Benggol Belong, itulah lakon yang dibawakan oleh Paguyuban Ketoprak Sukra Manis di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Selasa malam, 27 November 2018. Pertunjukan ketoprak ini sekaligus sebagai salah satu mata acara untuk memeriahkan wisuda siswa kursus MC Jawa Tingkat Dasar di Tembi Rumah Budaya Angkatan ke-39 yang berhasil meluluskan 25 orang siswa.

Lakon Benggol Belong dibuka dengan pengadeganan perbincangan keluarga Belong yang menjadi lurah/pemimpin/benggol para brandal di Alas Lasem. Mereka bisa hidup dengan berkecukupan dengan melakukan pekerjaan sebagai brandal (begal, rampok, maling, dan sejenisnya). Mereka bertindak demikian karena mereka merasa tidak puas atas nasib mereka. Di samping itu mereka marah oleh karena ada beberapa punggawa Kadipaten Rembang yang melakukan pemerasan serta korupsi. Ada banyak ketimpangan dan ketidakadilan di sana-sini.

Patih Joyo Sudargo bersama istri menitipkan bayi mereka pada Pak Tomo. Foto: A. Sartono
Patih Joyo Sudargo bersama istri menitipkan bayi mereka pada Pak Tomo. Foto: A. Sartono

Brandal di Alas Lasem itu akan ditumpas oleh Patih Jaya Sudiargo bersama prajurit Kadipaten Rembang, namun Patih Joyo Sudargo bersama rombongan kalah. Benggol Belong baru bersedia tunduk di bawah bujukan Tumenggung Notosutirto. Mereka kemudian dibawa ke Kadipaten Rembang untuk dimohonkan pengampunan dan supaya mendapatkan pekerjaan baru. Apa yang dilakukan oleh Tumenggung Notosutirto itu mendapatkan penghargaan tinggi di hadapan Adipati Joyo Negoro. Di hadapan Adipati Joyo Negoro itu pula Belong mengatakan bahwa ia menjadi brandal dan ingin membunuh Adipati Joyo Negoro karena disuruh oleh Patih Joyo Sudargo. Sebagai bukti atas hal itu ia menunjukkan keris milik Patih Joyo Sudargo yang katanya dipinjamkan kepadanya untuk membunuh Adipati Joyo Negoro.

Patih Joyo Negoro tidak bisa membantah semua itu dan ia menerima hukuman penjara selama 20 tahun. Kedudukan patih kemudian diberikan kepada Tumenggung Notosutirto. Kepada Tumenggung Notosutirto ini Patih Joyo Sudargo menitipkan Kepatihan dan istrinya, Sumiyati. Tumenggung Notosutirto akhirnya jatuh hati kepada Sumiyati. Setelah melalui proses yang alot akhirnya Sumiyati mau menjadi istri Notosutirto dengan janji bahwa jika Patih Joyo Sudargo selesai menjalani hukuman, ia akan kembali kepada Joyo Sudargo. Notosutirto pun tidak keberatan.

Konten Terkait:  Pembukaan IDF 2018: Identitas Diri dalam Balutan Gerak
Penjelasan suami istri Patih Joyo Sudargo menyadarkan kedudukan Sumiyatun dan Panut. Foto: A. Sartono
Penjelasan suami istri Patih Joyo Sudargo menyadarkan kedudukan Sumiyatun dan Panut. Foto: A. Sartono

Saat itu Sumiyati-Joyo Sudargo baru saja memiliki seorang bayi laki-laki. Bayi kemudian dititipkan pada Pak Tomo selaku abdi dalem Kepatihan. Anak itu oleh Pak Tomo kemudian diberi nama Panut dengan harapan agar kelak bisa jadi panutan. Panut yang hidup di desa bekerja sebagai penjual kayu bakar. Salah satu pelanggannya adalah Sumiyatun, putri dari Sumiyati-Notosutirto. Tanpa disadari keduanya saling jatuh cinta dan menginginkan untuk dapat hidup bersama dalam rumah tangga. Namun Notosutirto menolak Panut dan hendak menghukumnya dengan hukuman gantung.

Dalam perjalanan waktu akhirnya Patih Joyo Sudargo tahu bahwa Belong telah memfitnah dirinya atas suruhan Tumenggung Notosutirto. Belong dibunuh oleh Patih Joyo Sudargo. Seiring dengan itu Joyo Sudargo telah usai menjalani hukuman dan ia mendengar bahwa Panut anaknya yang dititipkan pada Pa Tomo mau digantung. Ia melaporkan semua peristiwa itu kepada Adipati Joyo Negoro. Selain itu ia kembali kepada Sumiyati, istrinya. Pada sisi inilah kemudian diketahui bahwa Panut dan Sumiyatun adalah kakak beradik satu ibu beda ayah. Cerita berakhir sampai di sini. Panut dan Sumiyatun tidak jadi menikah. Tumenggung Notosutirto harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Belong berperang nelawan Patuh Joyo Sudargo dan Patih Joyo Sudargo kalah. Foto: A. Sartono
Belong berperang nelawan Patuh Joyo Sudargo dan Patih Joyo Sudargo kalah. Foto: A. Sartono

Jika dicermati pertunjukan lakon Benggol Belong ini terasa datar. Unsur-unsur dramatikal kurang terperhatikan sekalipun materi lakonnya memberikan sarana yang besar untuk itu. Koordinasi dan konsolidasi lakon juga terlihat masih kurang rapi (kedodoran). Selain itu kecanggungan pemeranan juga tampak pada beberapa pemeran. Ekspresi dan penghayatan peran pada beberapa tokoh juga terasa kurang mendalam. Sekalipun demikian, sebagai sebuah hiburan, lakon Benggol Belong yang dipertunjukkan di Pendapa Tembi Rumah Budaya ini cukup memberikan hiburan dan kesenangan bagi penonton. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here