Setiap momen adalah torehan perjalanan sejarah. Semua itu bisa direkam dengan kamera yang bernilai dokumentatif sekaligus historis. Perekaman itu bisa juga tidak dilakukan dengan kamera namun dengan ingatan yang dikerjakan oleh otak. Namun ingatan di otak bisa hilang atau tereduksi oleh perjalanan waktu. Perekaman momen juga tergantung dari isi hati orang yang berkehendak atau tergerak untuk menangkapnya. Djaduk Ferianto sebagai seorang musisi, seniman teater, dan perupa juga memperhatikan dan tertarik melakukan perekaman. Apa yang dilakukan Djaduk tidak semata-mata ketertarikannya secara visual akan semuanya itu, namun Djaduk melibatkan apa yang disebutnya sebagai “ngeng”.

Apa yang disebut sebagai “ngeng” itu adalah bunyi yang ada di kepala Djaduk. Bunyi itu muncul ketika ia merasa menemukan sesuatu. Seperti teriakan Eureka atau Punctum atau seperti Decisive Moment ala Cartier-Bresson. “Ngeng” adalah semacam perpaduan rasa dan pikir. Memang sulit dinarasikan, tetapi bisa dirasakan. Menurut Djaduk pula hanya orang-orang yang sudah melewati fase-fase tertentu dalam hidup yang benar-benar bisa menyadari hadirnya “ngeng”. “Ngeng” adalah awal mula dari foto-foto yang dipamerkan Djaduk di Bentara Budaya mulai 15-23 Desember 2018. Pameran foto itu ia bingkai dalam tema “Meretas Bunyi”.

Sujud Kendang di antara para seniman-budayawan, karya Djaduk Ferianto. Foto: A.Sartono
Sujud Kendang di antara para seniman-budayawan, karya Djaduk Ferianto. Foto: A.Sartono

Foto-foto yang dipamerkan ini semacam ajakan Djaduk kepada para apresian/hadirin untuk bersama-sama dan mengalami “ngeng”-nya masing-masing karena tiap “ngeng” adalah personal. Djaduk seperti ingin mengajak semua orang untuk bersama-sama meretas bunyi “ngeng”. Meretas artinya membedah bunyi yang muncul, mencari asal mulanya, mendedah hal-hal yang sulit dijelaskan agar menjadi bunyi “ngeng.”

Tentang Menunggang Kuda karya Djaduk Ferianto. Foto: A,Sartono
Tentang Menunggang Kuda karya Djaduk Ferianto. Foto: A,Sartono

“Ngeng” yang mewujud dalam foto-foto ini adalah cara Djaduk mengatakan bahwa fotografi hanya berfungsi sebagai medium, yakni alat untuk mengasah kepekaannya terhadap apa pun. Dalam fotografi itu pula ia terus mengasah “ngeng”-nya. Ini bagian dari upaya ulang-alik agar ia dapat berkomunikasi secara baik melalui karyanya. Sudah sejak lama alat ini menjadi bagian utuh dari kedirian Djaduk. Baginya fotografi tidak berbeda dengan gamelan atau kuas yang telah lebur dalam kesehariannya.

Konten Terkait:  Mengintip Keindahan Bawah Laut Melalui Kamera
Djaduk Ferianto di antara para kerabat. Foto: A.Sartono
Djaduk Ferianto di antara para kerabat. Foto: A.Sartono

Pada akhirnya melalui pameran ini Djaduk ingin mengajak semua orang untuk bertamasya. Tamasya mencari “ngeng” kita masing-masing di tengah lautan gambar yang kita temui sehari-hari. Foto-foto dalam ruang pameran di BBY ini adalah cara Djaduk mengatakan bahwa inilah “ngeng” saya dan masing-masing dari kita adalah pemilik “ngeng” yang khas dan personal. Tiap “ngeng” yang kita temukan, tulis Lucia Dianawuri dalam pengantarnya untuk pameran ini, adalah tamasya yang menyegarkan serta mencerahkan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here