Puisi Daviatul Umam

0
59

Rumah Harapan

telah kumasuki longos-gapuramu dengan segenap degap
ternyata sangat jauh ya?
butuh pegal-pegal yang cukup untuk meredakan hawa panas kerinduan

sesuai saranmu sebelum menuju
berpakaian sopan ala santri aku
menutup rapat-rapat seluruh bercak kenakalan
menyembunyikan bau gerah hari-hari silam

kau menjemputku ke sebelah timur tugu perbatasan desa
tugu tua disiksa lumut dan cahaya
kubuntuti gesit kendaraanmu
melewati jalan tikus sedikit tandus
orang-orang menatap kita dengan runcing mata kucing
tanpa terkesan hendak menerkam
beda halnya pohon-pohon kelapa yang menyambutku ramah
mereka kompak mengucapkan “ahlan wa sahlan calon penghuni tanah kami”
hatiku tersenyum merah sekali

sampai dan selama di rumahmu samar-samar aku berdoa
semoga benar ini alamat mertua

Sumenep 2018

Setangkai Kembang di Langit

jika malam ini kau sedang melihat
setangkai kembang menyala-nyala di langit bisu
itu artinya tuhan tengah mempertemukan mata kita
di antara kerlap kelopak-kelopaknya
yang tak mungkin kenal layu

dengan begitu tatapan kita tidak akan pernah meredup
walau sebatas saling pandang bayang
saling membaca ulang berlembar-lembar kenang
yang menolak usang

kembang-kembang itu bertahan terang bermekaran
aku ingin sekali meruntihnya satu saja untukmu
bagaimanapun caranya

yang jelas aku harus lebih dulu punya sayap lebar dan kuat
sedangkan sayap itu baru mulai tumbuh

di dalam tubuhmu sendiri yang masih tuhan kunci

Sumenep 2018

Kebaikan Purnama

tidak akan kubiarkan purnama ini lari begitu saja ibna
ia harus bertanggung jawab atas kesepianku
selain memang tugasnya mengawetkan cantikmu sebulan sekali
ia harus membantuku
caranya mudah
cukup bertengger saja di atas rumah
untuk kupandang lekat-lekat
meluncurkan angan dan melancarkan jari-jari
yang sedang mencoba melukis sketsa wajahmu di halaman

ya! aku sekarang lagi duduk santai di halaman
lebih nyaman merekam syair angin yang begitu cakap melipur daun-daun
(daun pisang daun jambu air daun mangga daun pepaya daun kurma
serta daun lainnya yang mengelilingi dinginku)
diiringi gema gamelan dari kejauhan
album perayaan pesta pengantin
entah siapa
yang jelas bukan kita

Konten Terkait:  Puisi Ely Widayati

aku suka ibna
aku suka mendengar itu semua sambil sesekali menatap purnama
yang sungguh patuh menuntun pekerjaan gila-gilaan ini
daripada berdungu-dungu di kamar tanpa lampu
yang tentu akan semakin menyuramkan rinduku padamu
membuatku kesurupan sepanjang malam

Sumenep 2018

Hujan Rindu

hujan sore ini menginginkanku pulang ke pintu kangenmu
dibuatnya aku dingin berlebihan
bukan dingin biasa

beribu peluru air menghajar aspal
kalah sendiri menjadi bunga-bunga putih menyerpih
mengalir tak berguna
mencari muara yang tiada
perlahan akhirnya mengering serupa keberadaanku terasing
memperjuangkan kehidupan yang tak sudi diperjuangkan

dari timur petir menjilat-jilat
bergelegar di balik mendung nasibku
tiruan suara pekarangan memanggil-manggil
supaya lekas-lekas kembali memadamkan getar getir rindu

Depok 2018

Bagai Debu dalam Air

anggap sekarang kita berada di kamar mandi
kau menyaru genangan air
dari celah-celah aku menyergapmu berupa pasukan debu
atas perintah kuasa angin
yang semoga itu tiupan napas takdir

kau yang semula putih-bersih
akhirnya keruh-kelabu gara-gara keambisianku
lalu bagaimana mungkin kau akan jernih lagi
sementara kita telanjur setubuh bahkan satu ruh?

tidak ada yang bisa mengasingkanku darimu
tidak ada yang bisa menyingkirkanmu dariku
kita kukuh menggenang atau terbuang bersama

Sumenep 2018

Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Pernah menjabat sebagai ketua umum Sanggar Andalas. Tinggal di Poteran Talango Sumenep, Madura, Jawa Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here