Catatan Kedahsyatan Letusan Tambora 1815

0
38

Gunung Tambora terletak di Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gunung ini pernah meletus dahsyat pada tahun 1815. Berdasarkan catatan atau sumber-sumber dari Belanda, sebelum Tambora meletus, Pulau Sumbawa mempunyai hutan kayu yang padat dan rimbun dibanding saat ini.

Sebelum Gunung Tambora meletus sebenarnya sudah ada tanda-tandanya. Sejak 1812 awan yang tergantung tetap berada di puncak gunung, tumbuh berkembang semakin gelap dan suara gemuruh mulai terdengar. Letusan mulai terjadi 5 April 1815 dan yang terkeras 10 Aril 1815.

Letusan Tambora adalah bencana besar bagi Pulau Sumbawa. Batu-batu apung dan debu menutupi tanah dengan ketebalan 50-60 cm, bahkan di lokasi yang lebih dekat ketebalannya mencapai 1,20 meter. Suara letusan terdengar sampai jauh (Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi) dan sempat dikira suara tembakan meriam. Baru setelah beberapa hari kemudian menjadi jelas dengan adanya hujan abu dan butiran batu.

Sebelum Tambora meletus di Pulau Sumbawa ada enam kerajaan yaitu Sumbawa, Dompu, Bima, Pekat (di lereng barat Tambora), Tambora (di lereng utara Tambora) dan Sanggar (di lereng tenggara Tambora). Letusan Tambora mengakibatkan Kerajaan Pekat dan Tambora tersapu rata, hampir tidak ada yang bertahan hidup. Gelombang pasang tinggi juga menerjang Kerajaan Sanggar bagian pantai utara sehingga menimbulkan banyak korban. Gunung yang tingginya semula kurang lebih 4.000 meter setelah meletus menjadi kurang lebih 2.851 meter.

Bencana atau malapetaka tidak hanya disebabkan oleh letusan langsung tetapi juga sesudahnya. Lapisan debu letusan selain merusak hasil bumi, juga menimbulkan pencemaran baik udara, air maupun tanah. Kelaparan, penyakit dan kematian pun banyak terjadi baik pada manusia, hewan maupun tumbuhan.

Letusan Tambora tidak hanya menimbulkan bencana atau masalah di Pulau Sumbawa tetapi juga daerah-daerah lain yang jauh. Di Pulau Bali, Lombok, Sulawesi Selatan dan pulau-pulau sebelah utara Sumbawa debu berjatuhan dengan ketebalan ada yang mencapai 20-30 cm. Akibat yang ditimbulkan adalah pencemaran, kegagalan panen, kelaparan, penyakit dan kematian. Debu dan zat-zat kimia yang terbawa angin juga memenuhi udara dunia, lebih-lebih Eropa dan Amerika Utara. Di sana pada tahun 1816 terjadi musim panas yang tidak panas atau suhunya lebih dingin dibanding musim panas yang normal. Akibatnya terjadi kegagalan panen yang berakibat pada kelaparan dan wabah penyakit.

Judul : Letusan Gunung Tambora 1815
Penulis : Bernice de Jong Boers & Helius Sjamsuddin
Penerbit : Ombak, 2015, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : ix + 117

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here