Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mementaskan Wayang Wong Thengul dengan lakon Pedang Kangkam Pamor Kencana. Pementasan perdana dilaksanakan di Padukuhan Seyegan, Margokaton, Seyegan, Jumat malam, tanggal 23 November 2018. Pementasan yang kedua dilaksanakan di Dusun Mraen, Sendangadai, Mlati, Sleman, Kamis malam, 29 November 2018.

Adipati Umarmaya menyerahkan Pedang Kangkam Pamor Kencana kepada Adipati Umarmadi gadungan. Foto: A.Sartono
Adipati Umarmaya menyerahkan Pedang Kangkam Pamor Kencana kepada Adipati Umarmadi gadungan. Foto: A.Sartono

Wayang Wong Thengul yang berasal dari Seyegan ini sejak tahun 1980-an bisa dikatakan mati suri. Wayang wong thengul dari Seyegan ini diwadahi dalam Paguyuban Dwi Muda Budaya dan telah berdiri sejak 1967. Pementasan yang dilakukan oleh Disbud Sleman ini sebagai bentuk revitalisasi atu menggairahkan kembali potensi-potensi kesenian (tradisional) yang selama ini hampir punah. Wayang Wong Thengul dari Seyegan yang pernah berjaya dari tahun 1967-1980-an ini akhirnya vakum karena banyak peraga yang lanjut usia, pindah tempat tinggal, kostum rusak, serta alat musik pengiring yang juga mulai rusak, serta sulitnya regenerasi, serta mulai berkurangnya tanggapan.

Wayang Wong Thengul merupakan seni pertunjukan teater tradisional yang berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak masa pendudukan Jepang. Istilah “thengul” mengacu pada pengertian boneka (kayu) yang menjadi material pokok dalam sosok wayang golek. Jadi, pola gerak tari dan gerak-gerak lainnya dalam Wayang Wong Thengul mengacu pada pola gerak wayang golek yang terkesan kaku, kikuk, patah-patah, namun menjadi agak lucu dan menarik ketika diperagakan melalui sosok orang. Wayang Wong Thengul mengambil cerita menak.

Wayang Wong Thengul dengan lakon Pedang Kangkam Pamor Kencana pada intinya menceritakan tentang kondisi Kerajaan Kuparman di bawah Tiyang Agung Jayengrana yang aman tenteram dan sejahtera jika memiliki pusaka Pedang Kangkam Pamor Kencana. Untuk itu Tiyang Agung Jayengrana meminta punggawa dan kerabatnya untuk mencari pedang tersebut. Adipati Umarmaya menyanggupinya. Ia mengajak adiknya, Adipati Jemblung Umarmadi. Raden Iman Suwangsa sebagai putra Tiyang Agung Jayengrana turut serta sambil membawa pasukan. Umarmaya mendatangi Kerajaan Nusa Rukmi yang dipimpin oleh Prabu Dewi Talirasa dengan patihnya bernama Dewi Rasatali karena Pedang Kangkam Pamor Kencana berada di Nusa Rukmi.

Konten Terkait:  Puisi, Perempuan dan Bulan Purnama

Umarmaya menyamar menjadi Patih Rasatali dan kemudian membawa lari Pedang Kangkam Pamor Kencana namun ia berhasil ditipu oleh Rasatali yang menyamar menjadi Umarmadi. Permainan menyamar dan saling menipu ini terjadi berulang-ulang. Namun akhirnya Umarmaya dapat dikalahkan. Akhirnya Umarmaya berembug dengan Umarmadi dalam rembug itu mereka bertemu dengan Ganggamina dan Ganggapati yang mencari ayahnya, Raden Iman Suwangsa. Keduanya akan diantarkan kepada ayahnya asal bisa mengambil Pedang Kangkam Pamor Kencana.

Pedang ini hanya bisa diambil atau diminta jika Prabu Talirasa dan Patih Rasatali dikalahkan melalui cinta. Akhirnya keduanya memang jatuh cinta kepada Ganggamina dan Ganggapati. Prabu Talirasa menjadi istri Ganggamina dan Patih Rasatali menjadi istri Ganggapati. Dengan demikian Pedang Kangkam Pamor Kencana bisa diboyong ke Kerajaan Kuparman. Ganggamina dan Ganggapati pun bisa bertemu dengan ayahnya, Iman Suwangsa.

Ganggamina dan Ganggapati merayu Talirasa dan Rasatali untuk mendapatkan Pedang Kangkam Pamor Kencana. Foto: A.Sartono
Ganggamina dan Ganggapati merayu Talirasa dan Rasatali untuk mendapatkan Pedang Kangkam Pamor Kencana. Foto: A.Sartono

Secara keseluruhan pertunjukan seni teater tradisional ini menarik karena memang sudah sangat langka. Pola gerak tarinya yang mirip wayang golek menjadi ciri khasnya. Umarmaya-Umarmadi yang menjadi tokoh sentral dalam lakon ini menjadi motor penggerak pengadeganan dan cerita. Kepiawaian keduanya demikian menentukan. Kelucuan mereka juga sangat menghibur. Lakon itu diperagakan oleh banyak tokoh, seperti Tiyang Agung Jayengrana, Raden Iman Suwangsa, Adipati Umarmaya, Adipati Umarmadi, Ganggamina, Ganggapati, Prabu Dewi Talirasa, Patih Dewi Rasatali, Tamtanus, Samtanus, Lamdahur, Tambakbaya, Raja Jubin, Harya Maktal, Putri Kesabun, Begawan Bamus, Yudapati, Yudapraja, Juru Taman, Embok Emban, dan Setyorini.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here