Satu koleksi unik di Museum Kereta Api Ambarawa (KAA) adalah roda kereta api uap bergerigi yang dilengkapi dengan rel khusus. Tidak seperti roda kereta api pada umumnya, roda bergerigi ini dulu hanya digunakan untuk jalur kereta api yang menanjak, salah satunya jalur kereta api jurusan Ambarawa – Bedono, Semarang, Jawa Tengah.

Gerbong kayu koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Suwandi
Gerbong kayu koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Suwandi

Roda kereta api uap bergerigi ini sangat unik dan merupakan salah satu dari tiga yang masih tersisa di dunia, dua di antaranya ada di Swiss dan India. Sementara rel khusus untuk roda bergerigi saat ini masih bisa ditemui di sepanjang jalur wisata Ambarawa—Bedono, Semarang, Jawa Tengah.

Itulah salah satu koleksi unik yang sempat ditemui oleh awak Tembi ketika berkunjung ke museum tersebut pada akhir bulan Oktober 2018. Selain koleksi unik tersebut, di Museum KAA ini juga tersimpan berbagai lokomotif kereta api uap buatan Eropa dan juga lokomotif kereta api diesel, di antaranya tipe B2502, B2503 (Esslingen 0-4-2RT), tipe C1218, tipe B 5112, D5106, dan D 300 23. Untuk tipe D5106 adalah lokomotif buatan Jerman yang dibawa ke Jawa tahun 1920 dengan wilayah jelajah Yogyakarta, Kutoarjo, Purworejo, Purwokerto. Semua koleksi lokomotif ini dipajang berjajar di sepanjang rel dan diberi atap sehingga terlindungi dari panas dan hujan. Banyak pengunjung yang berswafoto di tempat ini.

Lokomotif kereta api uap tipe D5106 koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Suwandi
Lokomotif kereta api uap tipe D5106 koleksi Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Suwandi

Beberapa koleksi unik lainnya di museum yang diresmikan 8 April 1976 oleh Suparjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah, ini adalah tempat penjualan karcis yang terbuat dari kayu, gerbong kayu, mesin pencetak karcis, ruang stasiun yang masih menunjukkan nuansa kekunoan, meja putar yang digunakan untuk memutar lokomotif, dan peralatan yang digunakan oleh petugas kereta api (topi, lampu, rambu-rambu, mesin hitung, sempoa). Jika Anda berkunjung ke museum ini, seolah-olah anda akan dibawa ke kehidupan masa lalu, terutama saat berada di stasiun ini.

Suasana di ruang stasiun Willem I, Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Suwandi
Suasana di ruang stasiun Willem I, Museum Kereta Api Ambarawa. Foto: Suwandi

Museum KA Ambarawa ini dulu merupakan stasiun kelas satu yang diberi nama Willem I, raja Belanda. Stasiun Ambarawa dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda tahun 1873 dan berketinggian 474,40 meter di atas permukaan laut. Di dalam area museum ini juga ada sebuah gerbong yang berfungsi sebagai perpustakaan yang dilengkapi ruang bacanya. Cukup unik memang. Anda hanya perlu mengeluarkan uang Rp 10.000 (dewasa) atau Rp 5.000 (anak-anak) untuk bisa mengunjungi ke museum ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here