Jelajah Jiwa dari Christine

0
59
Christine Francisca. Foto: Herlambang Yudho
Christine Francisca. Foto: Herlambang Yudho

Sambil duduk di bawah pepohonan di atas aneka kursi, hadirin yang menikmati sajian lagu-lagu dari Christine Francisca, Minggu malam, 4 November 2018 di Pendapa Art Space, Ring Road Selatan, Tegal, Sewon, Bantul, Yogyakarta, dalam tajuk ‘Jelajah Jiwa’ seperti diajak kembali ke nuansa tahun 1980-an. Romantisme masa lalu seperti tidak lepas, mengendap dalam ingatan.

Sembilan lagu dialunkan oleh Christine, hanya satu dialunkan bersama dengan suaminya Sri Krishna, yang lebih dikenal dengan panggilan Encik. Judul lagu ‘Janjiku’ karya Sri Krishna, dinyanyikan berdua, seolah kembali untuk menyampakan janji berdua. Dalam suasana riang, lagu itu dialunkan, dan seperti biasa, Sri Krishna tampil sambil senyum-senyum, kalau tidak pas disebut sedang cengengesan.
Iringan musik dari sejumlah pendukung tanpa menyebutkan nama groupnya seperti untuk meneguhkan, bahwa ‘Jelajah Jiwa’ adalah satu pertunjukan dari Christine, yang didukung Bagus Mazasupa (piano), Iwank Sambo (gitar), Yabes (bass), Endi Baroqah (drum), Denny Dumbo (perkusi), Damasus Panggah (cello), Oscar Artunes (biola), Adi Bimo (biola), Sagaf F (viola), Pandulu (saxophone), Lewi (trombone) dan Andy (trompet).

Duet Sri Krishna dan Christine Francisca. Foto: Herlambang Yudho
Duet Sri Krishna dan Christine Francisca. Foto: Herlambang Yudho

Lagu ‘Jelajah Jiwa’ yang menjadi tajuk pertunjukan karya Christine mengalun. Lagu itu seolah seperti sedang menjelaskan, bahwa pertunjukan yang sedang dilakukan adalah proses dari jelajah jiwa, yang tampaknya tidak pernah berhenti. Pertunjukan yang dilakukan merupakan satu momentum, dari satu proses jelajah, yang rasanya tidak akan pernah berhenti, maka kata jiwa ditautkan untuk meneguhkan bahwa jelajah tidak (pernah) berhenti sampai hidup menghentikannya.
Christine sendiri menjalani kegiatan musik ketika masih belia, ia menyebutnya usia masih belasan. Ia pernah meraih juara vocal group se Jawa-Bali di tahun 1979-1981. Dalam jelajah yang dijalani, ia pernah ikut berproses di Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) bersama Harry Roesli. Tahun 1987 rupanya Christine pernah membuat album rohani berjudul “A Special Promidi Christmas Gift’. Mungkin, bagi orang yang belum tahu, Christine pernah sebagai vokal latar dari sejumlah penyanyi populer Indonesia, di antaranya Utha Likumahuwa, Titi Dwi Jayanto, Rita Ruby Hartland dan lainnya.

Konten Terkait:  Nggelar Klasa, Ekspresi Perupa dalam Kebersamaan dan Kesetaraan

Namun, passion utama yang melekat adalah dunia modeling dan fashion. Sejak masih belia, atau lagi-lagi usia belasan, saat masih sekolah SMP Christine menjuarai Lomba Busana Asli Indonesia se-Jawa Barat, dan menjadi salah satu finalis TOP model Indonesia tahun 1985 untuk mewakili Jawa Barat. Pada tahun yang sama, Christine meraih juara 1 Putri Logo Indonesia.

Musik Pengiring. Foto: Herlambang Yudho
Musik Pengiring. Foto: Herlambang Yudho

Selama 3 tahun berturut-turut sejak 1998, 1999, 2000 Christine mendapat penghargaan sebagai tokoh wanita pebusana terbaik se-Jawa Barat, dan pada tahun 2000 ia menjadi perancang busana- terbaik pilihan perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.
Melalui ‘Jelajah Jiwa’ tajuk dari pertunjukannya, Christine seperti mengajak untuk mendengarkan lagu-lagu nostalgia, apalagi lagu terakhir yang dia bawakan sengaja mengambil lagu lama dari Fariz RM.
Syair lagu yang dibuat Christine seperti Asmaralaya, Wajahmu Membayang, Jelajah Jiwa, setidaknya bisa memberi pemahaman pada kita, bahwa Christine bukan hanya bergerak di modeling dan perancang busana, tetapi juga menjelajahi dunia menulis, dalam hal ini puisi, atau syair lagu, dan dia hadirkan sebagai pertunjukan.

Dan ‘Jelajah Jiwa’ adalah bentuk dari pertunjukan itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here