Dari dalam hati diwujudkan dalam gerak, nada, dan irama untuk persembahan kepada Yang Mahakuasa. Itulah ruh utama dalam Pagelaran Tari Ghayatri yang diselenggarakan oleh Subunit Seni Tari Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Univeritas Pembangunan Nasional (UPN) di Gedung Kesenian Kabupaten Sleman, Kamis malam, 22 November 2018. Roh dalam Pagelaran Tari Ghayatri ini adalah bentuk dari doa yang diungkapan tidak dalam kata-kata lisan atau tulisan, namun dalam bentuk pola-pola gerak tari, irama, dan nada. Semuanya menjadi sarana bagi pemujaan/persembahan kepada Hyang Widhi sekaligus ungkapan rasa syukur, bahagia, dan cinta serta kerinduan kepada Tuhan pula dengan ungkapan estetis yang juga menghibur banyak orang.

Reza, Ketua UKM Seni UPN, dalam sambutannya menyampaikan agar teman-teman yang tergabung dalam UKM Seni UPN terus berkarya agar senantiasa karya-karyanya semakin baik dan produktif. Diharapkan juga ke depan semakin terjalin kolaborasi yang baik antara subunit seni tari dengan subunit seni lainnya seperti karawitan, desain grafis, fotografi, dan lain-lain. Dengan demikian pula nama UPN semakin dikenal dan dikenang masyarakat luas.

Tari Hands Get Raised Dance dalam Pagelaran Tari Ghayatri. Foto: A. Sartono
Tari Hands Get Raised Dance dalam Pagelaran Tari Ghayatri. Foto: A. Sartono

Pagelaran Tari Ghayatri dibuka dengan Tari Cenderawasih yang ditarikan oleh Mutiara Nur Aisyah dan Mega Kurnia Victory. Tarian ini ditarikan dengan sangat cantik oleh keduanya yang berperan seperti sepasang burung cenderawasih yang sedang kasmaran. Tari Cenderawasih ini terinspirasi oleh burung cenderawasih yang dikenal dalam bahasa Bali sebagai Burung Dewata. Tari Cenderawasih adalah sebuah Tari Bali dengan kostum dan tata gerak tari yang khas Bali, lincah, dinamis, greget, cekatan, luwes, dan memikat. Seperti laiknya burung cenderawasih yang suka menari, penuh gerak, dan menyanyi sambil memamerkan bulu-bulu indahnya ketika akan melakukan perkawinan.

Sajian Tari Cenderawasih kemudian disusul dengan sajian Tari Dream in A Dream Dance yang mengisahkan tentang pencarian cinta sejati di garis batas antara mimpi dan kenyataan. Tarian ini dibawakan oleh lima orang penari. Usai sajian tari tersebut kemudian disusul dengan sajian Tari Lalu. Karya ini diilhami oleh kepercayaan akan adanya kejayaan di balik proses suka dan duka. Proses atau apa pun yang kita kerjakan akan menuai hasilnya di waktu kemudian. Proses tidak selalu mulus. Akan ada banyak tantangan. Ada banyak pendapat dan pandangan, namun semuanya bisa ditempuh dengan baik jika dalam setiap perbedaan ada bingkai persatuan untuk menuju kejayaan.

Konten Terkait:  Awas! Ada Dua Hari Nahas Berurutan pada Pekan Ini
Tari Dream and A Dream Dance dalam Pagelaran Tari Ghayatri. Foto: A. Sartono
Tari Dream and A Dream Dance dalam Pagelaran Tari Ghayatri. Foto: A. Sartono

Hands Get Raised Dance merupakan sajian berikutnya. Tarian ini menggambarkan perjuangan seseorang yang tidak akan menyerah oleh tantangan dan hambatan. Perjuangan yang diniati dengan tulus dan doa yang ikhlas akan menghasilkan sesuatu yang baik. Mungkin bukan yang terbaik, namun bisa jadi menjadi yang satu-satunya. Tari ini memang tidak berangkat dari seni tradisi. Sepenuhnya hasil garapan gerak tari modern dengan iringan musik The Way I Do dan White Flag oleh Bishop.

Para penari dan panitia Pagelaran Tari Ghayatri berfoto bersama di Gedung Kesenian Sleman. Foto: A. Sartono
Para penari dan panitia Pagelaran Tari Ghayatri berfoto bersama di Gedung Kesenian Sleman. Foto: A. Sartono

Puncak sajian pagelaran tari ini adalah dengan ditampilkannya Tari Njangkung Pangastuti. Tari hasil olahan koreografer Dian Fitriana Dewi dan composer Eko Bagus Prastya ini dipersiapkan selama tiga bulan serta melibatkan 11 orang penari. Tari Njangkung Pangastuti mencoba melihat kembali sejarah perjalanan hidup masing-masing individu, berproses untuk menjadi, di mana di dalamnya ada gelak tawa, tangis, jeritan, kesedihan, kesesakan, perselisihan, dan seterusnya. Namun pada akhirnya semuanya itu menjadi pembelajaran yang berharga bagi hidup dan kehidupan sebab tanpa itu semua orang tidak akan pernah mengerti apa arti sebuah proses, apa arti sejarah. Di dalamnya selalu ada harapan karena di dalamnya ada pula doa dan usaha. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here