Upacara Adat Rebo Pungkasan Wonokromo, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 2018 ini menjadi semacam perayaan bagi ditetapkannya secara resmi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa Upacara Adat Rebo Pungkasan Wonokromo Pleret dan Kesenian Montro yang berasal dari wilayah Pleret sebagai warisan budaya tak benda. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa wilayah Kecamatan Pleret pada tahun ini mendapatkan dua anugerah sekaligus berkaitan dengan warisan budaya tak benda yang dimilikinya.

Upacara Adat Rebo Pungkasan Wonokromo selalu dilaksanakan di hari Selasa (malam Rabu terakhir di bulan Sapar). Hari tersebut dipilih untuk melaksanakan upacara karena konon pada hari seperti itulah Sultan Hamengku Buwana I bertemu dengan Kyai Fakih Usman alias Kyai Welit, tokoh penyebar agama Islam di Wonokromo. Disebutkan pula bahwa Sultan Hamengku Buwana I pernah pula menjadi santri dari Kyai Fakih Usman dengan cara menyamar sebagai rakyat biasa.

Puncak Upacara Adat Rebo Pungkasan tahun 2018 ini dilaksanakan Selasa malam, 6 November, namun rangkaian acaranya telah dimulai seminggu sebelumnya. Rangkaian acara itu di antaranya bersih desa dan pasar malam di lapangan Balai Desa Wonokromo. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah sebagai wujud syukur atas segala berkat dari Tuhan, permohonan, mengenangkan jasa Kyai Welit, sekaligus bentuk dari jalinan silaturahmi dan berderma/sedekah antarwarga masyarakat di wilayah Wonokromo dan sekitarnya. Selain itu, pelaksanaan upacara adat ini juga bagian dari bentuk atau upaya untuk melestarikan budaya dan memberikan kegembiraan bagi banyak orang. Bentuk sedekah atau derma itu diwujudkan dengan pembagian lemper kepada semua orang yang hadir dengan cara dilemparkan dari atas panggung.

Montro, salah satu Warisan Budaya Tak Benda di Pleret yang telah ditetapkan Kemendikbud RI memeriahkan Upacara Adat Rebo Pungkasan. Foto: A. Sartono
Montro, salah satu Warisan Budaya Tak Benda di Pleret yang telah ditetapkan Kemendikbud RI memeriahkan Upacara Adat Rebo Pungkasan. Foto: A. Sartono

Pada awalnya lemper tersebut dibuat oleh masyarakat setempat untuk dibagikan kepada tetangga dan dipersembahkan kepada Kyai Welit sebagai bentuk rasa syukur atas kelimpahan rahmat kesembuhan, kemakmuran, dan lain-lain dari Tuhan yang salah satunya tersalurkan melalui Kyai Welit. Dalam perkembangannya hal itu kemudian dilengkapi dengan perarakan lemper raksasa atau disebut juga Boga Wiwaha atau Lemper Agung dan berbagai atraksi kesenian sehingga lebih menarik perhatian.

Konten Terkait:  Kirab Budaya Pantai Gua Cemara Demi Pelestarian Budaya dan Promosi Wisata

Perarakan lemper raksasa ini dimulai tahun 1987 atas usulan pemuda Karang Taruna Desa Wonokromo agar hal itu bisa menjadi ikon Wonokromo, sekaligus juga dimaksudkan sebagai bentuk kenangan akan Kyai Welit yang suka menyuguhkan lemper kepada para tamunya. Perlu diketahui bahwa lemper di masa lalu merupakan camilan yang dianggap paling enak dan bergengsi bagi masyarakat Jawa. Hal itu terjadi karena pada masa lalu produksi camilan atau kudapan belum semaju seperti zaman sekarang.

Dulu perayaan atau upacara tersebut dilakukan di pinggiran tempuran Sungai Gajah Wong dan Sungai Opak yang terletak di sisi timur (depan) Masjid Wonokromo. Namun lam-kelamaan karena suasananya menjadi ramai dan mengganggu peribadatan di masjid, maka tempatnya kemudian dipindahkan ke Balai Desa Wonokromo.

Bupati Bantul bersama pejabat lain menunjukan bahwa lemper raksasa telah dipotong. Foto: A. Sartono
Bupati Bantul bersama pejabat lain menunjukan bahwa lemper raksasa telah dipotong. Foto: A. Sartono

Bupati Bantul, Drs H Suharsono, dalam sambutannya di acara ini antara lain menyampaikan agar adat atau kebudayaan ini terus dilestarikan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang. Selain Bupati Bantul, Kepala Dinas Kebudayaan Bantul (Drs H Sunarto SH MM), Camat Pleret (M Alwi SH MM), Danramil Pleret (Kapten Arm M Bambang S), Kapolsek Pleret (AKP Sumanto SH) dan beberapa pejabat terkait lainnya tampak juga hadir untuk meresmikan acara ini. Sementara masyarakat sudah menyemut di depan Pendapa Kantor Desa Wonokromo sejak pukul 18.00 WIB. Penyebaran lemper oleh para pejabat di atas disambut dengan sangat antusias oleh seluruh warga masyarakat yang hadir di tempat itu.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here