“Syndrome tidak sama dengan disease.” Demikian kata dr Oe Hong Djien dalam sambutan pembukaan pameran seni rupa karya Putri Pertiwi di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Sabtu siang, 5 Januari 2019. Pameran itu berlangsung hingga 13 Januari 2019.

“Oleh karena itu jangan pernah menstigma orang atau anak yang memiliki syndrome tertentu. Stigmatisasi itu tidak baik. Sindroma adalah sekumpulan gejala-gejala. Gejala-gejala itu agak berbeda dengan gejala-gejala pada umumnya. Jadi bukan penyakit. Jika di dalam undangan pameran yang dikirimkan ke saya tidak ada kata atau kalimat dalam kurung yang berbunyi anak down syndrome, maka saya tidak akan pernah tahu bahwa karya-karya yang dipamerkan itu adalah karya anak yang menderita down syndrome. Karya-karya itu luar biasa,” lanjut Oei Hong Djien.

Putri Pertiwi (tengah berpita) berfoto bersama dalam pembukaan pamerannya di BBY. Foto: A.Sartono
Putri Pertiwi (tengah berpita) berfoto bersama dalam pembukaan pamerannya di BBY. Foto: A.Sartono

Apa yang disampaikan oleh Oei Hong Djien (OHD) dalam kapasitasnya sebagai dokter sekaligus kolektor lukisan kondang seperti menyadarkan semua orang yang hadir dalam pembukaan pameran karya-karya Putri Pertiwi di BBY. Bahwa anak yang memiliki sindroma tertentu, yang dalam hal ini adalah down syndrome (oleh karena gejala ini ditemukan oleh Dr John Longdon Down pada tahun 1866) memang memiliki kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3 yang dapat dikenali dengan melihat manisfestasi klinis yang cukup khas.

Salah satu karya Putri Pertiwi. Foto: A.Sartono
Salah satu karya Putri Pertiwi. Foto: A.Sartono

Sekalipun demikian, Putri Pertiwi sebagai salah satu anak yang mengalami down syndrome toh mampu melahirkan karya-karya yang hebat. Bahkan dalam waktu satu tahun ia mampu melahirkan 90-an karya yang kemudian dipamerkannya di BBY. Pameran ini menjadi momen penting bagi Putri Pertiwi dan semua orang yang berkebutuhan khusus untuk dapat menunjukkan prestasi dan eksistensinya agar dapat diterima dengan baik di tengah-tengah masyarakat.

Konten Terkait:  Kali Pertama Siaran Radio Pribumi Solo Bisa Menjangkau Negeri Belanda Terjadi Tahun 1936

Hal yang tidak kalah penting adalah pendampingan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) seperti Putri Pertiwi ini. Orangtua dan guru bagi ABK menjadi sosok yang sangat diperlukan bagi perkembangannya. Lia, sebagai salah satu guru pembimbing Putri Pertiwi telah mendampinginya selama 1,5 tahun. Ia mengarahkan bakat Putri di bidang seni lukis. Hasilnya memang cukup mengagumkan. Tidak kalah penting tentu ibu dari Putri Pertiwi sendiri yakni Titiek Broto yang mendampingi dan merawat sejak bayi. Tentu dibutuhkan kesabaran, keikhlasan total tanpa henti untuk terus mendampinginya.

Sederetan karya Putri Pertiwi yang dipamerkan di BBY. Foto: A.Sartono
Sederetan karya Putri Pertiwi yang dipamerkan di BBY. Foto: A.Sartono

Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng selaku Rektor UGM yang sedianya akan membuka pameran ini namun berhalangan hadir, yang kemudian salah satu kalimatnya dituliskan di ruang pameran berbunyi,”Saya berharap pameran ini tidak hanya menjadi titik balik bagi Putri Pertiwi, namun juga menjadi momen titik balik bagi lingkungannya.”

Dari sekian karya yang dibuat Putri, ada satu karya yang memiliki latar belakang dengan kesan begitu mendalam. Karya itu diberi tema “Bapak Meninggal”. Karya sketsa itu dibuat Putri pada tahun 2014 atau sekitar satu tahun setelah ayahandanya meninggal. Ekspresi visual yang muncul pada karya ini adalah potret dramatis saat prosesi pemakaman sang ayah sebelum diberangkatkan dari rumah menuju kuburan. Ketika menggambar sketsa ini putri masih ingat betul siapa saja yang mengangkat keranda waktu itu. Teks nama-nama dalam sketsa dibubuhkan oleh ibunya, Titiek Broto, beberapa waktu setelah sketsa dibuat.

Ketika Bapak Meninggal karya Putri Pertiwi Tahun 2014. Foto: A.Sartono
Ketika Bapak Meninggal karya Putri Pertiwi Tahun 2014. Foto: A.Sartono

Putri begitu sayang pada sosok sang ayah, maka ketika ayahnya, Drs Maryadi Broro S MS wafat, Putri begitu kehilangan. Ia sampai opname di rumah sakit hingga tiga kali. Mulai sakit karena demam berdarah, sesak nafas, hingga operasi batu empedu dan hernia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here