Penghargaan untuk pahlawan warisan budaya Indonesia digelar di La Moda Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu, 10 November 2018. Yayasan Al-Mar yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, kemanusian, pendidikan dan budaya melalui The Culture Heritage of Indonesia (CHI) memiliki perhatian pada kelangsungan warisan budaya Indonesia.

Penghargaan Untuk Pengrajin Malam. Foto: Dok. CHI
Penghargaan Untuk Pengrajin Malam. Foto: Dok. CHI

CHI memiliki tujuan untuk turut berperan dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia. “Pada kesempatan ini, CHI memberikan apresiasi penghargaan kepada para pahlawan warisan budaya Indonesia dan untuk kali yang pertama penghargaan ini diberikan kepada pejuang di balik bertahannya industri batik,” ucap Ayu Dyah Pasha, salah satu pendiri Yayasan Al-Mar, d isela-sela kegiatan acara.

Berkumpul sejak bulan Juli 2018 membicarakan CHI Award, duduk sebagai pendiri Al Mar Foundation adalah Wiwit Ilham Panjaitan, Insana Habibie, Tri Sudwikatmono, Pinta Solihin Kalla, dan Ayu Dyah Pasha. Mereka kemudian membentuk dewan pemerhati untuk menentukan kategori dalam penghargaan.

Dewan Pemerhati dan Pendiri Yayasan Al-Mar. Foto: Dok. CHI
Dewan Pemerhati dan Pendiri Yayasan Al-Mar. Foto: Dok. CHI

Duduk sebagai Dewan Pemerhati Seni Budaya untuk CHI Award 2018 adalah Neneng Iskandar dari Wastraprema, Musa Widyatmodjo (Perancang mode Indonesia), William Kwan (pengamat wastra batik), Insana Ilham Habibie (kreator batik), dan Wiwit Ilham Panjaitan (Inisiator dan Pendiri CHI Heritage – Warisan Budaya Indonesia).

CHI Award 2018, memberikan apresiasi kepada para pahlawan warisan batik di Indonesia. Menurut Ayu Dyah Pasha, dari awal hingga selesai, proses batik merupakan pekerjaan tangan yang penuh cita rasa seni dengan keteguhan hati dalam melaksanakannya. Bahkan dalam menciptakan peralatan untuk membatik juga dilakukan dengan penuh cita rasa seni, ketrampilan tangan dan sekali lagi keteguhan hati yang tidak semua orang memilikinya.

Namun kemajuan teknologi dan berhembusnya ombak industri modern dalam pakaian jadi, membuat industri batik semakin meredup, seiring dengan hal ini meredup pula kehidupan para pengrajin yang berada di balik industri batik. Pembuat alat membatik canting tulis kini hanya tinggal hitungan jari tangan jumlahnya, pembuat canting cap juga memprihatinkan, demikian pula dengan pembuat ‘malam’ atau lilin yang digunakan untuk membatik yang semakin sedikit.

Dan yang menyedihkan belum banyak atau berkurangnya ketertarikan dari generasi muda untuk meneruskan kepandaian membuat alat utama dalam membatik, yaitu: canting dan malam. Kepada merekalah penghargaan CHI Award 2018 kategori pelestari diberikan. CHI Award 2018 diberikan kepada Kategori Pelestari, Penerus, Inovator, dan juga Penghargaan Khusus (Legacy).

Penghargaan Untuk Perajin Canting Cap. Foto: Dok. CHI
Penghargaan Untuk Perajin Canting Cap. Foto: Dok. CHI

Kriteria untuk masuk dalam Kategori Pelestari; antara lain pengrajin yang merupakan warga negara Indonesia tanpa batasan usia, gender, dan agama, yang melestarikan warisan budaya Indonesia “batik” dengan karakter dan ciri yang khas. Masih aktif bekerja atau mengelola studio penghasil kerajinan atau melakukan kegiatan berbasis budaya.

Kriteria Kategori Penerus antara lain; pengrajin yang merupakan warga negara Indonesia tanpa batasan usia, gender, dan agama, yang melanjutkan usaha batik yang diturunkan dan memberi efek signifikan pada kelangsungan sebuah budaya dan usahanya; masih aktif bekerja atau mengelola studio penghasil kerajinan atau melakukan kegiatan berbasis budaya, dan; sukses membina atau aktif dalam komunitas tertentu yang berlandaskan budaya Indonesia.

Kategori Inovator, kriterianya antara lain; pengrajin atau sosok warga negara Indonesia yang melahirkan teknik baru untuk proses pembuatan batik. Membangun usaha sendiri yang memberi efek signifikan pada keberlangsungan dan pengembangan sebuah budaya, menginspirasi orang di sekitarnya, dan karyanya dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Juga masih aktif bekerja atau mengelola studio penghasil kerajinan atau melakukan kegiatan berbasis budaya.

Untuk Kategori Penghargaan Khusus akan diberikan kepada Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro. Go Tik Swan adalah orang yang mendapat tugas dari Presiden Soekarno untuk membuat Batik Indonesia. Seperti diungkap dalam Jawa Sejati: Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro (2008), Batik Indonesia yang dibuat Go Tik Swan pada dasarnya merupakan hasil perkawinan batik klasik keraton—terutama gaya batik Surakarta dan Yogyakarta—dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, terutama Pekalongan.

Sementara itu, Musa Widyatmodjo selaku Dewan Pemerhati Seni Budaya untuk CHI Award 2018 berharap kepada Pemerintah, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, untuk lebih memberdayakan dan mengembangkan batik agar lebih dikenal dunia. “Kalau gerakan ini diinisiasi bisa menjadi hal luar biasa bagi kelestarian industri batik, termasuk pengrajin dan penjual batik di dalamnya,” ungkapnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here