Suikerkultuur di Jogja: Sebuah Kenangan Manis Semanis Gula

0
35
Pabrik Gula Barongan, Bantul, berdiri tahun 1867. Foto: A.Sartono
Pabrik Gula Barongan, Bantul, berdiri tahun 1867. Foto: A.Sartono

Pada masa lalu di Yogyakarta ada 19 pabrik gula dengan kapasitas produksi yang besar. Pabrik gula (PG) yang pertama kali berdiri di Yogyakarta adalah PG Gondanglipuro di Bantul (Ganjuran, Bambanglipuro). Sedangkan pabrik gula termuda atau yang paling akhir berdiri adalah PG Sendangpitoe yang berada di wilayah Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Sleman. PG Gondanglipuro didirikan pada tahun 1862 dan PG Sendangpitoe didirikan tahun 1922.

Namun, semua pabrik gula tersebut pada saat ini tidak bisa dikenali lagi sosoknya karena memang telah hilang. Hal inilah yang kemudian menggelitik Hermanu untuk menampilkan foto-foto pabrik gula di Yogyakarta dan sekitarnya yang dulu pernah berdiri megah lengkap dengan kelengkapan sarana dan prasarananya serta fasilitas yang mendukungnya.

Pabrik Gula Medari, Sleman, berdiri tahun 1908. Foto: A.Sartono
Pabrik Gula Medari, Sleman, berdiri tahun 1908. Foto: A.Sartono

Hermanu yang pernah memimpin Bentara Budaya Yogyakarta itu merasa bahwa informasi semacam ini harus disampaikan ke publik supaya publik menjadi lebih banyak tahu dan mengerti. Untuk itulah Pameran Foto Suikerkultuur dengan tema Jogja Yang Hilang ia selenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, 4-12 Desember 2018. Foto-foto itu ia dapatkan dari sebuah buku yang berjudul Twentieth Century Impressions of Netherlands India yang diterbitkan tahun 1909.

Hermanu tidak sendirian dalam menyiapkan semua itu. Ia bekerja sama dengan Komunitas Roemah Toea. Komunitas yang mayoritas beranggotakan anak-anak muda yang interes terhadap bangunan tua bersejarah itu kemudian melacak kembali jejak pabrik-pabrik gula yang pernah berdiri di Yogyakarta. Dari usaha itu kemudian ditemukan bahwa ada tiga bekas pabrik gula yang masih dapat dikenali, yakni PG Medari (Sleman) yang telah berubah fungsi menjadi pabrik tenun, PG Tandjoengtirto Berbah (Sleman) yang berubah fungsi menjadi hanggar pesawat untuk Museum Dirgantara, dan PG Padokan (Bantul) yang kemudian berubah menjadi PG Madukismo, namun bangunan pabriknya dibangun setelah kemerdekaan RI.

Pabrik Gula Pundong, Bantul, berdiri tahun 1880. Foto: A.Sartono
Pabrik Gula Pundong, Bantul, berdiri tahun 1880. Foto: A.Sartono

Sekalipun sejak zaman awal (Hindu Budha) atau bahkan sebelum itu orang Jawa/Nusantara telah mengerti cara membuat gula, namun baru pada abad ke-17 industri gula secara besar-besaran terjadi. Hal ini dimulai pada masa pemerintahan kolonial, Gubernur Jenderal Van Diemen. Tahun 1617 ia mulai tertarik dengan usaha industri gula. Tanggal 7 November 1637 ia menandatangani surat keputusan yang intinya memberikan izin produksi gula di wilayah Batavia dan Banten selama 10 tahun kepada seorang Tionghoa bernama Jan Kong yang berkantor di Banten. Jan Kong bisa menghasilkan gula 3000 picol per tahunnya dengan harga F 18 per picol.

Pabrik Gula Tandjoeng Tirto, Sleman, berdiri tahun 1874. Foto: A.Sartono
Pabrik Gula Tandjoeng Tirto, Sleman, berdiri tahun 1874. Foto: A.Sartono

Puncak produksi gula di Jawa terjadi tahun 1925 dengan produksi sebanyak 2.000.000 ton dari 179 pabrik gula yang beroperasi di seluruh Jawa yang sebagian besar berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yogyakarta yang wilayahnya tidak terlalu luas akhirnya memiliki 19 pabrik gula yang letaknya saling berdekatan. Pabrik-pabrik gula tersebut ialah PG Gondanglipuro, Tandjoeng Tirto, Beran, Medarie, Bantool, Barongan, Kedaton-Plered, Demakidjo, Wonotjatoer, Gesikan, Poendong, Sedajoe, Randoegoenting, Padokan, Klatjie, Tjebongan, Rewoeloe, Sewoegaloer, dan Sendangpitoe. Hal ini menjadikan Yogyakarta cukup patas disebut sebagai “Land of Sugar.” Lebih-lebih jika dibandingkan dengan Surakarta yang wilayahnya lebih luas namun hanya memiliki 16 pabrik gula.

Contoh pembuatan gula secara tradisional. Foto: A,Sartono
Contoh pembuatan gula secara tradisional. Foto: A,Sartono

Kini semuanya itu boleh dikatakan telah hilang akibat berbagai perkembangan zaman, situasi, dan kepentingan. Taktik bumi hangus oleh pejuang RI akibat Agresi Militer Belanda II (Operatie Kraai, 1948), salah satunya berakibat pada hancur atau hilangnya hampir seluruh bangunan pabrik gula di Yogyakarta dan tempat lain. Pameran ini ingin mengingatkan kembali masa gemilang pabrik gula di Yogyakarta khususnya dan Jawa pada umumnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here