Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Dinas Kebudayaan DIY kembali meluncurkan tiga antologi berkait dengan dunia sastra dan budaya Jawa. Ketiga antologi tersebut meliputi antologi geguritan, cerita cekak/pendek (cerkak), dan esai kebudayaan Jawa. Untuk mewujudkan ketiga antologi tersebut Disbud DIY mempercayakan pengelolaannya kepada sembilan orang editor. Khusus untuk tahun 2018 ini Disbud DIY mengangkat tema “Aja Dumeh”. Peluncuran ketiga antologi yang dilengkapi dengan evaluasi pada Rabu, 24 Oktober 2018 di Kantor Dinas Kebudayaan DIY.

Khusus untuk tahun 2018 ini DIY juga memberikan kesempatan kepada peserta (penulis/sastrawan) luar kota. Jadi, dulu hanya sebatas bagi para penulis Yogyakarta sekarang lebih dikembangkan menjadi regional. Titik tekan penyelenggaraan ini adalah pada semakin meratanya peserta dari berbagai latar belakang dan tempat tinggal. Harapannya, hal itu dapat merangkul penulis-penulis baru. Dengan demikian, regenerasai dan pengembangan penulisan sastra dan budaya Jawa semakin berkembang, merata, dan semakin banyak juga kreatornya.

Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, antologi sastar Jawa di tahun 2018 ini dilengkapi dengan gambar ilustrasi yang dikerjakan dengan gambar tangan yang melibatkan lima orang illustrator. Dengan demikian, masing-masing judul cerkak dilengkapi dengan gambar ilustrasi. Selain itu, gambar sampulnya juga dibuat oleh para illustrator. Tidak mengherankan jika tampilan fisik dari ketiga antologi dari Disbud DIY tersebut kelihatan lebih menarik dibandingkan antologi sebelumnya.

Dari kiri ke kanan, tiga editor dan dua moderator dalam evaluasi antologi sastra Jawa 2018 di Diusbud DIY. Foto: A.Sartono
Dari kiri ke kanan, tiga editor dan dua moderator dalam evaluasi antologi sastra Jawa 2018 di Diusbud DIY. Foto: A.Sartono

Sekalipun demikian, Drs Purwadmadi, salah satu editor, menyampaikan beberapa kelemahan yang masih harus diperhatikan oleh para penulis/sastrawan Jawa, di antaranya bahwa tata tulis atau ejaan bahasa Jawa masih saja menjadi salah satu hal yang sering kurang diketahui oleh penulis. Sedangkan konflik yang dibangun masih berkutat pada konflik imajinatif (konflik kamar) dan bukan berdasarkan sebuah riset sosial. Dikhawatirkan jika hal ini terus berlanjut maka produk sastra Jawa nantinya karya sastra yang hanya membayang-bayangkan atau mengangan-angankan belaka dan bukan menjadi karya sastra yang dapat memberi inspirasi bagi perubahan sosial.

Konten Terkait:  Serat Centhini Menjadi Tema Utama BWCF

Metodologi riset dan cara mengubah hasil riset juga harus diperhatikan oleh penulis sastra Jawa. Riset menghasilkan fakta empirik. Fakta empirik yang kemudian diangkat menjadi realitas imajinatif masih kurang digarap oleh penulis sastra Jawa. Pada sisi ini bahkan masih ada juga penulis yang menuliskan karya sastra seperti melaporkan kejadian. Pada umumnya pula para sastrawan masih lemah dalam menyampaikan apa yang tersirat di balik yang tersurat. Belum banyak yang bisa membaca apa yang tidak terbaca. Dalam istilah Jawa bisa dikatakan bahwa banyak sastrawan yang durung bisa ngripta sastra tanpa tulis (belum bisa menciptakan karya sastra tanpa tulis (an)).

Ada pun buku-buku antologi terbitan Disbud DIY 2018 ini terdiri atas tiga judul, yakni Gugah-gugah Dhudhah-dhudhah (esai), Weling Sinangling (geguritan), dan Wulang Kumandhang (cerkak). Tulisan yang berhasil dijaring meliputi 30 judul esai, 260 judul geguritan dan 76 judul cerkak. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here