Kendhang dan Tembang Jawa Klasik Gaya Keraton Yogyakarta

0
20

Kendhang adalah ricikan gamelan dalam satu perangkat gamelan. Kendhang termasuk ricikan kebukan karena dimainkan dengan cara dikebuk (‘dipukul’ dengan telapak tangan). Variasi bunyi didapat berdasarkan cara memukul serta bagian telapak tangan mana yang dipakai. Fungsinya mengendalikan instrumen lain agar teratur dan laras. Seperti mengatur tempo, memberi aba-aba jalan, berhenti, berhenti sejenak, berganti gendhing/lagu dan lain-lain. Oleh karena itu tugas kendhang dapat berupa nampani, buka, ngayati maju atau kendho, ngayati suwuk dan lain-lain.

Kendhangan yang baik adalah kendhangan yang dapat menuntun irama agar tidak berubah, memimpin irama dengan benar, kebukan atau tabuhannya bersih, tidak nggeber. Dalam tabuhan karawitan gaya Yogyakarta menurut bentuk dan ukurannya kendhang dapat dibedakan menjadi empat jenis. Yaitu kendhang bem atau kendhang ageng, kendhang batangan atau kendhang gembyakan, kendhang penunthung dan kendhang ketipung. Pada dasarnya terdapat kendhangan baku, yaitu kendhangan dengan kendhang setunggal (satu) dan kendhangan dengan kendhang kalih (dua). Tabuhan gaya kraton Yogyakarta bersifat prasaja/sederhana, tetapi greget atau penuh semangat, mungguh atut dan agung/bernilai tinggi.

Sedangkan tembang adalah syair atau nyanyian Jawa yang mempunyai aturan-aturan tertentu. Tembang diciptakan dengan kata-kata yang disebut cakepan atau bisa juga disebut lirik.Cakepan dibuat sedemikian rupa untuk mengekspresikan jiwa penembangnya selaras dengan watak yang terdapat dalam setiap tembang. Di dalam cakepan terdapat istilah pedhotan (saat pemberhentian nafas), andhegan (juga pemberhentian nafas, hanya waktunya lebih lama) dan cengkok (cara melagukan berdasarkan titi nada dan titi laras). Fungsi tembang antara lain sebagai mantra tolak bala, ajakan melestarikan budaya, media untuk menyampaikan pesan, pelengkap jenis kesenian lain, ajang silahturahmi, memperluas wawasan, dan hiburan.

Jenis tembang yang digunakan dan diajarkan di keraton Yogyakarta adalah tembang/sekar alit atau macapat (terdiri dari dhandhanggula, pangkur, sinom, durma, asmarandana, kinanthi, mijil, gambuh, megatruh, pocung), sekar tengahan (antara lain balabak, wirangrong, juru demung, pranasmara, sokarini) dan sekar ageng/tembang gedhe (antara lain rara turida, langen kusuma, girisa, irim-irim).

Konten Terkait:  Kyai Janadaru dan Kyai Dewandaru di Tengah Alun-alun Lor Yogyakarta

Judul : Sekilas tentang Kendhang dan Tembang Jawa Klasik Gaya Karaton
Ngayogyakarta Hadiningrat
Penulis : Dra. Prapti Rahayu
Penerbit : Elmatera Publishing, 2012, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xii + 124

.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here