Berita Centhini Tahap 169: Persiapan Perkawinan Besar

0
34
Ainun Nais dari ISI Yogyakarta jurusan tari yang sedang Studi Orientasi Profesi di Tembi Rumah Budaya. Foto: Indra
Ainun Nais dari ISI Yogyakarta jurusan tari yang sedang Studi Orientasi Profesi di Tembi Rumah Budaya. Foto: Indra

Dalam acara macapatan malam Rabu Pon putaran ke-169 di Tembi Rumah Budaya pada 13 November 2018 lalu para pecinta macapat secara bergantian menembangkan Pupuh 356 pada 42 sampai dengan pada 80. Pupuh ini berisi 337 Pada tembang Dhandhanggula dan merupakan Pupuh terakhir pada serat Centhini jilid 5.

Pada Pupuh ini diceritakan kesibukan Pedukuhan Wanamarta dalam memersiapkan upacara perkawinan antara Seh Amongraga dan Niken Tambangraras. Ki Bayi Panurta mengerahkan para pembantunya untuk memersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pada upacara perkawinan. Senyampang hari masih pagi mereka berbagi tugas. Ada yang membladah rumah, membuka gebyok atau dinding kayu yang menjadi sekat pendapa. Ada pula yang mencari tetuwuhan untuk tarub di antaranya, tebu, cengkir, dan pisang raja.

Tidak sampai paruh hari semuannya sudah selesai. Rumah serta halaman menjadi bersih. Ki Bayi memberi perintah agar semua yang bekerja, termasuk keluarganya dan juga anak-anak diberi makan. Mereka dikumpulkan di pendapa. Di tempat itu telah disediakan aneka hidangan termasuk nasi dan ikan. Setiap orang akan senang melihatnya. Mereka semua makan dengan lahap. Jika makanan berkurang ditambah dengan berlimpah, sehingga semua yang bekerja menjadi kenyang.

Pesinden karawitan Mardi Budoyo dari kanan Nika, Nita dan Karsi. Foto: Indra
Pesinden karawitan Mardi Budoyo dari kanan Nika, Nita dan Karsi. Foto: Indra

50. Sarupane santri bocah cilik
kinumpulkên ngingonan sadaya
dènadhêpi pêpangane
suka dènnya andulu
lamun kirang dipunimbuhi
sêkul kêlawan ulam
nutuk sami tuwuk
kamituwa pra mumulang
nèng pandhapa karya sujèn sapit abing
miwah kang mupuk ulam

53. Kyai Bayi angling maring Luci
sira kang dadi juruning pangan
aywa kakurangan kabèh
sakarêpe dèntuwuk
rijêkine Allah marêngi
mangsa sabêna dina
mêmangan anutuk
sakèhe kang nambut-karya
samya sêngkut suka rênane kapati
warêg mangan ambêta

Bp Tarto pengendang dan pelatih karawitan Mardi Budoyo. Foto: Indra
Bp Tarto pengendang dan pelatih karawitan Mardi Budoyo. Foto: Indra

Selain membuka dinding kayu di pendopo dan memasang tarub di halaman depan, Ni Malarsih, Panukma dan Panamar mendapat tugas menghias kamar pengantin di patanen atau senthong tengah tempat bersemayamnya Dewi Sri. Mereka bertiga sejak pagi hingga ngasar telah menghabiskan aneka macam rerekan apik. Tujuannya agar tempat tidur pengantin yang mereka hias lebih indah dibandingkan dengan dua peristiwa perkawinan sebelumnya. Kerobong tempat tidur diselimuti dengan kain mori putih, termasuk bantal dan guling. Demikian pula bagian lain di ruang pengantin seperti, tiang, pamidangan, tumpangsari, sunduk kili, dilapisi mori putih. Semuanya serba putih sehingga kelihatan agung dan suci.

Ki Bayi Panurta bersama kerabat dan seluruh warga Wanamarta tidak mau melewatkan peristiwa penting yang telah lama dinanti-nanti oleh seluruh rakyat Wanamarta yaitu perkawinan Niken Tambangraras. Ada semangat kegotongroyongan yang ditunjukkan oleh warga pedukuhan Wanamarta di bawah pimpinan Ki Bayi Panurta.

Para pecinta macapat yang dipandu oleh Ki Warjudi WS mencoba menangkap suasana kesibukan padukuhan Wanamarta melalui tembang-tembang yang dibawakan dengan diselingingi guyon maton.

Laras Ayu Pangastuti mahasiswa SOP ISI Yogyakarta jurusan tari. Foto: Indra
Laras Ayu Pangastuti mahasiswa SOP ISI Yogyakarta jurusan tari. Foto: Indra

Cerita perkawinan Niken Tambangraras masih panjang, sepanjang penantiannya mendapatkan laki-laki yang mempunyai ilmu lebih tinggi dari ayahnya Ki Bayi Panurta.

Selain kedatangan para mahasiswa ISI Yogyakarta jurusan tari, acara macapatan dimeriahkan oleh karawitan Mardi Budoyo pelatih Bapak Tarto dan pimpinan bapak Wakijo dari Mrisi Bantul Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here