Jika musik Batak sudah berdendang, maka orang-orang Batak pun berkumpul, dan manortor (melakukan tari tor-tor) dan marende (bernyanyi). Begitulah yang terjadi pada saat D’Bamboo Musik Batak, sebuah kelompok musisi muda asal Medan yang merantau ke Jakarta, menggelar pertunjukan yang bertajuk Satu Hari di Danau Toba pada Minggu, 16 Desember 2018 di Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia Lt. 8, Jakarta. Dalam pertunjukan tersebut, D’Bamboo Musik Batak menghadirkan pertunjukan musik dengan menggunakan idiom musik tradisi Batak dan popular.

D’Bamboo membawa penonton ke dalam suasana keindahan dan jernihnya Danau Toba. Antusiasme penonton sudah terjadi sejak awal mereka memulai pertunjukan dengan menyuguhkan irama uning-uningan khas Batak. Setelah itu mereka memperkenalkan lagu-lagu tradisi Batak seperti Mangundung, Tao Na Tio, Horbo Papung, Aut Boi Nian, yang berhasil membuat penonton yang memiliki ikatan suku yang sama pun bernostalgia dan turut Marende.

Tidak hanya lagu tradisi Batak saja, mereka juga membawakan lagu-lagu dari daerah-daerah di berbagai penjuru Nusantara yang dibuat menjadi medley yaitu ‘Kicir-Kicir’ dari Betawi, ‘Manuk Dadali’ dari Jawa Barat, ‘Ampar-Ampar Pisang’ dari Kalimantan, ‘Rasa Sayange’ dari Sulawesi, ‘Gemu Fa MI Re’ dari NTT, dan ‘Yamko Rambe Yamko’ dari Papua, sebelum akhirnya kembali lagi ke Sumatera Utara dengan ‘Sik Sik Sibatmanikam’, yang diaransemen kembali menggunakan idiom khas dari berbagai alat musik tradisi Batak; yang langsung disambut riang semua penonton dan turut menyanyikannya.

Penonton manortor
Penonton manortor

Di tengah pertunjukan, tidak hanya sekali penonton bertanya “bolehkah kami manortor ? kami sudah tidak sabar ini bang,” tanya seorang penonton. Namun sang biduan, sepertinya menahan diri untuk tidak lansung memberikan lagu untuk manortor dan memberikan kejutan-kejutan lagu berikutnya.

Lagu Dos do Nangkok na yang berarti apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai ini yang menurut sang vokalis adalah lagu yang paling sulit dihapal oleh orang Batak pun berhasil dibawakan dengan baik. Kemudian diteruskan lagu Si Hutur Sanggul, dan Sing Sing So pun turut dihadirkan, yang lagi-lagi membuat penonton turut bernyanyi dan bernostalgia.

Setelah lagu Sing Sing So dimainkan, sepertinya penonton pun sudah tidak sabar manortor. Sang musisi pun secara harmoni langsung membunyikan irama khas yang mengajak penonton untuk langsung manortor. Seketika itu juga suasana menjadi pecah, penonton pun langsung beranjak dari tempat duduk untuk manortor, dan menyiapkan uang di jari-jari mereka sambil turut melestarikan budaya sawer (tradisi memberikan uang kepada musisi sebagai bentuk apresiasi mengiringi manortor).

Sepertinya tak ingin usai begitu saja, setelah manortor, DBamboo memainkan Bulani Do Gabe Saksi dengan irama yang lebih lambat seolah memberikan ruang untuk beristirahat sebelum mereka kembali mengajak penonton untuk manortor dengan membawakan medley lagu anak medan, Jamila, sihol sihol, sebagai penutup pertunjukan DBamboo.

Penonton memberikan sawer
Penonton memberikan sawer

D’Bamboo Musik Batak di bentuk oleh 5 orang musisi muda Batak yaitu Bonggud T Sidabutar (vokal, gitar, sulim), Azwin harefa (taganing /Gondang Batak, vokal), Michael B Sitohang (sulim, sarune, saxophone), Amostro Silaban (hasapi, vokal), Doni Siregar (keyboard). Harapannya mereka ingin melestarikan serta mengangkat kembali eksistensi musik tradisional Batak ke kancah nasional maupun internasional dengan menggabungkannya dengan musik modern, agar kemasannya lebih menarik. Mereka juga berharap generasi muda bangsa tertarik pada musik tradisional dan tidak lupa dengan budayanya sendiri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here