Jika kini orang Yogyakarta sering melihat poster yang berisikan propaganda, mungkin salah satunya adalah produk dari Kelompok Taring Padi. Taring Padi seperti dinyatakan oleh kurator atas pameran kelompok ini yakni Bambang “Toko” Witjaksana, muncul dengan ekspresi yang serba dikotomis. Taring Padi mengambil sudut bidik hubungan hegemonik antara penguasa dan yang dikuasai. Gagasan dasarnya adalah eksploitasi penguasa terhadap rakyat yang tak berdaya.

Bangun Ekonomi Rakyat yang Berbasis Kelokalan, 300 x 300 cm, akrilik di atas kanvas, 200. karya Taring Padi. Foto: A.Sartono
Bangun Ekonomi Rakyat yang Berbasis Kelokalan, 300 x 300 cm, akrilik di atas kanvas, 200. karya Taring Padi. Foto: A.Sartono

Mereka mengidentifikasi rakyat dengan buruh dan petani. Semua cara dilakukan untuk menguasai rakyat. Oleh karena itu lahirlah kaya seni banner, seni cetak dan instalasi yang secara lugas menggambarkan perjuangan rakyat yang mengganyang penindasan oleh penguasa. Karya seni Taring Padi disebut sebagai seni propaganda, yakni seni yang tujuannya untuk bersama-sama memperjuangkan tujuan (untuk rakyat) dan bersifat kampanye.

Seniman Taring Padi rata-rata adalah senirupawan sehingga visualisasi merupakan unsur terpenting dalam eksplorasinya. Unsur visual dan teks berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan. Teks menguatkan dan melengkapi isi pesan yang ingin disampaikan. Keduanya bukan sekadar berdiri sebagai teks yang menerjemahkan gambar atau sebaliknya. Dengan demikian, teks dan gambar merupakan satu kesatuan seperti halnya pada komik dan poster. Unsur kedua dari semua itu adalah aksi.

Tanpa Buruh Pabrik-pabrik Jadi Rumah Hantu, 150 x 500 cm, akrilik di atas kanvas, karya Taring Padi. Foto: A.Sartono
Tanpa Buruh Pabrik-pabrik Jadi Rumah Hantu, 150 x 500 cm, akrilik di atas kanvas, karya Taring Padi. Foto: A.Sartono

Aksi yang dimaksud akan melibatkan langsung, on the spot, dari semua unsur yang ada pada Taring Padi, karya yang dihasilkan (melalui visual dan teks), senimannya, tema yang disajikan serta jaringan yang mereka miliki. Aksi ini merupakan aktivitas puncak sebagaimana kita melihat pertunjukan teater. Bedanya, setting pada teater atau sandiwara diadakan di panggung pertunjukan, sedangkan pada aksi Taring Padi benar-benar dilakukan di lokasi (di tempat atau turun jalan).

Kesemua uinsur tadi melebur menjadi satu kesatuan pada puncak proses, puncak peristiwa, yakni pada saat aksi. Karya-karya Taring Padi bukan lagi sebagai benda mati yang hanya berdiri sebagai pelengkap aksi kegiatan, namun hidup sebagai bagian dari aksi tersebut. Karya-karya dari Taring Padi seperti itulah yang kemudian digelar dalam pameran bertajuk “Bara Lapar Jadikan Palu”. Pameran digelar di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta mulai 21 November hingga 9 Desember 2018. Karya-karya yang dipamerkan itu semuanya merupakan koleksi Taring Padi sejak 1998 hingga 2018. Jadi, pameran ini merupakan bentuk perayaan ulang tahun Taring Padi yang ke-20.

Konten Terkait:  Kartun Mice 20 Tahun Konsisten Menghibur dan Mengedukasi
Tanah Untuk Rakyat, 140 x 200 cm, akrilik di atas kanvas, 2000, karya Taring Padi. Foto: A.Sartono
Tanah Untuk Rakyat, 140 x 200 cm, akrilik di atas kanvas, 2000, karya Taring Padi. Foto: A.Sartono

Pameran ini ingin menggambarkan tentang apa yang terjadi di Indonesia selama 20 tahun terakhir. Persoalan politik, isu sosial, dan kerakyatan ternyata masih menjadi isu yang menarik. Taring Padi memberi respon terhadap berbagai masalah sosial dalam berbagai medium, seperti cukil kayu, lukisan, dan poster. Karya-karya itu tidak berhenti sebagai karya ekspresi visual, namun karya-karya tersebut dibawa ke lapangan sebagai bentuk dukungan para senimannya atas suatu isu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here