Candi Kedulan Abad ke-9 Menyebut Soal Dam dan Pajak

4
112
Candi Kedulan dilihat dari arah utara-timur. Foto: A. Sartono
Candi Kedulan dilihat dari arah utara-timur. Foto: A. Sartono

Candi Kedulan berada di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY. Letak candi adalah 168,45 meter di atas permukaan tanah. Candi ini dibatasi oleh perumahan penduduk di sisi utara, Dusun Segaran di sisi timur, Dusun Plasan di sisi selatan, dan Sungai Wareng di sisi barat.

Candi Kedulan ditemukan pertama kali pada tanggal 24 September 1993 oleh para pekerja penambang pasir. Mereka menemukan susunan blok-blok batu di lokasi dan kemudian melaporkannya kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Salah satu pekerja yang melaporkan hal itu adalah Sriyanto yang beralamatkan di Dusun Wanabaya, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah. Laporan ini segera ditindaklanjuti oleh BPCB dengan ekskavasi penyelamatan. Ketika ditemukan, candi berada di kedalaman 6 meter di bawah permukaan tanah. Kondisi candi berada dalam keadaan runtuh ketika diketemukan. Berdasarkan kajian stratigrafi Candi Kedulan tertutup lahar 8 meter yang tersusun atas 15 sedimen.

Candi Kedulan dengan tiga pondasi candi perwara di bagian depannya. Foto: A. Sartono
Candi Kedulan dengan tiga pondasi candi perwara di bagian depannya. Foto: A. Sartono

Berdasarkan data arkeologis yang diperoleh dapat dikemukakan beberapa fakta antara lain bahwa Candi Kedulan berlatar belakang agama Hindu. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan lingga, arca Ganesha, dan arca Durgamahisasuramardini yang merupakan pantheon dari agama Hindu. Fakta lainnya adalah bahwa candi memiliki arah hadap ke timur. Selain itu denah candi berbentuk persegi dengan ukuran 4 m x 4 m.

Berdasarkan hasil rekonstruksi dapat diketahui bahwa Candi Kedulan terdiri dari satu candi induk menghadap ke arah timur dan tiga candi perwara berada di sisi timur candi induk. Berdasarkan ekskavasi berhasil ditemukan lingga-yoni, arca Nandiswara, Nandi, Mahakala, dua buah padmasana, dan Agastya. Selain bangunan candi induk dan candi perwara Candi Kedulan memiliki pagar halaman I dan halaman II.

Uji susun salah satu candi perwara di Candi Kedulan. Foto: A. Sartono
Uji susun salah satu candi perwara di Candi Kedulan. Foto: A. Sartono

Sumber tertulis yang dapat dikaitkan dengan keberadaan Candi Kedulan adalah dua buah prasasti yang diketemukan pada tahun 2002, yakni Prasasti Sumundul dan Prasasti Pananggaran. Kedua prasasti ini menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuna serta berangka tahun 791 Saka (869 M). Isi prasasti menjelaskan tentang adanya dawuhan (dam) yang digunakan oleh masyarakat dari dua desa, yakni Desa Pananggaran dan Desa Parhyangan serta adanya kewajiban membayar pajak untuk pengelolaan dam tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu telah mengenal manajemen irigasi dan pemanfaatannya untuk pertanian.

Candi Kedulan masih dlam tahap pemugaran di bulan November 2018. Foto: A. Sartono
Candi Kedulan masih dlam tahap pemugaran di bulan November 2018. Foto: A. Sartono

Kedua prasasti itu juga menyebutkan tentang adanya bangunan suci yang bernama Tiwagaharyyan. Sekalipun demikian, tidak ada keterangan yang menunjukkan bahwa bangunan suci itu adalah Candi Kedulan atau bukan. Diperkirakan kedua prasasti tersebut dibuat sezaman dengan pendirian Candi Kedulan. Demikian antara lain mengenai Candi Kedulan seperti yang dituliskan dalam katalog pameran cagar budaya oleh BPCB DIY. (*)

4 KOMENTAR

  1. Disebutkan candi tsb tertimbun 8 m oleh lahar apa debu vulkanik.? Lahar dan debu vulkanik adalah produk gunung api. Tidak disebutkan apakah lahar dan debu vulkanik itu hasil erupsi Merapi atau gunung lain sekitar Yogya, dan tahun berapa. Lalu, apakah erupsi yg menimbun candi juga berdampak pada kehidupan kemasyarakatan (sosial dan ekonomi) ketika itu…. Slm

  2. Terima kasih atas responnya Mas Ridwan Nyak Baik. Pengunggah berita juga belum mendapatkan keterangan yang lebih luas dan mendalam mengenai hal tersebut. Mungkin dugaan yang mendekati kenyataan debu vulkanik yg dimaksud memang berasal dari Merapi (mengingat gunung ini yg teraktif dan terdekat dengan lokasi candi). Tentang tahun berapanya memang belum ada keterangan secara rinci. Perlu kajian geologis dan stratigrafi yang mendalam tentang hal itu. Umumnya penimbunan terjadi secara berkala (tidak serta merta) sehingga timbunan membentuk semacam lapisan2. Kemungkinan erupsi-erupsi gunung berapi memang berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat waktu itu. Hanya saja berita mengenai hal itu di zaman itu relatif minim. Salam.

  3. Bisa diduga bahwa erupsi mestinya berdampak secara sosial ekonomi pada masyarakat waktu itu. Hanya saja kita tidak tahu seberapa besar erupsi yang terjadi. Barangkali erupsi itu terjadi tidak hanya satu dua kali. Mungkin berkali-kali sehingga timbunan menjadi semakin tebal. Studi geologis untuk hal itu sangatlah membantu. Demikian komen saya. Salam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here