Pidato Kebudayaan Dikemas Seperti Monolog

0
101
Prof. Dr Yudiaryani, M.A. Foto: Oddi
Prof. Dr Yudiaryani, M.A. Foto: Oddi

Rasanya ini memang satu pertunjukan, bukan sekadar pidato kebudayaan, atau bisa disebut sebagai pidato kebudayaan yang dikemas sebagai pertunjukan, sehingga perlu berinteraksi dengan musik, dan musiknya pun jenis musik eksperimental karya Memet Chairul Slamet, bukan jenis musik pop yang menghibur.

Adalah Prof Dr Yudiaryani MA, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang memberikan pidato kebudayaan untuk memperingati Ulang Tahun Teater Alam ke-47, Kamis 3 Januari 2019 di Gedung Societet Taman Budaya, Jl Sri Wedari 1, Yogyakarta. Mbak Yudi, demikian panggilannya, membawakan judul ‘Melacak Jejak Kreativitas Seni, Membangun Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia”.

Yudi menempatkan teater khususnya, dan kreativitas seni umumnya dalam konteks kebangsaan. Dari konteks ini, ia melacak sejarah teater yang agak jauh, yang kemudian dibingkai dalam kreativitas seni, dan ia sadar, bahwa seni tidak otonom, ia selalu berkait dengan konteks sesuatu yang lebih luas dalam hal ini kebangsaan.

Mungkin karena penyelenggara pidato kebudayaan adalah orang-orang teater, sehingga perlu dikemas agar pidato tidak membuat jenuh sebagaimana layaknya pidato. Bahkan penampilan Yudi dalam pidato seolah seperti sedang monolog. Yudi mengenakan kostum seolah seperti sedang pentas, dan sebelum pidato penampilan pantomim dari Jemek Supardi seperti memberi isyarat, bahwa ini bukan sekadar pidato, tetapi gabungan dari dua ‘file’, yakni pidato dan pertunjukan.

Memet Chairul Slamet. Foto: Oddi
Memet Chairul Slamet. Foto: Oddi

Setting panggung memang tidak dibuat podium layaknya satu ruang pidato, melainkan satu ruang pertunjukan. Tata lampu menghiasi panggung, dan tempat pidato disediakan satu kursi dan satu mikrofon dan satu panggung untuk berdiri dan satu mikrofon. Memet mengolah musik dan Yudi masuk ke panggung, seolah memulai pentas, dan musik terdengar lirih, Yudi mulai mengawali pidatonya:

“Perjalanan panjang melacak jejak bentuk teater primitif menghadirkan sebuah lanskap kultur perkembangan teater dari sebelum zaman kejayaan teater Yunani kuno hingga teater masa kini. Terbentang 2500 tahun sejarah teater dan drama yang tidak dapat dilacak jejaknya. Namun, pengetahuan kita yang sedikit tentang teater dan drama secara perlahan memperoleh bentuknya pada teater Yunani dan Romawi”.

Demikianlah, Yudi melihat pertumbuhan teater tidak ahistoris. Sejenak ia berhenti berpidato, dan Memet menghidupkan musik, seolah sedang merespon apa yang disampaikan Yudi. Dalam pidato, seringkali Yudi tidak hanya membaca teks, tetapi juga mengekspresikan melalui tangan, atau mimik muka, bahkan sambil duduk kaki menghentak panggung sehingga terdengar suara. Ini menunjukkan, Yudi sadar betul bahwa pidatonya dikemas dalam satu pertunjukan, dan musik dari Memet terus menghidupkan pertunjukan pidato.

Jemek Supardi. Foto: Facebook Puntung
Jemek Supardi. Foto: Facebook Puntung

Dalam konteks kreativitas seni, atmosfir dari pertumbuhan teater, Yudiaryani melihat pentingnya pendidikan, bahkan dia melihat perlunya paradigma baru Pendidikan Nasional, yang akan menghasilkan bangsa yang cerdas, kompetitif, ulet dan tangguh. Dalam konteks ini, Yudi menutup pidatonya dengan mengatakan:

“Pendidikan seni di Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terus menerus dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan peran aktif nilai-nilai luhur budaya bangsa yang terbukti mampu menjadi tempat ziarah sekaligus membawa peserta didik berhasil memasuki lorong dari masa lalu, masa kini hingga ke arah masa depan dengan kreativitas yang progresif dan dinamis. Pergeseran paradigma seni yang terus menerus terjadi menjadi cara untuk membaca pendidikan baik di dunia maupun di Indonesia. Pergeseran paradigma seni menginspirasi terjadinya pergeseran paradigma pendidikan di Indonesia. Diharapkan kemudian paradigma baru menghasilkan pergeseran mind-set peserta didik dalam rangka menguatkan nilai-nilai akhlak mulia sebagai nilai kebangsaan Indonesia”. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here