Puisi Dalle Dalminto

3
67

Sketsa Gua Pindul

Pindul, cahayamu memantul
Menyeruak di antara semak bergerumbul
Laksana surga yang sempat terkubur
Di kedalaman bukit berkapur

Pindul, warisan sang leluhur
Di lestari sampai titik uzur
Sampai jasad ini kaku terbujur
Memagar agar kau tetap masyhur

Pindul, memesona berjuta mata
Pukau wisatawan merupa takjub
Jadi destinasi alam nan termaktub
Maha karya Sang Pencipta

Pindul, gua seribu sejarah
Yang membalut sederet kisah
Dari terbenturnya pipi sang bocah
Haingga bertemu mata air meruah

Bantul, 2017

Sajak Setia 1

setia, selayaknya tanah
yang akan selalu tabah
meskipun diinjak-injak oleh tapak gelisah
setia itu seperti air
yang akan terus mengalir
walau terantuk batu
akan menunggu pun kumpulkan nafsu
dalam mengusung temu
ditekuk cekuk akan meliuk-liuk
mencari seluk beluk hingga menemui ilir

Bantul, 2018

Sajak Setia 2

setia itu laksana embun
yang menghinggapi pucuk-pucuk daun
meski lenyap ditikam sinar mentari
namun akan selalu kembali
di esok pagi

setia seperti udara
yang mengisi ruang dada
di sela-sela iga berada
dan tentunya tak mengada-ada
meskipun laksa goda datang mengemis dengan mantra-mantra
setia; hanya akan melahirkan sia-sia
dari rahim yang dibuahi rasa tak percaya
pun tanpa harumnya doa-doa

Bantul, 2018

Aku Menamaimu, Penjara Suci

Aku menamaimu penjara suci
Tempat di mana santri-santri membasuh jiwa
Membekali diri dengan akidah agama
Menuntut ilmu sehingga mampu membeda yang semu
Pun juga memurnikan perilaku, pikiran, dan hati
Menjelmakan ruh beraroma wangi
Yang berkarakter, berkepribadian Qur’ani
Dengan ditandai berkilaunya nurani
Putih, selayak disinari cahaya surgawi
Memberi terang pada langkah dalam menjelajah putaran hari
Agar lurus dan searah
Sampai nanti di penahbisan menuai jannah

Penjara suci, tempat mengasah batin menjadi licin
Menggembleng moral supaya berakal
Merakit ilmu-ilmu tauhid
Lalu mampu menggumpalkan dedoa ke langit
Sehingga terbentuk insan madani
Yang mengeja wantah akhlakulkharimah

Bantul, 2018

Desemberku Basah

Hujan deras mencurah
niat dan pengharapan goyah
disiram air bah
hanya sekeping impian indah

Desemberku basah
kuncup pun enggan bermekaran
tergenang di samping pelataran
layu, nyaris pecah dipaksa merekah

Istanaku terapung
mimpiku terbang membubung
air mata jatuh tak terbendung
jiwa-jiwa bingung terkungkung

Desemberku basah
sepetak lahan sawah bubrah
padi, palawija hidup tak bergairah
resah buncah asa tinggal sebelah

Pundong, 2017

Dalle Dalminto, seorang penikmat dan pecinta puisi yang lahir di Kota Geplak (Bantul), 5 Februari. Pria berkaca mata, dengan nama asli Dalminto, itu tinggal di Dusun Bongsren, RT 02, Gilangharjo, Pandak, Bantul, Yogyakarta, 55761. Ada beberapa karyanya tersebar di beberapa antologi puisi bersama. Di antaranya; Kunanti di Kampar Kiri (HPI Riau 2018), Festival Seni Multatuli 2018 Kab. Lebak, Contributor The 2nd ASEAN PoetryWritingCompetition 2018, Juara 1 Antologi Puisi Selembar Catatan Rindu (Azizah Publishing). Antologi Geguritan “Weling Sinangling”, Disbud Yogyakarta 2018. Adapun ‘Catatan Langit’ merupakan kumpulan puisi solo yang pertama dia. Selain sibuk dalam dunia imajinasi, sampai saat ini ia juga menyibukkan diri menjadi Pegawai Harian Lepas (PHL) di Stadion Sultan Agung Bantul. Dapat bertegur sapa dan mengenalnya dijejaring sosial FB dengan akun Dalle Doel, ataupun melalui email: [email protected] Juga bisa dihubungi dengan whatsapp melalui nomor: 081903713166.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here