Untuk menunjang kehidupan istana (keraton), maka bangunan keraton dilengkapi dengan sarana dan prasarana lain. Baik bangunan tersebut berada di luar benteng maupun di dalam benteng. Salah satu sarana dan prasarana itu adalah tempat pesiar atau pesanggrahan. Pesanggrahan yang pernah dibangun di Yogyakarta di antaranya adalah Pesanggrahan Ambarketawang, Pesanggrahan Tamansari, dan Pesanggrahan Krapyak (dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwana I).

Pesanggrahan menjadi tempat peristirahatan raja beserta keluarganya. Oleh karena itu pesanggrahan dibuat menjadi kompleks bangunan yang kiranya bisa menarik hati raja dan keluarganya. Maka umumnya pesanggrahan dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, kebun, fasilitan untuk kepentingan religius, dan lain-lain.

Dari sekian raja yang pernah bertahta di Kasultanan Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwana II dikenal sebagai raja yang paling rajin atau produktif dalam mendirikan pesanggrahan. Bahkan sejak ia menjadi putra mahkota (1765-1792) sudah mulai membangun beberapa pesanggrahan, seperti Pesanggrahan Rejawinangun, Purwareja, Pelem Sewu, dan Reja Kusuma.

Umbul Warungboto, bagian Pesanggrahan Rejawinangun yang masih berfungsi, difoto tahun 1935, sumber dok BPCB DIY. Foto ulang: A.Sartono
Umbul Warungboto, bagian Pesanggrahan Rejawinangun yang masih berfungsi, difoto tahun 1935, sumber dok BPCB DIY. Foto ulang: A.Sartono

Berdasarkan beberapa sumber, seperti Tijdschriff voor Nederlandsch Indie tulisan JF Walrofen van Nes, tahun 1884, Babad Momana serta Serat Rerenggan dijelaskan bahwa Pesanggrahan Rejawinangun pada tahun 1711 Jw (1785 M) yang merupakan karya putera mahkota, yaitu KGPAA Hamengkunegara yang naik tahta pada tahun 1792 dan kemudian bergelar Sr Sultan Hamengku Buwana II.

Di dalam Pesanggrahan Rejawinangun terdapat sumber air yang kemudian dibuat menjadi tempat peristirahatan sekaligus tempat pemandian bagi raja dan keluarganya. Sebagai tempat peristirahatan pesanggrahan ini juga pernah dikunjungi dan diinspeksi oleh pejabat Belanda yang bernama Jan Greeve pada tanggal 5-15 Agustus 1788. Inspeksi dan kunjungan terhadap Pesanggrahan Rejawinangun yang dapat digunakan sebagai benteng pertahanan tersebut dilakukan bersamaan dengan Benteng Baluwarti Keraton Yogyakarta.

Konten Terkait:  Tradisi Nyanggring, Kearifan Lokal Guna Menjaga Sumber Air

Pesanggrahan Rejawinangun pada saat sekarang tinggal tersisa sebagian. Sisa sebagian yang masih dapat diselamatkan itu sekarang lebih dikenal dengan nama Umbul Warungboto atau Situs Warungboto. Situs ini secara administratif berada di perbatasan Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Kotagede dan Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, DIY. Situs ini pada sisi timur berbatasan dengan Sungai Gajahwong dan sisi barat berbatasan dengan Jl Veteran, sisi utara berbatasan dengan kompleks makam dan pemukiman penduduk. Sisi selatan berbatasan dengan pemukiman penduduk.

Bagian paling timur dari Umbul Warungboto atau Pesanggrahan Rejawiangun, difoto 12 Desember 2018. Foto: A.Sartono
Bagian paling timur dari Umbul Warungboto atau Pesanggrahan Rejawiangun, difoto 12 Desember 2018. Foto: A.Sartono

Pada saat masih dimanfaatkan sebagai pesanggrahan oleh sultan, Pesanggrahan Rejawinangun dibangun di sisi barat dan timur Sungai Gajahwong dengan memanfaatkan undak-undakan sungainya. Antara bangunan kompleks sisi timur dan barat sungai memiliki sumbu imajiner yang membujur dari timur ke barat.

(Bersambung)

Sumber: Teks BPCB DIY

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here