Gege Diaz Menari adalah Ekspresi Diri

0
22
Gege Diaz bergaya seusai proses wawancara bersama reporter TeMBI
Gege Diaz bergaya seusai proses wawancara bersama reporter TeMBI

Lampu lighting berwarna biru menyoroti pria berkulit sawo matang di atas panggung pre-Indonesia Dance Festival (IDF) 2018 pada malam itu di Goethe Institut, Kamis, 1 November 2018. Mata penonton langsung tertuju kepadanya. Dengan perlahan, ia mulai menggerakkan tubuhnya yang tegap dan melangkahkan kakinya dengan badan bungkuk ke sekeliling panggung.

Ia menari dengan lihai. Tarian tradisi kontemporer yang ia bawakan merupakan karyanya sendiri yang bernama “Rufus”. Karya itu terinspirasi dari sang ayah yang juga sekaligus nama ayahnya sendiri.
Tarian Rufus telah usai dimainkan, pria yang memakai kain tenun adat Adonara, Flores, pada saat menari itu disambut dengan tepukan tangan yang sangat meriah. Seusai menari, ia langsung ke belakang panggung untuk istirahat dan berswafoto bersama rekan-rekannya. Dengan cucuran keringat yang menempel di sekujur tubuh serta senyum sumringah pria itu bergaya.

Nama pria itu adalah Gregorius Garo Helan atau yang akrab disapa Gege Diaz, lahir di Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT) 1986. Selain menciptakan karya Rufus yang telah memenangkan Chore-Jam IKJ 2017, Gege telah mencetak prestasi dance hingga ke kancah Internasional. Bermula setelah Gege melepas emblem sebagai mahasiswa Teknik Informatika di salah satu kampus di Makassar.

Banyak cerita di balik sukses seorang Gege. Dari suka maupun duka bercampur menjadi satu. Rasa mendarah daging terhadap tari menyatu bersama tubuhnya sejak kecil. “Memang sudah passion-nya saya sejak kecil,” katanya di gedung Goethe-Institut Indonesia.

Gege Diaz saat menari di atas panggung pre-Indonesia Dance Festival (IDF) 2018 di Goethe-institut Indonesia
Gege Diaz saat menari di atas panggung pre-Indonesia Dance Festival (IDF) 2018 di Goethe-institut Indonesia

Gege menceritakan masa kecilnya. Pada saat Gege kelas tiga Sekolah Dasar (SD), dia sudah sering kabur dari rumah untuk pergi ke acara-acara pernikahan dan ulang tahun yang sekaligus tampil nge-dance dalam acara tersebut.

“Saya manjat tembok rumah terus pergi ke acara-acara hingga larut malam. Ketika sampai, orang ua sudah melototin saya dengan tangan di pinggangnya. Saya langsung dipukul,” tutur Gege sembari tertawa.

Meski selalu mendapat pukulan setelah dari acara-acara, Gege tak pernah kapok. Dia kabur lagi dan lagi. “Kalau tidak datang ke pesta, terasa ada yang kurang. Pengennya dance mulu,’’ ujarnya.

Berangkat dari situ, Gege mulai merasakan bahwa dance adalah bagian dari kehidupannya. Waktu terus berjalan, sehingga Gege mulai mengenyam pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada saat itu, ia tinggal bersama pamannya di daerah Timor Timur (Sekarang Timur Leste). Ia mengira jika tinggal bersama pamannya akan diperbolehkan nge-dance. Tetapi, ekspektasi Gege pun tidak tercapai. Hal yang sama juga didapatkan Gege, yaitu larangan oleh pamannya. Orangtua dan pamannya hanya ingin Gege menjadi orang yang berpendidikan tinggi.

Memasuki dunia perkuliahan, Gege harus mengubur sebentar rasa suka terhadap dance. Dia dikukuhkan di salah satu kampus di Makassar sebagai mahasiswa teknik. “Kalo di kampung, komputer kan dianggap keren, maka dari itu orangtua saya menyarankan kepada saya untuk ambil jurusan teknik informatika,” ungkap Gege.

Latar belakang sebagai anak teknik menempel di tubuhnya. Namun, ternyata hal itu tak berselang lama. Gege mulai risih. Dia merasa tidak menjadi dirinya sendiri. Dia ingin lepas. Berlari menuju dermaga dunia dance kembali. Tak ada software komputer yang menjalar di otaknya. Yang ada hanya tone warna-warni musik dance. Hanya itulah yang dia inginkan.

