Tubuka: Kenali Tubuh Diri Sendiri Melalui Musik Kontemporer

0
76
Komponis Tubuka, Gema Swaratyagita ikut menjadi pemain dalam acara Tubuka
Komponis Tubuka, Gema Swaratyagita ikut menjadi pemain dalam acara Tubuka

“Ketika tutur kata itu terlalu bising menyuarakan bunyinya, biarlah tubuh yang memakna”. Lewat kutipan tersebut, Laring Project bersama Bentara Budaya Jakarta menggelar musik kontemporer bertajuk “Tubuka” di gedung Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, pada Kamis dan Jumat, 25 – 26 Oktober 2018.

Tubuka yang singkatan dari TUbuh BUnyi KAta ini merupakan karya dari Komponis muda Gema Swaratyagita, wanita kelahiran Jakarta, 1984. Gema menjelaskan Tubuka adalah pertunjukan musik untuk vokal dan tubuh yang menggunakan TUbuh, BUnyi, dan KAta sebagai konsep, metode dan bahan dasar karya. Ide tersebut muncul dari percakapan antara Gema dan tubuh Gema sendiri.

“Ketika banyak orang seringkali sibuk melihat kekayaan ‘tubuh’ orang lain, terkadang kita lupa melihat kekayaan ‘tubuh’ kita sendiri. Ketika banyak orang sibuk mendengar ‘kata’ orang lain, terkadang kita lupa mendengar ‘kata’ kita sendiri. Ketika banyak orang sibuk mendengar ‘bunyi’ orang lain, terkadang kita lupa mendengar ‘bunyi’ kita sendiri,” ujar Gema pada saat sesi diskusi setelah acara selesai.

Pemain Tubuka saat memainkan musik kontemporer yang bunyinya berasal dari tubuh sendiri
Pemain Tubuka saat memainkan musik kontemporer yang bunyinya berasal dari tubuh sendiri

Wanita yang juga ikut tampil dalam acara ini menambahkan, karya ini berjalan menelusuri bagaimana fenomena masyarakat yang sudah tak bisa dilepaskan dari teknologi sebagai media utama berkomunikasi, yang terkadang membuat dirinya lupa rasanya berkontak langsung dengan sesama manusia, dan bahkan berkomunikasi dengan diri sendiri. Yang terjadi seringkali adalah, tambah Gema, mengumbar kata pada banyak tubuh atau mengumbar tubuh pada banyak kata.

Komponis menelusuri Tubuka ini dengan meminjam tubuh karya Anne Blume
(Kurt Schwitters) yang diadaptasi menjadi Ana Bunga oleh Sutardji Calzoum Bachri, yang kemudian diolah menjadi tubuh baru. Pada puisi ini komponis menginterpretasikannya sebagai sebuah konsepsi percakapan tubuh, antara aku, kau, kita dan mereka. Jika ingin dibahasakan, bagian ini adalah simbol ketika kita meminjam “tubuh” orang lain sebagai ide, inspirasi maupun ilmu, untuk disesuaikan pada “tubuh” kita sendiri.

“Karena kita bukan hidup sendiri, melainkan membutuhkan banyak ‘tubuh’ lain yang mendampingi, namun sudahkah kita memahami “tubuh” kita lebih dahulu?,” tutur Gema. Pada karya ini, selain melibatkan 5 pemain dan 1 musisi elektronik, komponis juga berkolaborasi dengan 2 seniman perempuan lain yaitu Firsty Soe (lighting artists) dan Fiametta Gabriela (visual art).

Kolaborasi dengan ruang dan cahaya ini juga merupakan peleburan bentuk seni pertunjukkan dari berbagai medium yang ingin dimasuki kreator, dibalut dengan seni performatif yang menjadi bagian dari pertunjukkan. Pada proses kreatifnya, komponis melakukan sejumlah riset mengenai tubuh, yang dikaji dari multi perspektif, di lintas seni.

Ketertarikan Gema terhadap tubuh, membuat dirinya mulai menelusuri bunyi yang dihasilkan tubuh dari berbagai sumber, baik dalam seni tradisi seperti Gayo dan Saman (Aceh), dan Randai (Sumatra Barat), atau juga tradisi perkusi tubuh yang dikembangkan mulai dari Afrika hingga Amerika. Sedangkan Ketertarikan Gema pada dunia kata sejak awal berkarya, membuat eksplorasi kata dan pengolahannya seringkali menjadi tumpuan ide di dalam karya-karya yang dihasilkan.

Para Pendukung Tubuka Usai Pentas
Para Pendukung Tubuka Usai Pentas

Media eksperimen lain yang mulai dimasuki komponis adalah seni partisipatif. Komponis mengajak siapapun yang berkenan berpartisipasi untuk mengirimkan kisah kata tentang pengalaman komunikasi dengan tubuhnya, serta bunyi yang dihasilkan dari masing-masing tubuh, bisa berupa bunyi tepukan telapak tangan, langkah kaki, batuk, hingga bunyi buang angin (kentut) sebagai bentuk “mengenali” kekayaan bunyi tubuh sendiri, untuk itu kemudian diolah didalam karya “Tubuka”.

Tubuka dibagi menjadi 4 bagian, yang juga dibalut dengan bentuk seni performatif, instalasi bunyi, visual dan cahaya. Empat bagian tersebut adalah I. Bunyi; II. Kata; III. Tubuh; dan IV. Tubuka. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here