Kampus biru, nama populer dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogykarta, yang sudah lama tidak bersentuhan dengan puisi, kali ini kembali berpuisi dalam tajuk ‘UGM Berpuisi’, yang diselenggrakan, Selasa malam, 30 Oktober 2018 di Balairung UGM. Rektor dan para dosen, juga para alumni UGM bersama dengan para penyair Yogya bersama membacakan puisi, seolah kembali membuat UGM menjadi biru.

Kita tahu, Kampus Biru adalah judul novel karya Ashadi Siregar, yang pada masa itu masih sebagai pengajar di Jurusan Komunikasi, Fisipol UGM sehingga judul novel itu melekat di tubuh UGM. Ketika menyebut nama UGM imajinasi kampus biru segera melekat, apalagi jaket mahasiswa UGM berwarna biru.

Sebagai Kampus Biru, UGM penuh dengan kegiatan kebudayaan, bahkan bisa dikatakan pusat kebudayaan di Yogya ada di UGM. Aneka kegiatan kebudayaan, diskusi, seminar apalagi kesenian, bahkan Pekan Budaya bisa ditemukan di Bulaksumur, nama lain dari UGM atau kawasan tempat UGM berdiri.

Setelah lama sepi dari sastra, berkaitan dengan Dies Natalis ke-69 Universitas Gadjah Mada, salah satunya menyelenggarakan satu acara yang diberi tajuk UGM Berpuisi. Pembaca puisi adalah para Sivitas Akademika, Alumni dan Mitra UGM. Pada kategori terakhir sejumlah penyair Yogya diminta untuk tampil membacakan puisi karyanya, ada juga yang membacakan puisi karya penyair lain, misalnya penyair Subagio Sastrawardoyo, yang dibacakan oleh alumni UGM.

Bambang Eka, foto Harno Depe
Bambang Eka, foto Harno Depe

Beberapa alumni yang tampil, dan kebetulan juga rajin menulis puisi dan sudah menerbitkan buku puisi, di antaranya Krisbudiman, Kamal Firdaus, Yanti S.Satro, Wahyudijaya dan beberapa penyair lainnya, di antaranya Umi Kulsum, dan Bambang Eka dari Magelang.

Para Sivitas akademika yang tampil membaca, misalnya Rektor UGM, Prof. Ir Panut Mulyono, M.Eng.,D.Eng sekaligus memberikan pidato pembukaan. Pembaca lainnya, Prof. Ir Arief Budiman, M.S.,D. Guru Besar Fakultas Teknik UGM, dan termasuk Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA Dekan FIB UGM. Pengajar di UGM yang sering membaca puisi dan ikut tampil membaca dalam acara ini, misalnya Ita Fauzia, Dosen Fakultas Kedokteran, Harno Dwi Pranowo, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tidak ketinggalan, Novi Indrastuti, dosen FIB UGM, yang sekaligus sebagai panitia penyelenggara.

Konten Terkait:  Puisi dalam Tarian Hujan di SBP Edisi Ke-65

Mungkin karena lama Kampus Biru tidak bersentuhan dengan puisi, sehingga acara UGM Berpuisi dihadiri oleh cukup banyak orang, bukan hanya dari kalangan mahasiswa sastra khususnya, atau UGM umumnya, tetapi juga dari kalangan umum dan alumni, yang ikut membaca puisi seperti Yanti S. Sastro, yang sehari-harinya menjadi pengajar di Undip, Semarang, penyair Bambang Eka dari Magelang dan nama-nama lain.

Karena pembacanya termasuk banyak, sekitar 40 orang, sehingga masing-masing dibatasi waktunya 5 menit, sehingga diprediksi tidak memerlukan waktu lama, sekitar 2-2,5 jam. Dan memang, puisi yang dibacakan kebanyakan pendek, mungkin tidak sampai 5 menit. Hanya saja, sering ada yang memberi pengantar, sehingga waktu 5 menit dari membaca puisi menjadi lebih lama.

Ita Fauzia (foto Harno Depe
Ita Fauzia (foto Harno Depe

Rasanya, UGM tak bisa dijauhKan dari puisi khususnya dan kebudayaan luasnya. UGM berpuisi adalah upaya untuk membuka kembali, bahwa Kampus Biru akan kembali bersentuhan dengan sastra. Ini artinya, UGM berinteraksi dengan seniman. Atau, Kampus Biru membuka ruang bagi para seniman untuk berinteraksi dan berkreasi, sehingga UGM kembali menjadi pusat kebudayaan yang pernah terjadi pada masa lalu. (*)

1 KOMENTAR

  1. Cintaku di kampus biru
    Kisah sendu jalinan asmara putri jawa mendam rasa dengan aktivis kampus yg dibumbui simpati hingga ikut jatuh hati si gadis lajang, sang dosen killer pada “kebadungan” si aktivis yg juga ganteng… CdKB memang sendu. Ashadi S meracik, memasak, dan menghidangkannya dg apik….

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here