Lonceng untuk terus belajar di dunia teknik ditabuh dengan kencang pada semester V. Di semester tersebut, Gege berusaha meramu kembali jiwanya yang mulai hilang terhadap dance, sehingga Gege memutuskan untuk bertolak ke Jakarta untuk mengikuti sebuah kontes dance. Mengarungi lautan menuju Ibu Kota negara. Gege terpaksa bersilat lidah dengan orangtuanya.

Konten Terkait:  Bupati Bantul dan Sesaji Raja Suya

Pria yang berulang tahun setiap 25 Juni itu menyampaikan kepada orangtuanya bahwa dirinya memiliki urusan perkuliahan di Jakarta. Dengan uang saku seadanya, Gege menyapa angin yang menyelimuti Jakarta.

Pengorbanannya mengarungi lautan dari Makassar ke Pelabuhan Tanjung Priok berbuah manis. Dia dinobatkan sebagai juara II di kompetisi dance itu. Sebelum kembali ke Makassar, Gege menghubungi orangtuanya. Dia mengabarkan bahwa dirinya menjadi juara II. Orangtuanya shock.

Pada kompetisi tersebut, Gege bertemu dengan seorang juri yang pernah berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dari situ Gege baru tahu bahwa ada kampus yang memiliki jurusan tari. Akhirnya, ia ingin menjadi mahasiswa IKJ.

“Saya bingung, kok bisa ada kampus yang memiliki jurusan tari? Dari situ saya mulai tertarik dan mencoba berkomunikasi kepada orangtua saya,” jelas Gege. Ia memberanikan diri untuk mengatakan bahwa ingin keluar dari kuliahnya. Mereka naik pitam. ’’Bilang kalau perjuangan mereka menguliahkan saya itu sulit. Kok malah sekarang keluar begitu saja dan mengambil kuliah tari di Institut Kesenian Jakarta,’’ paparnya.

Gege Diaz bersama Koreografer yang lain berserta penari melakukan sesi foto seusai acara Pre-IDF 2018
Gege Diaz bersama Koreografer yang lain berserta penari melakukan sesi foto seusai acara Pre-IDF 2018

Penolakan dari orangtuanya ternyata tidak membuatnya patah arang. Gege kukuh untuk merealisasikan keinginannya. Akhirnya, dia mencopot embel-embel sebagai anak teknik. Dia telah menjadi anak seni IKJ.

Bagi Gege, dance bukan sekadar gerakan tubuh. Menurut dia, dance lebih dari itu. Ekspresi bisa diungkapkan melalui dance. Bahkan, menurut Gege, apa yang sedang kita lakukan sekarang, itu merupakan makna dance.

“Dance itu bisa meluapkan ekspresi apa yang sedang kita rasakan. Lebih dari itu, kita berfoto itu merupakan bagian dari dance, ada yang bergaya, ada yang naik badannya, ada yang membungkuk, itu adalah dance bagi saya,” tunjuk Gege ke arah orang yang sedang mengabadikan momen di booth pre-IDF 2018.

Pada 2007, dia bergabung dengan Animal Pop Dance. Gerbang dunia dance kembali terbuka. Semangat Gege membuncah lagi. Tawaran pertama tak main-main hanya untuk nge-dance. Dia diundang ke Singapura. Setelah dari Negeri Singa tersebut, dia terbang ke negara lain.

Dia diundang ke Jepang untuk tampil. Tak tanggung-tanggung, dia diminta nge-dance di tiga kota sekaligus. Yakni, di Nagoya, Fukuoka, dan Yokohama. ’’Setelah dari Jepang, saya ke Jerman. Kemudian, ke Rusia dan New Caledonia,’’ ujarnya.

Jika ditotal, Gege telah menginjakkan kaki di lima negara. Yaitu, Singapura, Jepang, Jerman, Rusia, dan New Caledonia. Dia mengunjungi lima negara tersebut tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. ’’Pas pertama naik pesawat ke Singapura, widih ngerasain banget, oh begini ya,’’ ucapnya lantas tertawa.

Dengan berbagai prestasi di dunia dance, hati orangtua Gege luluh. Mereka mulai menerima profesi Gege. Bahkan, mereka pun bangga apa yang Gege telah capai hingga saat ini. “Jika kita mau berusaha, kita bisa. Jangankan kita, seorang pemulung jika mau berusaha dia akan sukses lebih dari kita. Kita tidak ada yang tahu apa yang direncanakan oleh Tuhan. Kita hanya berusaha dan berusaha,” tutur Gege.

Sebagai penutup, Gege memberikan pesan kepada dancer-dancer yang akan memulai kariernya di dunia tari. Gege berpesan, jangan pernah lupakan berlatih.”Berlatih, berlatih, dan berlatih,” tutupnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here