Safri
Safri

Untuk Siapa Bumi Diciptakan?

Mula-mula ia adalah hamparan luas tak bertuan
Kemudian kita bertarung untuk jadi majikannya,
Bertaruh merantai leher dan kedua pergelangan
Kakinya hingga berlomba untuk siapa yang lebih
Mampu membasahi ranum suci selangkangannya.
Kita sibuk memasang tapal dan lupa memasung
berahi.

Kita tatap peta dan melihatj azirah benua seluas
Hasrat para penakluk. Genderan gperang ditabuh,
Demig aris batas teritorial yang selalu terlihat kecil.
Armada-armada dilepas melintas pada laut buas
Atas nama gold, glory, gospel, yang tidak lebih
Penting dari sekadar urusan perut, lidah dan air liur.

Ratusan purnama berlalu, bumi tetaplah medan laga:
Tempat pedang saling menghapus dan menghunus
Bagi petarung yang urung menyembunyikan taring
Dan mereka yang bernasib sial: penonton di luar ring.
Mamuju, 2018

Jika Rumah Betul-Betul Ada

Jika rumah betul-betul ada
Lalu kenapa kita melintasi ambang udara
Dan terombang-ambing dalam lepas samudra
Demi suaka dan kartu tanda warga negara.

Jika rumah betul-betul ada
Lalu kenapa tenda-tenda harus didirikan
Dibibir jalan, tanah lapang dan lapangan
Ditengah gedung-gedung tinggi menjulang.

Jika rumah betul-betul ada
Lalu kenapa misil-misil melaju di cakrawala
Mencari sarang dan sasaran dengan serdadu
Menaruh tangsi-tangsi di pekarangan rumah
kita?

Mamuju, 2018

Di Kedai Kopi

Tak ada kursi kosong. Semuanya sudah terisi,
Yang tak berisi hanyalah percakapan kita
Yang dibiarkan mengambang di langit-langit kedai.
Di sana tersimpan sesuatu yang sama berharganya
Dengan ruangtamu: tempat di mana dialog temukan
Dirinya yang kini gawai mencurinya dengan piawai.

Mamuju, 2017

Di Terminal Kota Makassar

Di sela bus berderet rapi semua orang menunggu keberangkatan.
Mereka bicara dan termenung mengingat kepulangan adalah hal
Paling ditunggu bagi mereka yang pergi dengan sebuah apij anji:
Pantang pulang sebelum mengukir ulang garis tangan.

Ibu menggendong anaknya, anak memapah ibunya.Bepergian
Jauh selalu butuh tenaga lebih dan pertemuan di tempat tujuan
Akan melahirkan sebuah kelegaan.Lega yang lahi rsetelah lelah
berlaga di tanah seberang—tempat berperang dengan kesepian.

Apa yang dibawa pulang jika belum waktunya tiba air mata ibu
Sudah ruah tumpah di suara telepon terakhir ia bicara: pulang.
Memanggul malu demi rindu adalah cara paling ksatria lelaki
Rantau menikam petuah kata-kata.

Makassar, 2017

Di Kampung Halaman

Di balik masa lalu yang bermakam pada ingatan kita
Ada kenangan manis masa kecil yang bermukim
Seperti ingatan tentan gsuara: “satu,dua,tiga” rumah panggung
Bersama dipanggul dan kekerabatan lebih kuat merangkul.

Kota adalah pelabuhan terakhir di mana nasib ditambatkan
Dan mimpi berlabuh berharap segera sandar tetapi makin kota
Besar berkembang makin sepi kampung meradang. Kita tidak
Betah lagi menghirup udara segar di pagi buta dan langit jingga
di sore hari tak mampu menahan laju mereka.

Kita diseru menjadi perantau agar kampung terbebas dari pikiran
Dalam tempurung. Adalah kampung tempat menenangkan rindu
Yang tak mampu terbendung.

Sirindu, 2017

Syafri Arifuddin Masser, lahir 13 Juli 1994 di Sirindu, Sulawesi Barat. Ia alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Puisi-puisinya pernah dimuat di surat kabar Radar Sulawesi Barat, Harian Fajar Makassar, dan media online disukusastra.com, nalarpolitik.com, bukuindie.com, litera.co.id, langgampustaka.com, kibul.in, crovia.id, galeribukujakarta.com, floressastra.com, takanta.id dan biem.co. Karyanya masuk dalam beberapa antologi:Cerpen dan Puisi pilihan Kibul 2017, Antologi Puisi Festival Seni Multatuli 2018, Antologi Puisi Fiction Writer Makassar International Eigth Festival & Forum 2018. Instagram: @Syafriamasser, Facebook :SyafriArifuddin Surel: [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here