There is a Hope, itulah tema yang diangkat oleh Alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI)/SMSR/SMK 3 Kasihan Bantul, Yogyakarta. Pameran yang diikuti oleh 170 perupa ini diselenggarakan di Pendhapa Art Space, Panggungharjo, Sewon, Bantul, pada 8-17 Desember 2018. Pembukaan pameran ini dimeriahkan dengan penampilan Doll’C Band serta spontanitas pentas seni alumni IKASSRI (Ikatan Alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia). Selain itu acara pameran juga dilengkapi dengan Temu Kangen, dan Sarasehan.

Banyak perupa yang terlibat dalam pameran ini juga berakibat pada banyaknya karya yang dipajang. Sekaligus juga menjadikan pameran ini menyuguhkan gaya, sudut pandang, gagasan, dan teknik yang beraneka ragam. Mungkin boleh dikatakan bahwa pameran ini menjadi semacam parade karya rupa. Semarak dan meriah dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tentu. Pameran ini juga menjadi ajang bagi pertemuan, tidak saja pertemuan perupa, namun pertemuan karya rupa itu sendiri. Para perupa bisa saling menilai, menakar, melihat ke dalam diri sendiri sudah sejauh apa atau seberapa pencapaian dirinya di bidang keseni-rupaan yang mereka tekuni selama ini. Dengan membanding sesungguhnya mereka juga “bertanding”.

Makar, hardboard cut, 160 x 120 cm, 2017, karya Gunawan Bonaventura. Foto: A.Sartono
Makar, hardboard cut, 160 x 120 cm, 2017, karya Gunawan Bonaventura. Foto: A.Sartono

Pada sisi-sisi itulah sesungguhnya terjadi semacam kompetisi. Setiap perupa pasti akan saling mengamati dan mempelajari karya teman-temannya. Dengan demikian, mereka akan dapat saling belajar, tukar informasi, dan pengalaman. Kemajuan atau proses menuju perubahan yang lebih baik bisa diawali dari hal-hal yang demikian ini. Jadi, pameran bersama IKASSRI ini bukan lagi semata-mata perayaan pertemuan atau reuni alumni sekolah seni rupa, tetapi juga perjumpaan karya yang di dalamnya terjadi dialog gagasan (ide), teknik dan penguasaan material, gaya, kreasi, dan lain-lain yang semuanya itu semakin mengayakan pengetahuan dan pengalaman masing-masing perupa.

Miss No 11, 120 x 145 cm, AOC, 2018, karya Suyadi Suyamtina. Foto: A.Sartono
Miss No 11, 120 x 145 cm, AOC, 2018, karya Suyadi Suyamtina. Foto: A.Sartono

Sarasehan yang juga dilaksanakan menjadi satu rangkaian acara pameran ini juga semakin mencerahkan dan meluaskan pengalaman masing-masing perupa. Di sini perupa muda bisa belajar banyak pada senior-senior mereka yang telah malang melintang dengan profesi dan dunia seni rupa. Ada hal yang ditekankan oleh para perupa senior kepada yunior mereka, yakni bahwa ketika memasuki profesi dunia kesenimanan (perupa) jangan pernah berjalan sendirian. Komunitas adalah sesuatu yang penting.

NKRI, polyresin, 60 x 60 x 200 cm, 2018, karya Dunadi. Foto: A.Sartono
NKRI, polyresin, 60 x 60 x 200 cm, 2018, karya Dunadi. Foto: A.Sartono

Komunitas adalah wadah seperti keluarga yang di dalamnya orang bisa saling curhat. Di dalamnya orang saling mendukung, tolong-menolong, dan saling menguatkan. Oleh karena itu pula orang yang berada dalam komunitas umumnya juga akan lebih kuat dan bersemangat. Hal demikian penting bagi kelangsungan hidup atau perjalanan hidup perupa. Di dalam komunitas itu pula seseorang akan banyak memperoleh banyak hal yang sangat berguna bagi hidup dan karyanya. Pameran ini sesuatu dengan temanya adalah harapan. Harapan itulah yang terus mendorong untuk terus berkarya menuju ke sesuatu, menuju menjadi. Harapan adalah sesuatu yang penting karena daripadanya orang menggantungkan hidupnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here