Empat seniman/kreator muda yakni Adi Ardiyansyah, Arbi Putra, Bagus Sadewa dan Ramadhyan Putri Pertiwi memilih melukis atau berkreasi di alam terbuka. Mereka memilih langsung berbicara dengan lingkungannya untuk kemudian mereinterpretasikannya di atas kanvas (media). Mereka secara konsisten menjalani semua itu selama dua tahun terakhir. Hasil karya mereka itu kemudian dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-10 November 2018 dan dibuka secara resmi oleh Josep Wiyono.

Karya-karya yang dihasilkan oleh para seniman muda ini terlihat spontan. Bukan goresan yang halus dan detail. Hal demikian menyiratkan tentang proses yang stabil dan relatif konstan. Setiap goresan harus dilakukan dengan relatif cepat karena semuanya berpacu dengan waktu di mana pencahayaan di alam terbuka bisa berubah dengan cepat setiap saat. Selain itu, cuaca juga bisa berubah dengan sangat cepat. Bisa dibayangkan ketika memulai proses menggores cuaca cerah, namun di tengah proses bisa jadi cuaca tiba-tiba mendung dan turun hujan. Menanggapi kondisi semacam ini tentu dibutuhkan kiat yang jitu untuk mengatasinya.

Lukisan No 3, AOC, 2017, karya Ramadhyan Putri Pertiwi. Foto: A. Sartono
Lukisan No 3, AOC, 2017, karya Ramadhyan Putri Pertiwi. Foto: A. Sartono

Menurut Laksmi Sitaresmi yang menyampaikan pengantar bagi pameran kelompok ini, melukis on the spot seperti membangun studio portable tanpa dinding dimana mereka tidak sekadar melukis alam atau di luar lainnya saja, namun bermain dan mengolah rasa, jiwa, estetika, dan kejelian mata untuk menentukan objek nyata yang terpilih untuk kemudian diwujudkan atau dituangkan di atas kanvas. Barangkali memang ada rasa sensional tersendiri dalam melukis on the spot dibandingkan di dalam studio. Tidak semua orang bisa melakukan itu dengan perasaan nyaman, fun, dan merasa baik.

Lukisan No 43, AOC, 2018, Karya Bagus Sadewa. Foto: A. Sartono
Lukisan No 43, AOC, 2018, Karya Bagus Sadewa. Foto: A. Sartono

Sensasi melukis on the spot tidak hanya bisa dirasakan ketika berinteraksi dengan alam sekitar, namun juga ketika berhadapan dengan publik. Tentu hal ini berbeda dengan melukis di dalam studio. Di hadapan publik pelukis yang tengah melakukan proses melukis bisa ditanyai macam-macam oleh publik. Bahkan juga dikritik dan diledek atau dicemooh. Hal demikian bisa berhubungan langsung dengan perasaan pelukis. Perasaan yang tidak tenang bisa berpengaruh pada karyanya. Dari sisi ini pelukis on the spot bisa mendapatkan ilmu langsung dari masyarakat yakni bagaimana mengelola perasaan, pikiran, dan hatinya sendiri. Mental dan moril pelukis cukup teruji dengan metode melukis on the spot ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here