Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam yang besar di Indonesia. Organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini lahir pada 18 November 1912 di Kauman Yogyakarta. Dalam perjalanan waktu, Muhammadiyah selalu mengadakan kongres secara rutin. Salah satunya adalah pelaksanaan Kongres Muhammadiyah ke-17 yang dibuka pada 18 Februari 1928 di Yogyakarta. Kongres (sekarang, istilahnya muktamar) yang diselenggarakan pada saat itu termasuk kongres yang sangat besar, karena dihadiri banyak peserta dan simpatisan.

Lomba merajut kaum wanita dalam kongres Muhammadiyah ke-17 di Yogyakarta tahun 1928. Repro: Suwandi
Lomba merajut kaum wanita dalam kongres Muhammadiyah ke-17 di Yogyakarta tahun 1928. Repro: Suwandi

Pada kongres tersebut juga dibangun sebuah rumah sangat besar untuk menampung para peserta kongres. Bahkan dikatakan banyaknya peserta yang hadir, ibaratnya gelombang laut yang naik ke daratan (tertulis: pepindhanipun ngantos kados ombaking seganten minggah ing dharatan). Demikian dikabarkan oleh Majalah Kajawen, pada edisi 18 tanggal 3 Maret 1928 halaman 346—348.

Lomba gelungan kaum wanita dalam kongres Muhammadiyah ke-17 tahun 1928 di Yogyakarta. Repro: Suwandi
Lomba gelungan kaum wanita dalam kongres Muhammadiyah ke-17 tahun 1928 di Yogyakarta. Repro: Suwandi

Lebih lanjut, majalah yang ditulis dengan bahasa Jawa dan aksara Jawa tersebut menggambarkan pula, pada pelaksanaan Kongres Muhammadiyah ke-17 itu juga digelar lomba-lomba unik untuk kaum ibu dan wanita Aisyiyah. Satu di antaranya adalah lomba “gelungan” atau mengikat rambut kepala. Tujuan dari lomba ini, agar kaum wanita bisa terampil merias diri sehingga terlihat cantik. Sebab, apabila wanita kurang terampil gelungan, dianggap mengurangi kecantikannya.

Lomba lainnya adalah lomba merajut, agar kaum wanita punya ketrampilan sehingga bisa mandiri. Lomba ketiga adalah lomba “lampah dhodhok” atau berjalan jongkok. Tujuannya untuk melatih sopan santun dan keluwesan. Selain itu juga dipamerkan hasil karya kerajinan dari para peserta kongres.

Halaman sampul majalah Kajawen tahun 1928 yang mewartakan kongres Muhammadiyah ke-17 di Yogyakarta tahun 1928. Repro: Suwandi
Halaman sampul majalah Kajawen tahun 1928 yang mewartakan kongres Muhammadiyah ke-17 di Yogyakarta tahun 1928. Repro: Suwandi

Pada kongres tersebut, juga dihadiri oleh para pejabat lokal dan para pembesar Hindia Belanda, di antaranya adalah Residen Yogyakarta (tertulis: ingkang rawuh nggegirisi, Tuwan Residen tuwin para luhur Jawi ingkang rawuh inggih kathah). Selengkapnya silakan baca di Majalah Kajawen yang menjadi koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. (*)

Konten Terkait:  Dongeng Sebagai Sarana Pendidikan untuk Anak-anak

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here