Wayang Timplong, Khas Daerah Nganjuk

0
56

Wayang adalah salah satu produk budaya yang mengalami perjalanan sejarah cukup panjang. Wayang dari masa ke masa selalu mengalami perkembangan dan perubahan baik dalam bentuk, teknik permainan dan jenis lakonnya. Salah satunya adalah wayang timplong.

Wayang timplong adalah wayang khas dari kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang tidak ditemukan di daerah lain. Pembuatnya Mbah Bancol dari Dusun Kedung Bajul, Desa Jetis, kecamatan Pace sekitar tahun 1910. Mbah Bancol membuat wayang timplong berdasarkan ilham dari wayang klithik yang sudah lebih dulu ada.

Bentuk wayang timplong pipih, dua dimensi, terbuat dari kayu. Kayu yang dipilih berserat kuat, ringan, mudah ditatah tetapi tidak gampang patah. Juga tidak gampang dimakan bubuk (hama kayu) dengan tujuan agar tahan disimpan lama. Misal kayu mentaos dan sawo. Tetapi khusus untuk tangannya terbuat dari kulit binatang misal kerbau, agar elastis dan mudah digerakkan. Cerita wayang timplong bersumber pada cerita Panji.

Ciri khas wayang timplong terletak pada musik pengiringnya yang berupa gamelan. Gamelan tersebut terdiri dari sebuah kendang, sebuah gambang bambu, sebuah kempul dan tiga buah kenong bernada 1, 5, 6. Bunyi plong dihasilkan dari kenong, sehingga pertunjukan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan wayang timplong.

Dalam pertunjukan, kelir atau layar diletakkan di sebelah kanan dan kiri, sedangkan di bagian tengah terbuka. Pada bagian kelir inilah wayang ditata atau disimping. Dalam wayang timplong satu tokoh wayang dapat digunakan untuk memerankan beberapa tokoh dalam lakon cerita yang berbeda. Gunungan yang dipakai terbuat dari rangkaian bulu merak yang ditancapkan di tengah-tengah. Fungsinya sebagai pembuka dan penutup pertunjukan, juga sebagai pengganti/pembatas adegan. Bahasa yang digunakan bahasa Jawa ngoko.

Wayang timplong sebagai seni pertunjukan (tontonan/hiburan dan tuntunan) biasa digelar dalam hajatan pernikahan, sunatan, nadar dan lain-lain. Juga digunakan dan merupakan bagian penting dari upacara adat, seperti bersih desa dan ruwatan. Hanya saja dalam acara ruwatan sang dalang dipilih yang benar-benar mumpuni baik lahir maupun batin.

Konten Terkait:  Kampus Biru di Bulan Purnama

Wayang timplong ini mengalami masa keemasan pada tahun 1970-1980-an. Banyaknya pilihan hiburan membuat wayang timplong tersisih dari waktu ke waktu.

Judul                   : Wayang Timplong. Bentuk Pertunjukan dan Pelestarian
Penulis                 : Sri Retna Hastuti, Yustina Hastrini N
Penerbit               : BPNB, 2018, Yogyakarta
Bahasa                : Indonesia
Jumlah halaman   : xii + 106

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here