh. Tentu, semuanya itu menimbulkan luka dan sakit bagi batin mereka. Hal-hal demikian itu dalam bentuknya yang buram merefleksikan kehidupan pribadinya. Menurut Ipeh, kisah Salimah tampaknya menjadi potret fiktif dari kehidupannya. Potret buram itu barangkali juga bagian dari kehidupan kita sendiri sebagai warga bangsa yang mudah melakukan stigmatisasi, hujat, caci maki, cemooh, hoax, munafik, dan sejenisnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here