Sebagai penanda dimulainya proses pementasan teater bertajuk “Nyanyian Sunyi Revolusi” yang akan dilaksanakan 2-3 Februari 2019 di Gedung Kesenian Jakarta, Titimangsa Foundation mengadakan acara syukuran di kantor Titimangsa Foundation di bilangan Jakarta Selatan, Kamis, 13 Desember 2018.

“Hari ini, kita mengadakan syukuran sebagai penanda dimulainya proses ini. Mas Is (Iswadi Pratama/Sutradara Nyanyian Sunyi Revolusi), saya titipkan anak-anak di tangan Mas. Saya yakin Mas akan mengobarkan semangat anak-anak dengan menggelora,” ujar Produser Titimangsa Foundation, Happy Salma sambil memberikan nasi kuning kepada Iswadi.

Acara syukuran tersebut berlangsung cepat dan hangat. “Nyanyian Sunyi Revolusi” merupakan sebuah pementasan teater yang berkisah tentang Amir Hamzah. Ia adalah salah satu keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat yang pada masa Hindia Belanda terletak di Sumatera Utara. Selain menjadi penyair, Amir Hamzah juga dikenal sebagai salah seorang yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

“Saya penggemar dari puisi-puisi Amir Hamzah. Puisinya penuh dengan kesenduan, tetapi juga kuat mengungkapkan banyak lapisan baru dalam karya puisi pada zaman itu,” ucap Happy. Amir Hamzah memiliki peran besar dalam lahirnya Indonesia ini. Saat masih sekolah di AMS Solo, lanjut Happy, Amir Hamzah sudah aktif bersama teman-temannya dalam berbagai perkumpulan pemuda seperti Jong Sumatera dan juga tergabung dalam perkumpulan ‘Indonesia Moeda’ yang menyuarakan kesadaran nasionalisme untuk melawan kolonialisme Belanda.

Happy Salma Sebagai Produser Nyanyian Revolusi. Foto; Baharudin
Happy Salma Sebagai Produser Nyanyian Revolusi. Foto; Baharudin

Kendati demikian, tambah Happy, jalan hidup Amir sangatlah tragis. Kesedihan cinta yang diputuskan oleh politik kolonial yang bersembunyi di balik adat, juga kematiannya yang menyedihkan di tengah revolusi kemerdekaan.

“Nyanyian Sunyi Revolusi” menceritakan kisah Amir Hamzah dalam hubungannya dengan percintaan terhadap manusia dan negara. Semasa Amir menempuh pendidikan di Solo, ia menjalin kasih dengan seorang putri Jawa, Iliek Sundari. Di tengah kemesraan mereka, Amir kehilangan ibunya dan disusul ayahnya setahun kemudian. Biaya studinya lalu ditanggung oleh pamannya, Sultan Mahmud.

Paman Amir yang juga raja kesultanan Langkat itu sejak awal tidak menyukai aktivitas Amir di dunia pergerakan. Apa yang dikerjakan Amir dianggap bisa membahayakan kesultanan. Untuk menghentikam aktivitas Amir di dunia pergerakan, ia memanggil pulang Amir ke Langkat untuk dinikahkan dengan putrinya, Tengku Puteri Kamaliah. Amir bisa saja menolak, tetapi ia sadar betapa dirinya telah berhutang budi pada Sultan Mahmud.

Amir dan Iliek akhirnya menyerah menerima kenyataan yang cinta dan kasihnya harus berakhir meski keduanya masih kuat saling mencintai. Pernikahan Amir Hamzah dengan Tengku Puteri Kamaliah adalah pernikahan yang dipaksakan demi kepentingan politik. Keduanya terpaksa menjalani pernikahan itu meski saling tahu bahwa masing-masing tak saling mencintai.

Kerinduan dan kehilangan Amir pada Iliek tetap kuat dan membekas. Sementara diam-diam Istri Amir, Tengku Puteri Kamaliah mengetahui kisah cinta kasih Amir dan Iliek. Ia turut merasakan kesedihan cinta yang tak sampai itu. Pada putrinya, Tengku Tahura ia berniat mengajal Iliek ke Mekkah untuk naik haji bertiga bersama Amir. Bahkan, jika Amir tetap ingin menikahi Iliek, ia rela.

Tapi, sebelum semua tercapai, suasana Revolusi Kemerdekaan membawa ketidakpastian politik yang menyulut kerusuhan di seluruh Langkat. Atas hasutan segolongan laskar rakyat dengan agenda politik mereka, meletuslah kerusuhan sosial. Istana Langkat diserbu dan dijarah. Begitu juga dengan nasib Amir. Ia diculik, ditahan dan disiksa di sebuah perkebunan, lalu dipenggal. Seperti perpisahan Amir dan Iliek, juga pernikahan dengan Tengku Puteri Kamaliah yang penuh kepentingan politik kolonial, demikian pula dengan kematiannya, yang diwarnai kekacauan dan kepentingan politik.

Seluruh Pemain dan Pendukung Nyanyian Revolusi. Foto: Baharudin
Seluruh Pemain dan Pendukung Nyanyian Revolusi. Foto: Baharudin

Dalam melakukan riset pementasan “Nyanyian Sunyi Revolusi”, Happy bersama tim Titimangsa Foundation menghabiskan waktu kurang lebih dua tahun. Salma menambahkan, pementasan ini lebih banyak diambil dari buku karya Nh Dini berjudul “Amir Hamzah, Pangeran dari Sebrang”.

Happy mengungkap, kisah hidup yang diceritakan sangat apik oleh Nh Dini. “Saya selalu mengagumi tulisan Nh Dini. Kekaguman saya dengan Amir dan Nh Dini inilah yang mendorong saya untul berupaya mewujudkan cita-cita (dipentaskan) ini,” tutur Happy.

Dalam pertunjukan ini, Titimangsa Foundation menggunakan sutradara Iswadi Pratama. Pemeran Amir Hamzah adalah Lukman Sardi. Saat ini, Titimangsa Foundation masih melakukan proses seleksi untuk menetapkan siapa yang pantas untuk memerankan sosok Tengku Tahura, Iliek Sundari, dan Tengku Puteri Kamaliah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here