Pengembangan motif batik di suatu wilayah terkait erat dengan kebudayaan masyarakat di daerah tersebut. Di sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa yang banyak ditempati oleh pendatang dari Negeri China; tradisi batiknya yang kental pengaruh peranakan Tionghoa memiliki pola, motif, dan warna yang akan sangat berbeda dengan batik dari wilayah Solo dan Yogyakarta. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi yang dihadiri Tembi, yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta (BBJ) bekerja sama dengan Komunitas Lintas Budaya Indonesia pada Kamis 15 November 2018, dalam program apresiasi karya budaya peranakan Tionghoa Nusantara, di BBJ, Palmerah Selatan, Jakarta.

Diskusi dengan mengangkat tema “Peranakan Tionghoa dalam Kebhinnekaan Bangsa Indonesia”, menggambarkan bahwa masyarakat Tionghoa-Indonesia memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan dunia batik. Batik pun sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia, yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2009; bahwa segala sesuatu yang terkait dalam proses pembuatan, motif, dan kebudayaan di dalam batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi.

Diskusi tersebut dihadiri oleh narasumber-narasumber yang ahli dalam bidang kesejarahan dan kolektor benda bersejarah etnis Tionghoa, yakni Dr. Yudi Latif (sosiolog & cendekiawan) sebagai pembicara utama, Prof Ariel Heryanto, PhD (sosiolog dan guru besar Kajian Indonesia Monash University, Melbourne), Didi Kwartanada (sejarahwan Etnis Tionghoa), Azmi Abubakar (pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa), dan William Kwan Hwie Liong (Peneliti Batik Peranakan), yang dimoderatori oleh Lily Wibisono dan Irwan Julianto.

Narasumber Diskusi (Ki-ka) Dr. Yudi Latif, Didi Kwartanada, Prof Ariel Heryanto, PhD & Lily Wibisono (moderator). Foto : Rosiana
Narasumber Diskusi (Ki-ka) Dr. Yudi Latif, Didi Kwartanada, Prof Ariel Heryanto, PhD & Lily Wibisono (moderator). Foto: Rosiana

Yudi Latif mengatakan warna warni batik yang terpasang di ruang pameran merupakan napak tilas dari peran Tionghoa di dalamnya, yaitu akulturasi. Batik-batik ini menjelaskan wajah Indonesia sebagai titik temu persilangan budaya. Ada banyak elemen yang saling bertaut melahirkan harmoni atau keindahan. Menurutnya, jika perjumpaan budaya tersebut tidak dipengaruhi oleh konstruksi politik liar, Indonesia merupakan pusat persilangan budaya yang maha dashyat yang lebih besar dari persilangan di Mediterania, Eropa.

Yudi Latif juga menjelaskan salah satu elemen pembentuk keindonesiaan yang tidak bisa dinafikan ialah elemen kecinaan. Merujuk dari sejarah, Indonesia berasal dari peleburan ras. Melayu dan Tionghoa adalah satu ras yang masuk dalam lapisan Ras Mongoloid. Hanya saja mengalami imigrasi berbeda. Dalam penjelasannya, etnis Tionghoa yang didominasi oleh laki-laki masuk ke Indonesia sebagai imigran dan melebur melalui perkawinan.

Konten Terkait:  Landung dan Butet Baca Puisi untuk Reboeng
Kain Panjang Bang Bangan motif ucapan selamat ulang tahun Cirebon Koleksi Hartono Sumarsono, Foto : Rosiana
Kain Panjang Bang Bangan motif ucapan selamat ulang tahun Cirebon Koleksi Hartono Sumarsono, Foto: Rosiana

“Tapi apa yang kita sebut sebagai Tionghoa di sini adalah imigran baru. Ya ini juga berlapis-lapis, berkali-kali bukannya satu gelombang tapi utamanya gelombang-gelombang imigran sejak dinasti Ming abad ke 15-16 dari Guangdong; itu yang kita sebut sebagai orang Tionghoa di Lasem, di Tuban, oleh kawin-kemawin, karena imigran-imigran ini datang hanya sebagai laki-laki saja,” jelas Yudi Latif. Keterangan lapisan Tionghoa tersebut pun diperkuat oleh penjelasan Didi Kwartanada dalam menerangkan perjalanan kaum Tionghoa dalam sejarah negeri ini.

Kain Sarung Lasem-Semarang Koleksi Hartono Sumarosno. Foto: Rosiana
Kain Sarung Lasem Semarang Koleksi Hartono Sumarosno. Foto: Rosiana

Wiliam Kwan Hwie Liong, yang hadir sebagai narasumber, menerangkan pada tulisannya “Evolusi Batik Peranakan Tionghoa di Pulau Jawa”, yaitu; masyarakat peranakan Indonesia memiliki peranan penting dalam perkembangan budaya dan industri batik di Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

Secara historis, kiprah masyarakat peranakan Tionghoa berlangsung secara bertahap sehingga mencapai tingkat kemahiran dan pilihan desain tertentu. Tidak heran jika sebagian produk batik hasil karya pengusaha batik peranakan Tionghoa, dikenal sebagai batik peranakan Tionghoa, sangat terkenal kehalusan pencantingan, desain motif dan warnanya.

Kain Panjang Pagi Sore Pekalongan Koleksi Irwan Julianto. Foto: Rosiana
Kain Panjang Pagi Sore Pekalongan Koleksi Irwan Julianto. Foto: Rosiana

Sebagai contoh produk batik yang dihasilkan oleh perusahaan batik Oey Soe Tjoen, The Tie Siet, Lie Boen len, Tjoa Giok Tjiam telah menjadi bagian dari koleksi penting berbagai museum dan kolektor di Indonesia maupun mancanegara. Keterangan tersebut, bisa dibaca dalam buku Peranakan Tionghoa Indonesia – Sebuah Perjalanan Budaya edisi ketiga 2018, yang menjadi fokus pembedahan dalam diskusi ini.

Kesimpulannya, bahwa Indonesia memiliki banyak garis ras keturunan yang dihasilkan oleh persilangan budaya. Sehingga karya budaya yang dihasilkan pun mengikuti perkembangan dari suatu budaya di daerah tersebut. Tidak bisa disangkal, besar pengaruh etnis Tionghoa dalam mempengaruhi batik di Indonesia. Terlihat dari serpihan batik-batik peranakan seri lawas dan terkini milik kolektor Hartono Sumarsono serta Irwan Julianto, yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta. Batik di setiap daerah memiliki corak yang khas . (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here