Pameran Foto Ngelingake Awake Dhewe: Dokumentasi Karya Khocil Birawa

0
29
Foto Krisdayanti hasil jepretan Khocil Birawa. Foto: A.Sartono
Foto Krisdayanti hasil jepretan Khocil Birawa. Foto: A.Sartono

Khocil Birawa mungkin merupakan salah satu jurnalis sekaligus seniman yang namanya demikian merakyat di Yogyakarta. Artinya, ia dikenali oleh hampir semua lapisan masyarakat, baik itu tokoh politik, pejabat, pemimpin perusahaan, seniman/budayawan, mahasiswa, bahkan juga rakyat biasa. Hal itu karena Khocil kiprah kerja dan pembawaannya yang demikian luwes, ramah, hangat, sekaligus gaul. Sosoknya yang agak eksentrik mungkin juga menjadi salah satu ciri khas yang ada padanya sehingga ia mudah dikenali. Belum lagi sapaannya yang khas, “Hallo Boss…” Sapaan ini tidak ada duanya di Yogyakarta. Jika orang mendengar sapaan dengan kata-kata itu. Maka dapat dipastikan bahwa itu adalah Khocil. Tidak peduli orang yang disapa itu boss beneran, orang yang bossy, atau orang biasa, bahkan anak-anak pun akan ia sapa dengan sapaan khasnya itu.

Foto Soimah dan kerabatnya hasil jepretan Khocil Birawa. Foto: A.Sartono
Foto Soimah dan kerabatnya hasil jepretan Khocil Birawa. Foto: A.Sartono

Itulah Khocil Birawa, nama pena dan panggung yang justru lebih populer dari nama aslinya, Surasa. Sebagai jurnalis bisa dikatakan bahwa Khocil hadir di mana-mana. Event apa pun, terutama seni budaya. Hasil kinerja sekian tahun yang dilakoninya sebagai jurnalis (foto) mendorong Khocil untuk memamerkannya dalam Pameran Foto Tokoh dan Seni Budaya Yogya dengan tema Ngelingake Awake Dhewe (mengingatkan diri sendiri). Pameran tersebut diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta mulai 24-30 Desember 2018 dan dibuka secara resmi oleh Octo Lampito (Pemred SKH Kedaulatan Rakyat).

Khocil Birawa mementaskan monolog uintuk memeriahkan pembukaan pameran fotonya di TBY. Foto: A.Sartono
Khocil Birawa mementaskan monolog uintuk memeriahkan pembukaan pameran fotonya di TBY. Foto: A.Sartono

Tampilan foto sering mengandung makna atau pesan sejuta makna atau sejuta pesan. Lebih-lebih di tangan seorang jurnalis seperti Khocil. Tugas dan tanggung jawab seorang jurnalis adalah meliput dan mengabadikan momentum atau peristiwa. Memotret dengan hati itulah tugas seorang jurnalis untuk mengabadikan peristiwa termaksud. Pada perjalanan karier Khocil kerja kewartawanan akhirnya tidak sekadar tugas, tetapi juga passion, komitmen, dan dedikasi. Itulah yang diam-diam dijalani Khocil yang pernah menempuh studi di ASDRAFI Yogyakarta dan bergabung dengan berbagai kelompok teater dan ketoprak. Tentu saja hal itu tidak lepas dari ikatan emosional Khocil dengan jagad seni dan budaya. Demikian seperti yang dituliskan Octo Lampito dan Indra Tranggono yang secara profesional sekaligus personal memang dekat dengan sosok Khocil.

Konten Terkait:  Para Pembaca Puisi di Sastra Bulan Purnama
Foto Perbincangan WS Rendra dan Emha Ainun Najib dalam jepretan Khocil Birawa. Foto: A.Sartono
Foto Perbincangan WS Rendra dan Emha Ainun Najib dalam jepretan Khocil Birawa. Foto: A.Sartono

Jika berita adalah deskripsi verbal (kata-kata), maka foto mendeskripsikan peristiwa secara visual. Oleh karenanya keberadaan foto tidak sekadar sebagai ilustari berita verbal melainkan juga bisa berdiri sendiri sebagai berita visual (foto jurnalistik). Foto mengungkapkan banyak hal dari peristiwa yang tidak bisa dihadirkan oleh narasi verbal. Hal-hal yang bertautan dengan human interes atau peristiwa dramatic yang muncul dari realitas sosiologis adalah satu contoh dari hal yang tidak bisa diungkapkan melalui narasi verbal.

Khocil Birawa mendapingi Octo Lampito membuka pameran fotonya di TBY. Foto: A.Sartono
Khocil Birawa mendapingi Octo Lampito membuka pameran fotonya di TBY. Foto: A.Sartono

Pameran Foto dengan tema Ngelingake Awake Dhewe ini seperti bagian dari introspeksi Khocil terhadap apa yang telah dilakukannya dengan kinerja foto jurnalistik yang selama ini dijalani dan menjadi passionnya. Namun di balik itu sesungguhnya ia mengajak kita semua untuk eling atau ingat akan diri sendiri sebagai bentuk introspeksi atau mengingat kembali apa-apa yang pernah terjadi, dialami, dirasakan, dilihat, dinikmati di masa lalu. Foto sebagai bekuan peristiwa masa lalu bagaimanapun adalah realita kita bersama yang daripadanya kita selalu seperti ditarik mundur untuk belajar dan mengambil hikmah sebagai bekal untuk menapaki masa kini dan masa depan.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here