Menjalin persahabatan adalah tema yang diangkat dalam pameran seni rupa Jogjakart #2, yang berlangsung pada 23-29 Desember 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Tema ini menjadi signifikan oleh karena di dalamnya terjadi perjumpaan antarperupa yang tidak saja berasal dari lingkup Kota Yogyakarta, melainkan juga kota-kota lain, seperti Jakarta, Magelang, Klaten, Solo, Surabaya, Muntilan, Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, dan Banyuwangi. Selain itu datang juga pelukis atau perupa dari Tulungagung, Blitar, Boyolali, Purwodadi, Mojokerto, Banten, Rembang, Cilacap, Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Temanggung, dan Bandung.

Suasana pameran Jogjakart #2 di Taman Budaya Yogyakarta. Foto: A.Sartono
Suasana pameran Jogjakart #2 di Taman Budaya Yogyakarta. Foto: A.Sartono

Selain perupanya berasal dari berbagai kota di seluruh Indonesia, usia perupanya juga beragam. Mulai usia anak-anak hingga usia kakek-nenek. Usia anak-anak diwakili oleh Tores Eguen Javan Wistara (8 tahun) dan usia kakek nenek mungkin diwakili oleh Kartika Affandi. Pameran seni rupa yang menghadirkan 85 karya ini dibuka oleh Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi.

Dalam sambutannya Heroe Purwadi menyampaikan bahwa kami (Pemerintah Kot Yogyakarta) sangat bangga dan akan terus memberikan dukungan untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota yang berjiwa seni. Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan menjalin kerja sama dengan para seniman guna menjadikan Kota Yogyakarta sebagai “ibu” dari para seniman muda dan seniman profesional. Heroe Poerwanto juga berharap Yogyakarta bisa memberikan fasilitas yang memadai guna meningkatkan potensi para seniman tersebut.

Pantai Watu Karung, 120 x 100 cm, AOC, 2018, karya Kartika Affandi. Foto: A.Sartono
Pantai Watu Karung, 120 x 100 cm, AOC, 2018, karya Kartika Affandi. Foto: A.Sartono

Tores yang merupakan peserta termuda dalam pameran ini ibarat batu mulia telah terlihat kualitasnya materialnya. Tinggal digosok dengan baik maka kilau kerlapnya akan semakin memancar seiring perjalanan waktu. Setidaknya Tores telah mengantongi 600-an piagam penghargaan dan piala di rumahnya. Semuanya itu ia dulang sejak berusia 3 tahun. Tentu hal ini menjadi talenta yang luar biasa baginya dan aset seni budaya bangsa Indonesia yang menjanjikan di masa yang akan datang. Bakat Tores menurun dari ayahnya yang juga seorang pelukis. Hal itu diperdalam lagi dengan berguru pada banyak guru.

Anganku, 200 x 100 cm, instalasi mix media, 2018, karya Wiwiek Poenk. Foto: A.Sartono
Anganku, 200 x 100 cm, instalasi mix media, 2018, karya Wiwiek Poenk. Foto: A.Sartono

Pameran Jogjakart #2 ini tahun 2018 mampu melibatkan jumlah peserta dua kali lipat ini jika dibandingkan dengan Jogjakart #1 tahun 2017 yang melibatkan 45 orang perupa. Panitia berharap bahwa di tahun-tahun mendatang akan bisa melibatkan lebih banyak lagi seniman mengingat banyak perupa (seniman) yang pada kenyataannya sering merasa kebingungan untuk memamerkan karyanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here