Pada malam midodareni, malam menjelang perkawinan antara Seh Amongraga dan Niken Tambangraras, hidangan berupa makanan dan minuman melimpah, mbanyu mili, tak pernah berhenti. Namun hal tersebut tidak menjadikan Seh Amongraga berkenan di hati. Ia tidak tertarik untuk mencicipi makanan yang ada. Ia hanya mengambil secangkir teh, tanpa gula mencecapnya beberapa kali, lalu meletakkan kembali di cawan.

Ia justru tertarik membicarakan ilmu daripada menikmati makanan dan minuman. Kepada kedua adiknya yaitu Jayengwesthi dan Jayengraga, Amongraga mengungkapkan kekecewaannya. Bahwa sesungguhnya yang ia ia inginkan tidak seperti ini. Ia sudah memohon kepada Ki Bayi Panurta dan Nyai Bayi agar penyelenggaraan upacara perkawinan antara dirinya dan Niken Tambangraras tidak usah dibuat besar dan mewah, tetapi sederhana, ringkas dan seperlunya, seperti ditulis dalam serat centhini Pupuh 356 sebagai berikut:

Pesinden karawitan Laras Pertiwi, dari kiri, Titik Ndaru Sriyono, Parinem, Susilo. Tilah dan Iin. Foto: Herjaka
Pesinden karawitan Laras Pertiwi, dari kiri, Titik Ndaru Sriyono, Parinem, Susilo. Tilah dan Iin. Foto: Herjaka

89. Amongraga sêmune awingit
angandika mring ari kalihnya
kadipundi ing karsane
kyai kalawan ibu
dènnya nambut karya nglangkungi
mêmantu rowan-rowan
tingale agupruk
dene kula wus prasambat
nuwun riringkêsan kemawon utami
pasaja karana Lah

90. Sasat sagêd nimpêni ing mami
inggih ta lah de botên kadosa
kyai lan ibu karsane
Jayèngwèsthi umatur
inggih kula sampun ngaturi
aywa ngantos rinowa
dede parêngipun
nanging ibu jêngandika
ingkang adrêng kêdah kurmat sawatawis
bêrkate wong puputra

91. Ciptanipun putrèstri satunggil
inggih botên niyat rowan-rowan
rampunga sêkul salèmpèr
namung niyat majêmuk
lawan brayatipun pribadi
inggih sakulawarga
mung tiyang sadhusun
datan ngaturi uninga
ing priyayi nagari saking satunggil
piyambakan kewala

Karawitan Ibu-ibu Laras Pertiwi dari Candhen Bantul. Foto: Herjaka
Karawitan Ibu-ibu Laras Pertiwi dari Candhen Bantul. Foto: Herjaka

Tetapi sebagai orangtua Ki Bayi tidak bisa segampang itu untuk menuruti calon menantunya. Apalagi Ki Bayi Panurta adalah orang nomor satu di padukuhan Wanamarta yang subur makmur dan asri, maka ketika punya gawe mantu satu-satunya anak perempuan, mau tidak mau akan menjadi hajatan besar. Bagaimana tidak menjadi besar, jika banyak warga dan kerabat yang datang tanpa diundang, tanpa disuruh. Mereka dengan sukarela membantu kerepotan Ki Bayi. Seperti yang terlihat saat malam midodareni, malam sebelum perkawinan Amongraga dan Niken Tambangraras, pendapa padukuhan dipenuhi warga dan kerabat padukuhan yang berjaga hingga larut malam untuk mendoakan demi keselamatan calon pengantin berdua. Tentunya Ki Bayi Panurta berusaha menjamu tamunya dengan layak dan tak berkekurangan. Belum nanti pada saat pengantin diwiwaha, tamu-tamu yang datang akan semakin banyak, dan beragam.

Konten Terkait:  Semar Gugat Mengusir Kuasa Jahat
Ibu-ibu 'pembalung' atau penabuh intrumen gamelan yang demung, saron dan peking dari Laras Pertiwi. Foto: Herjaka
Ibu-ibu ‘pembalung’ atau penabuh intrumen gamelan yang demung, saron dan peking dari Laras Pertiwi. Foto: Herjaka

Malam itu, malam Rabo Pon 18 Desember 2018 suasana midodareni di padukuhan Wanamarta dihadirkan dalam tembang macapat di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, putaran 170. Acara rutin yang diselenggarakan rutin setiap 35 hari sekali ini dipandu olah Angger Sukisno dan dimeriahkan oleh karawitan Laras Pertiwi dari Dusun Kraras Candhen Bantul.

Selain menghadirkan suasana malam midodareni, macapatan malam itu juga menjadi ajang pendadaran bagi anak-anak muda yang sedang belajar macapat di Tembi Rumah selama dua bulan. Mereka adalah mahasiswa jurusan seni tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang berasal dari Kalimantan, Bali dan Yogyakarta.

Angger Sukisno sebagai pemandu acara macapat memeberi senggakan pada gendhing selingan. Foto: Herjaka
Angger Sukisno sebagai pemandu acara macapat memeberi senggakan pada gendhing selingan. Foto: Herjaka

Kehadiran mereka mampu memberikan secercah harapan bagi pecinta-macapat yang lanjut usia khususnya dan seni macapat pada umumnya, bahwa ada sedikit kalangan muda yang mau belajar seni macapat, sehingga kesenian tradisi tersebut dapat diestafetkan pada generasi selanjutnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here