Puisi Bambang Widiatmoko

0
139

Kayu Aro

Dingin telah mempertemukan kabut dengan daun
Perempuan pemetik teh tangannya terus berayun
Dari hari ke hari nasib terbakar api unggun
Memetik tunas daun yang terus merimbun
Getar jantungnya berirama seperti gesekan daun.

Aku mengikuti langkah kakimu perlahan
Jejak telapak kaki terasa menggetarkan dahan
Seakan potret penindasan kembali ditayangkan
Di bukit bukit perkebunan – tampak beraturan
Dengan sigap kau sibakkan – terus berjalan ke depan.

Di perkebunan teh Kayu Aro – gerimis menangis
Meski keindahan semesta terus terlukis
Adakah yang dapat kau petik selain nasib yang terkikis
Mungkin waktu dan perjalanan hidup kian menipis
Entahlah. Kesunyian telah melupakan jiwa yang teriris.

2018

Museum Sangiran

Di museum Sangiran
Mengingatkan pada manusia purba
Sangiran beralih jadi daratan
Melepaskan diri dari pergerakan alam.

2.400.000 juta tahun lalu
Sangiran adalah dasar laut
Surga bagi ikan-ikan dan siput

Di akhir Kala Pliosen
Sangiran tertutup laut
Seperti pulau Jawa yang keriput.

Apakah kita
Berasal dari Homo Erectus
Dan hidup di masa kini
Merentang nasib sulit dipahami
Di bumi yang berevolusi?

2018

Museum Lingga

Di museum Lingga
Kabut memasuki ruang
Menyapa bebatuan, keramik dan pusaka
Aku terpana
Pada kejayaan kerajaan Lingga
Warisannya terjaga
Memenuhi seluruh ruang
Koleksi yang rapi tertata
Menggairahkan sukma.

Di museum Lingga
Tersimpan manuskrip yang sulit dibaca
Karena aksara – perlu mempelajarinya.

Terpajang keris Terapang
Hadiah Sultan Sulaiman kepada Raja Elang
Dan seperangkat alat tradisi buang ancak
Untuk melepaskan dari mahluk gaib.
“Bismillah.. Sireh Megad Sireh pemanggil,
Pemanggil aku jembalang tanah
Pembuang sial penghalau bale
Tesaji makan diancak, penunggu kampong,
Lekok, Tanjung, Buket dan lembah serte teluk
Menguse jaoh dari usek. Ke darat bejalan ke laut Tebia
Berseh kampong sapu sial hendak melepas marebahaye
Berambos kau jauh-jauh, jangan datang mengganggu”.

2018

Parabek 1

Tanah telah bau doa
Dan udara membantu menyebarkannya
Hingga ke pucuk-pucuk pohon kelapa
Lalu aku berdoa dalam sebuah ruang tak dijaga
Mengingatkan akan jejak panjang
Yang menembus waktu dan ruang
Di kaki gunung Singgalang
Kubah masjid dan belalang terbang.

Membaca kitab tentu harus tetap dijaga
Para santri datang dari penjuru nusantara
Udara dingin menyergap tubuhnya
Tapi jiwanya membara – mencari makna kata.
Di pesantren Parabek, waktu tak pernah mau menunggu
Lewat lambaian tangan para guru penyebar ilmu
Dan aku mendapat ilmu-ilmu baru
Menggetarkan urat nadi untuk bersujud pada-Mu.

Bukittinggi, 2018

Tubuh Waktu

Ditembak mati di dalam
Kubur yang digali sendiri
Pedihnya melebihi tikaman belati
Yang menancap di ulu hati.

Di Rimbang Baling
Aku merasakan kepedihan itu
Deretan rel kereta yang makin tua
Semakin enggan untuk bercerita.

Di tepian sungai Singingi
Air mata mengalir dari mata air
Membawa sisa tubuh waktu
Sepotong kisah pilu – tersangkut batu.

2018

BAMBANG WIDIATMOKO, penyair kelahiran Yogyakarta ini memiliki kumpulan puisi tunggal antara lain Kota Tanpa Bunga (2008), Hikayat Kata (2011), Jalan Tak Berumah (2014), Paradoks (2016), Silsilah yang Gelisah (2017). Kumpulan esainya Kata Ruang (2015). Sajaknya terhimpun di berbagai antologi puisi bersama antara lain Deklarasi Puisi Indonesia (2012), Sauk Seloko (2012), Secangkir Kopi (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogyakarta (2014), Jula Juli Asem Jakarta (2014), Negeri Langit (2015), Negeri Laut (2016), Pasie Karam (2016), Ije Jela (2016), Matahari Cinta Samudra Kata (HPI., 2016), Sail Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Kota Terbayang (2017), Hikayat Secangkir Robusta (2017). Ikut menulis esai di buku antara lain Jaket Kuning Sukirnanto (2014), Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (2016), Apresiasi Sastra dan Perbincangan Karya (2016), Isu Sosial dalam Puisi (2017). Jabal Rahmah Perjumpaan Sastra (2018). Cerpennya tergabung dalam antologi cerpen Lelaki yang Tubuhnya Habis Dimakan Ikan-ikan Kecil (2017). Alamat Jl. Meranti Raya H 200, Bekasi Timur 17515 Pos-el [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here