Ujian tari yang diwujudkan dalam kesemarakan pesta tari tentu punya nuansa atau suasana yang berbeda. Itulah yang dilakukan oleh Sanggar Tari Anak Tembi (STAT) di bawah asuhan Made Dyah Agustina yang akhir-akhir ini lebih populer dengan nama samarannya, Inem. Nuansa ujian ini menjadi benar-benar seperti pesta tari yang juga dimeriahkan dengan kehadiran para tamu, relasi, dan pemerhati. Baik itu dari berbagai sanggar, seniman, budayawan, orang tua siswa dan kerabat, sponsor, pemerintah, pendukung, atau bahkan orang yang menyempatkan diri untuk mampir.

Kehadirnya berbagai outlet yang menjual aneka makanan/jajanan atau kerajinan di sekitar pendapa menambah kemeriahan acara. GKR Hemas yang sedianya hadir namun terhalang oleh kehabisan tiket pesawat dari Batam, bisa memberikan pesan dan sambutan melalui video call, yang memberikan semangat bagi semua yang hadir terutama para penari yang siap tampil di Tembi Rumah Budaya, Minggu, 16 Desember 2018.

Salah satu kelompok peserta Pesta Tari Nusantara sedang beraksi. Foto: A.Sartono
Salah satu kelompok peserta Pesta Tari Nusantara sedang beraksi. Foto: A.Sartono

Pesta Tari Nusantara 2018 yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya dengan STAT-nya itu diikuti oleh 300 orang penari dari delapan sanggar tari. Suasana pesta sungguh muncul dan menggembirakan hati semua orang.

Anak-anak yang mengikuti ujian tari merasakan bahwa ujian tari yang diselenggarakan dalam kemasan pesta itu membuat mereka tidak tegang atau terbebani. Intinya, semua dijalani dengan mengalir saja. Enjoy aja. Persoalan perolehan nilai itu menjadi bukan sebagai sesuatu yang bersifat “harus” dengan tekanan yang mahaberat. Namun menjadi persoalan yang memang harus dicapai dengan mengalir, dengan kesungguhan dalam berlatih, dan dalam pertunjukan atau pementasan yang menggembirakan, tanpa beban.

Tari Cenderwasih ikut memeriahkan Pesta Tari Nusantara di Tembi. Foto: A.Sartono
Tari Cenderwasih ikut memeriahkan Pesta Tari Nusantara di Tembi. Foto: A.Sartono

Hal ini dirasa perlu mengingat berkesenian bukanlah semacam latihan militer yang serba kaku dan tegang. Di sini adalah belajar dengan nuansa kegembiraan. Semacam bermain namun di dalamnya kita belajar dan memperoleh sesuatu. Bukan semata-mata kemahiran atau kemampuan dalam olah tubuh untuk menari, namun lebih dari itu. Sebab di dalam tari ada aspek lain yang turut membangunnya menjadi konstruksi suguhan tari yang lengkap. Oleh karenanya di dalamnya ada aspek tat arias, tata busana, tata iringan, di samping tentu saja, tata gerak.

Konten Terkait:  Ketoprak Cepet: Cepat, Lucu, dan Segar
Tari Panji Semirang dalam Pesta Tari Nusantara di Tembi 2018. Foto: A.Sartono
Tari Panji Semirang dalam Pesta Tari Nusantara di Tembi 2018. Foto: A.Sartono

Suasana pesta dalam ujian tari ini juga membuat semua orangtua murid ikut menikmatinya. Mereka semua berkumpul untuk melihat kemampuan anak-anak mereka. Bukan untuk menilai dan memilah siapa yang terunggul, namun lebih pada melihat sampai sejauh mana perolehan si anak dalam belajar. Perolehan selalu didapatkan dan pasti. Hanya memang, ada gradasi. Itu pun bukan harga mati sebab belajar tari hakikatnya belajar tentang memahami banyak hal. Bukan hanya gerak tubuh, namun juga tata krama, toleransi, kebersamaan, kerja sama, kekompakan, kepekaan memahami dan merasakan estetika sekaligus etika.

Hadirnya sekian penari dari sanggar lain menjadi penguat dari rasa kegembiraan itu. Betapa sebuah pesta akan menjadi begitu hangat jika dihadiri oleh banyak tamu. Demikian juga dengan ujian tari STAT ini yang memang dihadiri banyak tamu. Kehadiran itu boleh dikatakan sebagai bentuk dukungan. Setidaknya adalah dukungan moral. Hal itu bukannya tidak bernilai, namun sungguh sarat nilai yang tidak bisa dihitung dalam kalkulasi matematis. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here