Matra Award bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY dan Pendhapa Art Space melaksanakan serangkaian kegiatan mulai tanggal 21-30 November 2018. Kegiatan itu meliputi Pameran Seni Kriya yang dikompetisikan, Workshop Eco Print, Presentasi Nominasi, Galllery Tour, Seminar Batik, dan Pengumuman Pemenang.

Matra Award merupakan kompetisi karya kriya yang ditujukan bagi para perupa muda untuk menjaring karya, bakat terbaik, dan melihat pencapaian-pencapaian estetik-artistik perupa muda dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia. Matra Award membuka kemungkinan hadirnya karya-karya seni dengan pendekatan konsep dan craftmanship yang kuat serta kontekstual dengan dinamika sosial budaya masyarakat.

Sepuluh Tangan, mix media (batik), 180 x 120 cm, 2018, karya Siti Suhartini. Foto: A.Sartono
Sepuluh Tangan, mix media (batik), 180 x 120 cm, 2018, karya Siti Suhartini. Foto: A.Sartono

Pameran seni kriya yang dihadirkan oleh Matra Award menyajikan karya dari para perupa muda peserta kompetisi dan seniman yang diundang secara khusus. Kegiatan lain yang mengiringi kegiatan pameran, seperti fashion show, performing art, bazaar, workshop, gallery tour, dan seminar bertujuan untuk menjaring komunikasi antar seniman-seniman kriya di Indonesia. Pameran karya kriya hasil kompetisi ini dibingkai dengan tema Dimensin X Resonance.

Bagi seniman material tidak dapat dipisahkan dari masalah konseptual dan realisasi nyata dalam berkarya. Material bukan hanya untuk didudukkan sebagai bahan baku yang harus diolah dengan kepiawaian teknik, melainkan juga menjadi mitra diskusi aktif seniman. Intensi seniman atas material memberikan peran dan pengaruh unik dalam segenap proses kreatifnya. Kecerdasan sekaligus kedalaman serta aspek craftmanship seniman dalam memanipulasi material inilah yang kemudian memberi nilai lebih atas ekspresi konseptual.

Unlimited Documentation, mix media, payet, manik-manik, 35 x 50 x 35 cm, 2018, karya Paskasius Kalis Legi. Foto: A.Sartono
Unlimited Documentation, mix media, payet, manik-manik, 35 x 50 x 35 cm, 2018, karya Paskasius Kalis Legi. Foto: A.Sartono

Wacana terkait material dan tujuan artistik sama pentingnya dengan sejarah seni, kritik dan connoisseurship (kesangatmengertian dalam seni) yang memainkan peranan penting dalam menggarisbawahi nilai asrtistik sebuah karya seni. Intensi atas dimensi fisik serta materialitas dalam karya seni telah berperan aktif dalam produksi identitas subjektif dan praktik sosial.

Konten Terkait:  Pameran Terawang Borobudur di Jogja Gallery

Bagaimana artefak budaya yang berbeda secara aktif membentuk dinamika produksi budaya, serta memediasi pengetahuan yang dikaji banyak ilmuwan dan peneliti dunia sosial. Dimensi fisik sebuah karya seni bukan semata menghadirkan sensasi perceptual bagi publik, namun juga beresonansi dalam beragam dimensi pengetahuan sosial, budaya, dan kemasyarakatan. Demikian seperti yang disamapaikan Tim Matra Award dalam kata pengantar untuk kegiatan yang dilaksanakannya.

Gegaman - Tameng Nyowo Jogo Rogo, besi pamor, tembaga, kulit nabati, ukuran tubuh manusia, 2018, karya Ahmad Prasetya Hadi. Foto: A.Sartono
Gegaman – Tameng Nyowo Jogo Rogo, besi pamor, tembaga, kulit nabati, ukuran tubuh manusia, 2018, karya Ahmad Prasetya Hadi. Foto: A.Sartono

Apa yang dilakukan Matra Award ini tentu saja pemicu dan daya dorong bagi berkembangnya seni kriya di Indonesia. Antusiasme peserta kompetisi yang berasal dari berbagai daerah di Jawa menunjukkan bahwa banyak generasi muda memiliki potensi, bakat, dan minat yang menggembirakan di bidang seni kriya dan seni budaya pada umumnya. Presentasi karya pamer oleh 32 seniman kriya menjadi bukti akan hal itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here