Puisi Farikhatul ‘Ubudiyah

0
26

Kampung Halaman

dimanakah batu besar di sebuah pelataran rumah
yang kukunjungi belasan tahun masa kecilku
di sungai penuh batu dengan riuh riak air
betapa dingin udara menggenggam kenanganku
aku melihat perempuan menukar anjingnya
dengan sekarung beras dan lelaki menyimpan sisa
nira sebelum direbus jadi gula
ada kabar kematian datang di musim hujan
atau luka penderes jatuh dari pohon kelapa
nira… nira…
tumpahlah di deras hujan sore
basahilah tungku dan kayu
agar asapnya lebih putih dari warna langit

ibu, dimanakah batu besar yang ada di masa kecilku

telah kumasuki pemukiman kaki gunung
ada batu besar di tepi jalan seperti dalam ingatanku
batu… batu…
pancanglah dusun ini dari marabahaya
rumah-rumah bambu sedang menghangatkan tubuhnya
jika suatu hari kau hilang mungkin panjanglah usiamu
dipecah berkeping untuk akar rumah
jika suatu hari kau hilang makin panjanglah usiamu
orang-orang menamai dusun mereka dengan nama Batu
mengenangmu dan membuat mitos untuk didongengkan
kepada anak cucu

ibu, dimanakah rumah kayu yang halamannya ada batu

kumasuki jalan berimbun bambu
penuh genangan bekas hujan
rimba… rimba…
lelaki kini menjadi tukang batu
menyembunyikan muasal namamu

Purwokerto, 2018

Mengisi Tumbu

sawah ini bentangan balong, Nusamangir
anakanakmu mencari pematang setelah seluruh
kakinya berlumur lumpur dan keranjang ikan berisi
empatbelas ekor kating

di jembatan irigasi sungainya menghadap mata angin
air agak malas mengalir tetapi memantulkan cahaya
musim kemarau
di mana petakpetak padi dipaneni
pun bentangan petak lain ditanami

berangkatlah ibu, simpanan padi kita hampir habis
harihari adalah bingkisan yang tidak pernah terduga
untung ruginya
angin dingin Nusamangir terasa limbung
di bulak yang dibatasi jalan angkutan antarkota
dan laju kereta yang terdengar derit jeritnya
mana ada tempat berteduh untuk nanti
ketika matahari menghitung waktu zuhur
mesin penggiling dami riuh
panas dan debu lekat di keringat
makin retak tanah keringmu
makin dalam lumpur lebakmu

ibu yang berharihari mbawon dari desa ke desa
membawa delapan kilogram gabah
sehabis disilir saat senja hampir letih
dari arah timur, barisan bangau terbang pulang
lantang suara anakmu seperti meneriaki diri
kuntul… kuntul… omahmu wis kobaran
setelah malam lekat dan pekat
kau bakar hasil buruhan dan buruan ikanmu
di malam perapian tungku ibu

Konten Terkait:  Puisi Heru Mugiarso

Banyumas, 2018

Jalan Kasepuhan

di tubuh Serayu, dalam tubuhmu
kita melintas jalan liku dan laku seorang ibu
tangannya menangkup bunga tabur
doanya terucap pelan agar arwah purba
bersemayam tenang

pada banyak kelokan jalan
ia sabar menahan langkah dililit jarit
selambat daundaun jati menggugurkan usianya
berserak lalu diempas laju kendaraan yang lewat
sebab di jalan ini orangorang sibuk mengejar entah apa
serupa masadepan, tetapi kenangan menderap ringkas
serupa tualang, tetapi katakata jadi pilu
melawan kerasnya sunyi yang tidak pernah berlalu

bukankah ibu itu telah menetap dalam sembahyang batin
pada seratus hari tirakat tidak terhitung rakaat
memutihkan laku dan kampung halaman
yang masih magis dan hutan
di jalan ini setiap manusia makin asing
memaknai gusti pengeran masing-masing

Banyumas, 2018

Pada Tengah Siang

ikan apa yang kau tangkap
di sungai kecil, bocah kecil
sedang kulewati jembatan
ikanikan mengecup permukaan air
sementara kau mengecup bayangannya
azan menggema dan kita lena pada denyar
cahaya di atas pasir dan timbuan sampah
tidak ada bau busuk tetapi gemerusuk batin kita
lapar dan sedang setengah putusasa

air hitam di kedungmu bertanda ikan aruan
kau bayangkan pulang dan ibu menyambutmu
memanaskan tungku lalu mengoleskan bumbu
sampai di seberang sungai aku bertanya
; kemana raibmu?

Jogja, 2018

Membawamu Pergi
: Sartika Sari

sepanjang jalan kita membincangkan tokoh utama
yang namanya lahir dari sopir taksi stasiun
telah kau temui ruparupa nasib manusia
dan bau tiap kota

pernah, seorang anak tersesat di tahuntahun persinggahan
dinamai sebagai semesta riwayatmu
dan tanah tempat darahmu merunut silsilah
menderapkan duka dan kerap memulangkan
buram kisah orang transmigran

inikah kota tempat moyangmu lahir
telah kutemukan wajahmu di pintu keluar stasiun
kau menahan berat koper berisi bajubaju dan bukubuku
juga setumpuk rencana dalam pikiranmu
tibatiba runtuh bersama jalan terpisah
antara aku dan sopir taksimu yang samasama ragu
menyebut alamat

membawamu pergi; sesaat aku lupa
memunajatkan doa agar kota
dan tubuh tokoh utama itu tumbuh
dengan pertengkaran takdir ciptaanmu sendiri

Purwokerto, 2018

Farikhatul ‘Ubudiyah, lahir di Banyumas pada 21 Oktober 1995, mahasiswa pascasarjana jurusan Interdisciplinary Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here