Berdasarkan hasil identifikasi gugusan bangunan Pesanggrahan Rejawinangun (Warungboto) terbuat dari susunan batu bata tanpa struktur kayu. Kompleks bangunan ini terdiri atas pagar keliling dan bangunan pesanggrahan. Pada saat masih digunakan sebagai pesanggrahan milik sultan, Pesanggrahan Rejawinangun didirikan pada sisi barat dan sisi timur Sungai Gajahwong dengan memanfaatkan undak-undakan sungainya. Antara kompleks pesanggrahan sisi barat dan timur sungai memiliki sumbu imajiner yang membujur arah barat-timur.

Kompleks bangunan sisi barat Sungai Gajahwong sampai saat ini masih meninggalkan bukti fisik yang cukup banyak. Sisa bangunan di sisi barat sungai secara administratif berada di Kelurahan Warungboto, oleh karenanya peninggalan Pesanggrahan Rejawinangun ini dinamakan Umbul Warungboto.

Pesanggrahan Rejawinangun di sisi barat Sungai Gajahwong terdiri atas bangunan inti yang berada di dalam pagar keliling serta terdapat ruang utama yang merupakan pusat kesakralan. Bangunan tersebut diindikasikan sebagai bangunan pengimaman. Selain itu terdapat dua buah kolam yang berbentuk bundar dan segi empat. Kedua kolam tersebut berdinding bata dengan perekat dan lepa yang terbuat dari campuran batu bata halus (giling), pasir, dan kapur (gamping) yang sering juga disebut bligon.

Pusat umbul atau mata air di Pesanggrahan Rejawinangun yang sekarang tidak lagi mengeluarkan air. Foto: A.Sartono
Pusat umbul atau mata air di Pesanggrahan Rejawinangun yang sekarang tidak lagi mengeluarkan air. Foto: A.Sartono

Kolam pertama terletak di bagian barat berbentuk bulat, dengan sumber airnya di bagian tengah. Kolam kedua berada di sebelah timur kolam pertama dengan sumber dari kolam pertama yang dialirkan melalui sebuah saluran terbuka yang menghubungkan kolam pertama dan kedua. Kedua kolam tersebut dikelilingi oleh bangunan bertingkat dengan sejumlah ruangan berjendela berbentuk persegi panjang. Selain itu, terdapat bangunan sayap utara dan selatan yang dirancang secara simetris yang terdiri dari beberapa kamar dan juga terdapat bangunan pendapa.

Bangunan Pesanggrahan Rejawinangun di sisi timur Sungai Gajahwong berdiri di atas permukaan tanah yang lebih rendah dibandingkan bangunan di sisi barat sungai. Pada sisi timur sungai tersebut terdapat bangunan kolam berbentuk ā€œUā€ yang berdinding bata dengan ukuran panjang 6 m, tinggi 3 m dan tebal 60 cm. Pada salah satu sudut kolam tersebut terdapat sisa pot bunga berukuran besar dan terbuat dari batu bata. Di bagian utara dan selatan bangunan masing-masing terdapat patung Manuk Beri.

Dua buah lorong di Situs Pesanggrahan Rejawinangun. Foto: A.Sartono
Dua buah lorong di Situs Pesanggrahan Rejawinangun. Foto: A.Sartono

Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti mengenai pemanfaatan kompleks bangunan di sisi timur sungai. Akan tetapi hingga tahun 1936 masih terlihat jelas bahwa kompleks bangunan sisi timur terbagi menjadi tiga kompleks yang membujur utara-selatan dengan pagar keliling serta dihubungkan oleh jalan berpagar selebar kurang lebih 30 meter.

Berdasarkan catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, penelitian dan pendokumentasian situs ini telah dilakukan sejak zaman Belanda. Pada tahun 1936 Oudheidkundige Dienst (OD) pernah melakukan pembuatan peta gambar rekonstruksi dan dokumentasi foto atas situs ini. Kegiatan itu selesai pada tahun 1937. Hasil dari OD ini kemudian ditindaklanjuti dengan perbaikan darurat oleh Dienst der Zelbestuurweken te Jogjakarta (dinas pekerja kotapraja) dengan petunjuk dari OD. Tahun 1981 diadakan pula peninjauan dan pendokumentasian kembali terhadap Situs Warungboto. Hal dilakukan dalam kaitannya dengan usaha pemeliharaan dan perlindungannya. Kegiatan ini dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Yogyakarta (sekarang Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta). Hal itu terus ditindaklanjuti dengan kegiatan pemetaan di tahun 1982 dan studi teknis di tahun 2007.

Sisa patung Manuk Beri di sisi selatan-timur Situs Pesanggrahan Rejawinangun. Foto: A.Sartono
Sisa patung Manuk Beri di sisi selatan-timur Situs Pesanggrahan Rejawinangun. Foto: A.Sartono

Pascagempa 27 Mei 2006 yang merusak sebagian besar komponen Pesanggrahan Warungboto, BPCB DIY kemudian melakukan pemugaran bagian pendapa di tahun 2009. Selain itu, di tahun 2015 BPC DIY melakukan pemugaran di bagian depan dari situs ini (bagian pengimaman). Tahun 2016 BPCB DIY melakukan rehabilitasi pada bangunan tengah (umbul), bangunan sayap selatan, bangunan bertingkat, dan pagar. (Selesai)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here