Sentuhan Milenial untuk 10 Museum Bantul

1
85
Branding museum Tembi karya mahasiswa ISI dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi
Branding museum Tembi karya mahasiswa ISI dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi

Pengemasan produk barang dan jasa yang prima dan menawan diyakini akan menarik bagi pelanggan. Itulah yang menjadi salah satu bagian terpenting dari marketing sebuah produk. Demikian juga ketika museum hendak ditawarkan kepada publik, maka produk barang dan jasa museum tersebut harus digarap maksimal, salah satunya lewat promosi verbal dan visual. Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh 85 mahasiswa Program Studi (Prodi) Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa (FSR), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ketika menggarap 10 museum di Kabupaten Bantul, DIY.

Branding kaos museum Wayang Beber dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi
Branding kaos museum Wayang Beber dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi

Hasil karya mereka kemudian digelar dan dipamerkan di Mal Malioboro Yogyakarta pada tanggal 30 November sampai dengan 2 Desember 2018. Karya-karya mereka sangat mengesankan dan menandakan karya anak milenial. Museum-museum Bantul yang dipromosikan dengan garapan verbal dan visual mereka adalah Museum Gumuk Pasir, Museum Memorial Jenderal Besar HM Suharto, Museum Wayang Beber Sekartaji, Museum Tembi Rumah Budaya, Museum Tani Jawa Indonesia, Museum Sejarah Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Museum Wayang Kekayon, Museum Sumber Karahayon, Museum Taman Tino Sidin, dan Museum Rumah Garuda. Setiap museum di-branding oleh 7—9 mahasiswa.

Leaflet tiga dimensi sebagai branding museum Sejarah UPY dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi
Leaflet tiga dimensi sebagai branding museum Sejarah UPY dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi

Pameran mahasiswa ISI di Mal Malioboro ini diberi tajuk “Historium: Visual Branding Exhibition”, maksudnya ingin memperkenalkan dan bercerita tentang histori atau sejarah yang ada di balik dan di dalam museum-museum tersebut. Pameran ini sebagai wujud empati para mahasiswa kepada dunia permuseuman, terutama yang ada di wilayah Kabupaten Bantul. Apalagi museum sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar dalam dunia pariwisata sekaligus sebagai lembaga yang terus melestarikan budaya masa lalu.

Museum Garuda menampilkan sosok burung garuda dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi
Museum Garuda menampilkan sosok burung garuda dalam pameran historium di Mal Malioboro. Foto: Suwandi

Branding museum di Bantul itu dikemas dalam pameran yang sangat menarik sesuai dengan stand masing-masing museum. Semua barang yang dihasilkan adalah karya mahasiswa, setelah sebelumnya selama dua bulan berbaur dengan museum-museum yang dikaji. Karya-karya mereka sangat unik. Karya-karya mereka diwujudkan dalam barang yang sehari-hari kita jumpai, seperti mug, gantungan kunci, stiker, leaflet tiga dimensi, kaos, wayang kulit, pin, boneka, mainan dakon, puzzel, dan sebagainya. Barang-barang itu mendapat sentuhan desain yang kekinian. (*)

Konten Terkait:  Bantul Beri Penghargaan kepada Pelestari Seni Budaya Lokal

1 KOMENTAR

  1. Terima kasih anak-anak DKV ISI Yogyakarta, Terima kasih Mas Sumbo dan rekan-rekan dosen pembimbing. Dan Terima kasih juga kami sampaikan kepada http://www.Tembi.net. Sebuah kolaborasi yg istimewa, suatu tugas akhir dan karya mahasisma bersama 10 museum yg ada di bantul. merupakan salah satu wujud Tri dharma perguruan tinggi. Sangat strategis dlm mengangkat museum-museum yg ada di Kabupaten bantul. Apresiasi dan penghargaan yg tinggi dr kami yg mewakili FKMB Kabupaten Bantul.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here