Pekan Komponis Indonesia 2018 hari kedua yang diselenggarakan di Salihara Jakarta Selatan, Sabtu malam, 3 November 2018, dimeriahkan oleh beberapa komponis, diantaranya Avant Garde Dewa Gugat, Julian Abraham Marantika, Lutfan Hawari, Nahwan Sona Alhamd, dan Willyday Onamlay Muslim.
Pekan Komponis merupakan program tahunan dari Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Program ini selalu melahirkan pemusik dengan karya – karyanya yang memperkaya khasanah dunia kesenian Indonesia. Pada tahun ini, Komite Musik menampilkan berbagai fenomena dan kecenderungan karya di Indonesia dan DKJ dengan antusias mendukung program ini. Dapat dikatakan program tersebut merupakan program dengan campuran konten dari berbagai macam genre.

Penampilan Agung Hero menggunakan alat musik buatannya
Penampilan Agung Hero menggunakan alat musik buatannya

Pada pembukaan konser Pekan Komponis Indonesia kali ini, dibuka oleh Willyday Onamalay Muslim dengan judul Udan Grimis. Willy yang sempat menempuh pendidikan di Jurusan Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengaku karyanya yg berjudul udan grimis terinspirasi dari sejarah panjang perjuangan Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan dan harga diri bangsa. Komposisi ini meramu tragedi dalam bebunyian yang memungkinkan penonton atau bahkan pemainnya sendiri, untuk memposisikan diri sebagak orang ketiga, kedua, dan pertama. Willy memadukan berbagai bunyi dari alat musik gamelan.

Lalu penampil kedua adalah Agung Hero Hernanda dengan judul Negatif. Karya negatif terinspirasi dari isu negatif atau hoax yang tersebar di media sosial saat ini. Fenomena ini (hoax) diinterpretasikan dalam bentuk karya eksperimental dengan menggunakan alat non-instumental, serta instrumen konvensional dengan penyingkapan terhadap instrumen di luar semestinya.

Alat musik Cakjreng yang di pakai oleh Lutfan
Alat musik Cakjreng yang di pakai oleh Lutfan

Pada penampilan ketiga diisi oleh Nahwand Sona Alhamd berjudul Spirit Of Dambus. Nahwan merupakan sarjana ilmu komunikasi yang sempat meraih penghargaan penata musik terbaik lomba tari daerah tingkat Provinsi Bangka Belitung tahun 2004, 2006, 2010, dan 2017. Nahwan menjelaskan bahwa karya yang ia bawakan terinspirasi oleh kesenian dambus yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Spirit Of Dambus adalah semangat berkesenian, semangat melestarikan, dan semangat mengembangkan.

Konten Terkait:  Leroux & Co Toko Roti Paling Terkenal di Jakarta Tempo Dulu
Penampilan lutfan yang dipadukan dengan visual
Penampilan lutfan yang dipadukan dengan visual

Penampil keempat adalah Avant Garde Dewa Gugat yang membawakan Masih Sirompak. Avant pada penampilan kali ini tertarik pada kesenian dari Sirompak, Nagari Taeh Baruah, Payakumbuh Kabupaten 50 kota. Karya ini menjadi representasi perwujudan dari kesenian tradisi basirompak, bertujuan untuk marompak atau mendobrak pertunjukan sirompak pada saat ini, yang telah kehilangan kesakralan dan nilai – nilai yang ada di dalamnya.

Penampilan penutup berjudul Akar Suara oleh Lutfan Hawari, yang pernah mengikuti kursus di Spirit Music Studio, Bantul. Lutfan menggunakan alat musik buatannya sendiri yang dapat memanefstasikan dirinya, dan alat itu bernama “Cangjeng” yang diambil dari bunyi alat musik tersebut.

Alat musik Cakjreng yang di pakai oleh Lutfan
Alat musik Cakjreng yang di pakai oleh Lutfan

Sebelum melakukan penampilannya Lutfan mengajak para penonton untuk terlibat di dalam pertunjukannya, beberapa dari penonton tertarik dan bergabung. Menurut Lutfan penonton sengaja diajak bergabung karena penonton mempunyai energi tersendiri bagi dirinya. Lutfan juga memadukan penampilan visual dengan menggunakan tata cahaya yg ciamik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here