Dengan rambut palsu berwarna terang dan kostum panggung yang mencolok, Tony Broer berhasil membuat penonton yang hadir pada Penutupan Festival Teater Jakarta 2018 (FTJ) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 29 November 2018 terpukau. Duduk di antara penonton dengan memainkan gadget dan berdialog membuatnya menjadi sorotan penonton.

“Cuy, gue pengen main ke dunia lu dong cuy,” ucap Tony Broer pada seorang kawannya yang hidup di zaman Z, Penggalan dialog dari “Cuy, Gimana Nolong Elu Buat Pindah Dari Jaman BB ke Jaman Z?” adalah sebuah pertunjukan kolaborasi kontemporer yang di sutradarai oleh Yola Yulfianti dengan mengandalkan tubuh sebagai media utama dalam pertunjukan.

Tony Broer dihadapkan dengan teknologi yang serba digital di era generasi Z saat ini dan dia pun terus berjuang untuk beradaptasi dengan teknologi media digital yang sedang menjadi tren di kalangan generasi Z saat ini, seperti channel Youtube, Instagram, Twitter dan lain sebagainya.

Selain pertunjukan dari aktor legendaris, Tony Broer, Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di bawah dukungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta ini juga diisi dengan pengumuman dan malam anugerah kepada pemenang dari 15 grup yang sudah tampil dalam pertunjukan dari tanggal 20 November sampai 27 November 2018 yang berasal dari 5 wilayah se-DKI Jakarta.

Tony Broer Dalam Pentas Teater FTJ 2018. Foto: Stefani Dwi
Tony Broer Dalam Pentas Teater FTJ 2018. Foto: Stefani Dwi

Beberapa kategori penerima pengahargaan padan Festival Teater Jakarta 2018 ini antara lain, sutradara terbaik jatuh kepada Choki Lumban Gaol dengan naskah “Sementara Menunggu Godot” dari Teater Jerit, Pemeran utama pria terbaik Ajie Fadlie Sofiyan dalam naskah dan teater yang sama, Pemeran pembantu pria terbaik yaitu Aris Waluyojati sebagai Nagg dalam naskah “Endgame” dari Sindikat Aktor Jakarta dan beberapa kategori lainnya seperti Grup Terbaik I,II, dan III, Pemeran utama wanita terbaik, Pemeran pembantu wanita terbaik, Penata artistic terbaik dan Penata music terbaik.

Konten Terkait:  Semarak Pawai Awali Perhelatan FKY 29

“Generasi Z dan bagaimana generasi-generasi sebelumnya,kembali diurai dalam politik regenerasi yang panjang dan merupakan sebuah perspektif bagaimana FTJ 2018 melakukan dialog dalam spektrum politik antar generasi,” ujar Irawan Karseno, Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada pidato penutupan FTJ 2018.

Pemenang utama wanita terbaik FTJ 2018. Foto: Stefani Dwi
Pemenang utama wanita terbaik FTJ 2018. Foto: Stefani Dwi

Semua pertunjukan dan kegiatan dalam Festival Teater Jakaarta 2018 dibungkus dengan perspektif Gen Z sebagai tema utama dari Festival Teater Jakarta 2018. Gen Z sendiri merupakan suatu kategori demografis masyarakat modern untuk menyebutkan masyarakat yang hidupnya sudah terlanjur kecanduan dengan perkembangan teknologi digital. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here