Musik kamisan Bentara Budaya Jakarta (BBJ) kembali menggelar acara yang bertajuk “Iskandar Widjaja Plays Partitas & Suites” yang menghadirkan musisi biola yang sarat talenta, Iskandar Widjaja, pada Kamis malam, 22 November 2018.

Dalam acara ini, Iskandar membawakan sepilihan repertior suite dan partita, salah satunya Partita E Major, BMW 1006 karya komponis ternama Johann Sebastian Bach dan suita karya Christian Sinding.

Di awal, Iskandar membawakan karya Christian Sinding dengan lantunan biola yang merdu dan penonton khidmat mendengarkannya. Begitu pula dengan permainan biolanya yang kedua, tetapi lantunannya sedikit energik dan ditemani oleh pianis Edith Widayani.

“The music is calm, relaxing, can ease mind and peaceful,” kata Iskandar dalam mendeskripsikan karya Sinding yang artinya musik tersebut tenang, relaks, dapat menenangkan pikiran.

Sebelum sampai di penghujung acara, Iskandar memberikan penonton sebuah kejutan. “The song before is supposed to be the last one, but I have a surprise to present if only I get your guys applause,” ucap Iskandar yang disambut tepuk tangan penonton.

Iskandar mengatakan, lantunan biola yang akan dia bawakan ialah “The Greatest Showman”. Ternyata, kejutannya bukan hanya itu, tetapi Iskandar juga membawakan sebuah lantunan lagu Hip-hop.

Poster Pertunjukan Iskandar Widjaja. Foto: Foto: Dok. BBJ
Poster Pertunjukan Iskandar Widjaja. Foto: Foto: Dok. BBJ

Ketika acara selesai, penonton memberikan tepuk tangan yang meriah kepada Iskandar. Ketua Pengelola Bentara Budaya Jakarta, Ika W Burhan, menyebutkan bahwa ini bukan kali pertama Iskandar Widjaja pentas di Bentara Budaya Jakarta.

Dalam pertunjukan sebelumnya, dia menampilkan lagu-lagu klasik gubahan berbagai komposer ternama. Dia juga berkolaborasi dengan musisi-musisi Indonesia, salah satunya Ary Sutedja.

“Kini Iskandar pun mempersembahkan alunan musik biolanya bersama dengan pianis Edith Widayani,” kata Ika.

Belum lama Iskandar Widjaja juga tampil di Shanghai Philharmonic Orchestra di mana dirinya dipujikan sebagai violis yang memadukan keselarasan dan kepekaan musikal khas Timur dengan gaya permainan Barat yang tegas sekaligus lugas.

Sebuah ulasan dari media setempat, Shanghai Eastern Broadcasting Company, menyebutkan bahwa permainan biolanya utuh menyatu bersama alunan musik orkestra hingga seakan sanggup membawa hadirin ke dunia musikal Beethoven, termasuk mengajak pendengarnya menemukan kembali karya-karya sang komposer maestro lewat alunan nada khas Iskandar Widjaja.

Lahir di Berlin, Iskandar Widjaja belajar memainkan biola pada usia 4 tahun. Cucu dari Udin Widjaja seorang pemain biola Istana Negara pada zaman presiden Soekarno ini mempelajari biola pertama kali dengan teknik Suzuki di bawah pengawasan Susan Mann.

Pada umur 11 tahun, Iskandar diterima menjadi siswa luar biasa di College of Music Berlin. Kepiawaiannya memainkan biola telah membawa Iskandar menjuarai berbagai kompetisi musik dunia seperti di the 21st Concorso Violinistico Internazionale Andrea Postacchini.

Iskandar berhasil meraih gelar “Best Bach“ dan “Best Beethoven Sonata” di kompetisi tersebut. Selain itu Iskandar juga aktif dalam kegiatan sosial, termasuk bersama Kompas Gramedia, pada tahun 2014 pernah menggelar pentas musik bersama anak-anak jalanan di Jakarta.

Adapun Edith Widayani adalah seorang pianis muda berbakat dari Indonesia. Baru-baru ini Edith mendapatkan gelar doktor seni musik dari Eastman School of Music.

Pianis ini juga meraih penghargaan dari berbagai kejuaraaan seperti Henry Cobos Endowed Piano Prize dan the Judith Solomon Award in Chamber Music. Ia aktif mengajar dan memberikan kuliah musik di banyak tempat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here