Kisah Anak Buah Westerling yang Merasa Bersalah Sampai Mati

0
86

Dalam perang adalah hal yang ‘biasa’ ketika ada ungkapan ‘membunuh atau dibunuh’. Kalau bukan kita yang membunuh lawan bisa jadi kitalah yang dibunuh lawan. Sering kali pula perang melahirkan kekejaman di luar batas.

Buku ini adalah hasil penelitian yang ditulis oleh Maarten Hidskes, anak dari Piet Hidskes. Piet Hidskes adalah salah seorang anggota Depot Speciale Tropen (DST) atau Depot Pasukan Khusus pimpinan Raymond Westerling. DST adalah korps elit dari Koninklijk Nederlandsh-Indisch Leger (KNIL) atau Pasukan Hindia Belanda. DST bertugas menumpas berbagai pemberontakan di Indonesia dan melakukan pembersihan. Tentu saja istilah pemberontakan ini adalah versi Belanda, sedangkan bagi Indonesia adalah perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Piet Hidskes pada bulan Juni 1946 mendaftarkan diri sebagai sukarelawan DST. Setelah berlatih selama 6 bulan Piet Hidskes ditempatkan di Sulawesi Selatan.

Dalam rangka melaksanakan tugasanya DST melakukan patroli dari satu daerah ke daerah lain di Sulawesi Selatan. Westerling yang merasa diberi wewenang khusus ternyata menggunakan cara-cara yang luar biasa kejam. Pembantaian serta pembunuhan dilakukan tidak hanya terhadap mereka yang ‘bersalah’ karena dianggap melawan pemerintahan Belanda, tetapi juga terhadap mereka yang ‘tidak tahu apa-apa” bahkan terhadap anak-anak. Sebagai contoh, dalam sebuah desa penduduk dikumpulkan, kemudian dipisahkan antara laki-laki, perempuan dan anak-anak. Hanya berdasarkan keterangan seadanya/singkat eksekusi dilakukan. Eksekusi ini dilakukan oleh anggota DST terpilih atas perintah Westerling. Bahkan hanya karena ada sebuah senjata atau benda-benda tertentu yang dianggap berkaitan dengan ‘perlawanan’, sudah dianggap sah keluarga di rumah tersebut dibunuh. Dalam waktu singkat Westerling dengan DST-nya telah melakukan pembakaran dan pembantaian di banyak desa.

Ketika DST ditarik ada beberapa anggotanya yang tertekan bahkan menderita gangguan jiwa atau depresi. Hal ini mungkin terjadi karena mereka kebanyakan masih muda, situasi dan kondisi di lapangan benar-benar pahit, kejam dan mungkin tak terpikir dalam benaknya. Apa yang mereka ‘lakukan’ sebenarnya ada yang bertentangan dengan naluri atau hati sanubari, tetapi tidak bisa dihindari. Perasaan bersalah dan berdosa yang selalu menghantui membuat beberapa dari mereka tidak kuat menanggungnya. Banyak pula yang memilih untuk diam dan membawa kisahnya sampai liang kubur. Salah satunya adalah Piet Hidskes.

Untuk menelusuri jejak ayahnya di Sulawesi Selatan Maarten Hidskes mencari dan meneliti berbagai sumber. Arsip-arsip yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, surat menyurat yang dilakukan ayahnya, bahkan wawancara dengan veteran DST. Wawancara tersebut bukanlah hal yang mudah, karena lebih banyak veteran DST yang ‘tutup mulut’. Apakah ada yang percaya ketika mereka berkisah? Datang sebagai pahlawan pulang dianggap sebagai ‘setengah penjahat’ perang. Ada di antara mereka yang dimintai keterangan telah menjadi terdakwa dalam pengadilan militer.

Judul : Di Belanda Tak Seorangpun Mempercayai Saya. Korban Metode Westerling di
Sulawesi Selatan 1946-1947
Penulis : Maarten Hidskes
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018, Jakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xxix + 297

Sesungguhnya adalah pejuang kemerdekaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here