Indonesia bagian timur masih sering kurang terdengar gaungnya dibandingkan dengan Indonesia bagian barat atau tengah. Padahal Indonesia bagian timur juga memiliki aneka macam keunggulan yang tidak didapatkan di Indonesia bagian lain. Sumba merupakan salah satunya. Dalam rangka itu Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta melaksanakan serangkaian kegiatan berkait dengan keelokan dan keunggulan Sumba yang dibingkai dalam Festival Sumba.

Festival ini dimotori oleh LAURA (Laboratorium untuk Aksi Riset Antropologi) FIB UGM. Festival Sumba ini berisi berbagai macam acara, seperti Pergelaran Seni dan Budaya Sumba (25-26/10), Pemutaran Film di gedung FIB (25/10), Lokakarya dan Diskusi Uji Citarasa Kopi (27/10), Workshop dengan pewarna alami bersama Dedi Hadi Purwadi (26/10), Simposium Wajah Sumba dalam Pusaran Zaman (27-28/10) dan Pameran Foto bertemakan Sumba di BBY (23-31/10).

Apa yang dilakukan LAURA dengan festival ini merupakan bagian atau cara bagaimana mengangkat hasil riset menjadi sebuah aksi. Festival ini sebagai bentuk aksi dari riset yang pernah dilakukan LAURA selama kurang lebih 2 tahun yang dimulai pada tahun 2015. Bisa dikatakan bahwa banyak riset atau penelitian yang selama ini hanya berhenti di rak-rak perpustakaan atau di hardisk komputer sehingga masyarakat kurang mengetahui akan hasil riset dan manfaat dari riset itu sendiri. Aksi dalam bentuk festival yang dilakukan oleh LAURA ini diharapkan mampu mengenalkan hasil riset itu kepada masayarakat luas dan bisa merefleksikan kehidupan Sumba.

Pameran foto bertemakan Sumba di BBY menampilkan sekian banyak sudut-sudut alam, kehidupan masyarakat yang meliputi adat dan tradisi serta kehidupan sehari-hari serta segala hal yang berkait dengan Sumba. Foto yang dipamerkan ini merupakan karya dari 12 fotografer yang di antaranya juga merupakan antropolog. Pameran foto tentang Sumba yang dibingkai dalam tema “Rinduku Sumba: Pameran Pengetahuan Budaya” pada intinya memang menyuguhkan aneka macam pengetahuan budaya tentang Sumba. Pengunjung dapat mengamati, mengenali, dan akhirnya memahami apa yang berkait dengan Sumba melalui media foto.

Konten Terkait:  The King of Riches in the Art of Works by Budi Ubrux
Bangunan gereja sangat sederhana di Sumba. Foto Repro: A. Sartono
Bangunan gereja sangat sederhana di Sumba. Foto Repro: A. Sartono

Foto bisa mewakili ribuan kata-kata. Orang seperti diajak masuk ke dalam suasana dan kondisi di mana foto itu tampil. Gambar hamparan bukit yang hanya ditumbuhi rumput dengan lekuk-lekuk tanah yang membentuk kontur-kontur tertentu menghasilkan tampilan gambar yang mempesona. Itu salah satu keindahan alam Sumba sekaligus menunjukkan ketandusan salah satu sisi tanah di Sumba.

Salah satu sisi keindahan alam Sumba. Foto Repro: A. Sartono
Salah satu sisi keindahan alam Sumba. Foto Repro: A. Sartono

Pada foto yang lain dapat diketahui pula bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba, bagaimana pula gambaran kehidupan sosial ekonomi, budaya, dan seterusnya. Semuanya itu adalah bagian dari kekayaan Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Kebanggaan akan kekayaan cultural dan alam Sumba menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk semakin mencintainya dan peduli. Bukan hanya menimbulkan kerinduan dan kesyahduan, namun juga mampu memberikan daya dorong bagaimana menjadikan Sumba jauh lebih baik, lebih cantik, lebih berdaya di masa depan.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here