Hal-hal yang berkait dengan urusan audio di masa lalu dipamerkan oleh Bentara Budaya Yogyakarta dengan tema Slompret Jogja. Pameran itu dilakukan oleh Kelompok Padmaditya dengan tekanan memamerkan audio lawasan seperti gramophone, turntable, phonograph, radio, tape recorder, tape reel, dan semacamnya. Pameran diselenggarakan mulai tanggal 13-23 November 2018.

Pameran audio lawasan oleh Kelompok Padmaditya sesungguhnya pernah juga dilakukan pada tahun 2013 dengan tema Layang Swara yang mendapatkan tanggapan sangat antusias dari pengunjung. Bahkan kemudian Padmaditya juga berpameran keliling dari Yogyakarta, Jakarta, Solo, Surabaya, dan Denpasar. Tahun 2016 Padmaditya kembali menggelar pameran ausio lawasan dengan judul Corong Bernyanyi dengan lebih menekankan pada gramafon sebagai objeknya.

Tape Reel Akai, Japan, Koleksi Maryadi,Klaten. Foto: A. Sartono
Tape Reel Akai, Japan, Koleksi Maryadi,Klaten. Foto: A. Sartono

Tahun 2018 ini Padmaditya kembali melakukan pameran audio lawasan yang gagasan atau idenya digodok di Ndalem Sunaryan, Sidoarum, Godean, Sleman. Dari Ndalem Sunaryan muncul gagasan untuk memamerkan audio lawasan yang sebelumnya belum sempat dipamerkan. Beberapa audio lawasan yang dimaksud di antaranya adalah tape reel, ampli tabung, radio transistor, dan lain-lain. Selain itu pameran juga menampilkan hasil rekaman masa lalu yang berbentuk piringan hitam, kaset rekorder beserta kemasannya yang menarik. Oleh karena itu pula pengunjung pameran audio lawasan Slompret Jogja juga akan bisa menikmati alunan lagu, gending, siaran wayang kulit, dagelan Mataram, dan lain-lain selama mengunjungi ruang pameran.

Radio Philips, 1960 koleksi Maryadi, Klaten. Foto: A. Sartono
Radio Philips, 1960 koleksi Maryadi, Klaten. Foto: A. Sartono

Hermanu yang menuliskan tulisan kuratorial atas pameran ini antara lain menyampaikan bahwa judul atau tema Slompret Jogja diambil karena terinspirasi oleh koran zaman lampau yang terbit tahun 1884 yang bernama Slompret Melajoe. Koran ini terbit di Kota Semarang. Koran ini sepertinya ingin menyuarakan keberadaan masyarakat Melayu atau Indonesia kepada dunia luar, yang intinya bahwa di Semarang (Jawa) sudah ada komunitas orang-orang Melayu (Indonesia) yang keberadaannya diakui di tengah penjajahan Belanda saat itu.

Gramaphone Corong Columbia, 1930, Koleksi dr Didi Sumarsidi, Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Gramaphone Corong Columbia, 1930, Koleksi dr Didi Sumarsidi, Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Slompret Jogja diambil sebagai tema pameran ini karena cita-cita atau harapan yang kurang lebih sama dengan Slompret Melayu, yakni menyuarakan kesenian top dari Yogyakarta di masa lalu kepada dunia. Oleh karena itu pameran ini juga dilengkapi dengan pameran lukisan foto diri beberapa tokoh seni top dari Yogyakarta waktu itu di antaranya Kusbini, Nyi Tjondroloekito, Ki Hadi Sugito, Basiyo, dan Pak Besut. Tokoh-tokoh seni ini di zamannya menjadi fenomena luar biasa dan menjadi idola tidak saja bagi masyarakat Yogyakarta namun juga di luar itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here