Istana Siak Sri Indrapura terletak di Jalan Syarif Kasim, Kota Tinggi, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Bangunan Istana Siak Sri Indrapura terdiri atas dua lantai. Luas Istana Siak Sri Indrapura 32.000 meter persegi. Bentuk bangunannya merupakan perpaduan gaya arsitektur Melayu, Arab, dan Eropa.

Berdasarkan sejumlah referensi, lantai bawah dari istana ini terdiri atas 6 ruangan, yakni Ruang Tunggu Tamu, Ruang Tamu Kehormatan, Ruang Tamu Laki-laki, Ruang Tamu Perempuan, Ruang Sidang Kerajaan yang kadang digunakan juga untuk Ruang Perjamuan (pesta). Sedangkan lantai atas terdiri atas 9 ruangan yang digunakan sebagai tempat istirahat sultan serta para tamu istana.

Pada halaman istana ditempatkan delapan buah meriam yang terletak menyebar di beberapa sisi. Istana juga dilengkapi bangunan berupa penjara sementara yang berukuran relatif kecil (satu ruangan) dengan bangunan berbentuk menyerupai tabung. Pada sisi kanan kompleks bangunan Istana Siak juga terdapat bangunan yang dulu digunakan sebagai kantor sultan dan para punggawanya.

Istana Siak Sri Indrapura dilihat dari arah depan. Foto: A. Sartono
Istana Siak Sri Indrapura dilihat dari arah depan. Foto: A. Sartono

Istana Siak berdiri tahun 1889. Istana didirikan pada masa kejayaan Sultan Syarif Hasyim yang merupakan ayahanda Sultan Syarif Kasyim II. Sultan Syarif Kasyim II di kemudian hari diangkat sebagai pahlawan nasional dan namanya diabadikan sebagai nama Bandara di Pekanbaru, Riau. Kerajaan Siak Sri Indrapura merupakan Kerajaan Melayu terbesar di Riau. Nama Siak dipercaya berasal dari nama tumbuh-tumbuhan yang dulu banyak bertumbuhan di lokasi, yakni tanaman yang oleh orang setempat disebut sebagai siak-siak.

Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan setelah Raja Kecik pada tahun 1723. Raja Kecik sendiri bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah. Ia merupakan putra Raja Johor yang bernama Sultan Mahmud Syah dengan istri yang bernama Encik Pong. Pusat Kerajaan Johor yang diperintah oleh Sultan Mahmud Syah berpusat di Buantan. Tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Kerajaan Johor. Akan tetapi pada tahun 1722 tahta Kerajaan Johor direbut oleh Tengku Sulaiman yang merupakan ipar Raja Kecik. Tengku Sulaiman sendiri merupakan putera dari Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Dalam silsilah sultan-sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura dimulai pada tahun 1725 dengan 12 sultan yang pernah bertahta. Pada tahun 1724-1726 Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah memasukkan Rokan ke dalam wilayah Kerajaan Siak. Sultan Abdul Jalil juga membangun armada laut yang kuat di Bintan. Bahkan pada tahun 1740-1745 ia melakukan penaklukan beberapa wilayah di Kedah. Tahun 1780 Siak menjadi kekuatan yang semakin dominan. Bahkan Siak memiliki pengaruh besar hingga ke Sambas (Kalimantan Barat).

Taman atau halaman di depan Istana Siak Sri Indrapura. Foto: A. Sartono
Taman atau halaman di depan Istana Siak Sri Indrapura. Foto: A. Sartono

Perseteruan Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah dengan Tengku/Sultan Suleman menjadi tanda perpecahan Kerajaan Melayu. Kekalahan Sultan Abdul Jalil mengakibatkan ia menyingkir ke Johor, kemudian ke Bintan, dan Bengkalis hingga akhirnya ke pedalaman Sungai Siak di daerah Buantan. Ia kemudian menetap dan menjadi sultan di tempat itu. Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mangkat pada tahun 1744 dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Mohammad Abdul Jalil Jalaludin Syah, yang kemudian memindahkan ibukota Kerajaan Siak ke Mempura.

Pada masa sultan ke-11, yakni Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin/Sultan Syarif Kasyim I (1889-1809) dibangunlah istana yang megah di Kota Siak dan istana itu diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah. Pembangunan istana itu dilaksanakan pada tahun 1889. Istana ini oleh orang Eropa disebut sebagai The Sun Palace from East. Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin digantikan oleh puteranya yang bernama Sultan Syarif Kasyim Tsani Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalil Syaifuddin II (1915-1945).

Sultan Syarif Kasyim II inilah yang menyerahkan harta Kerajaan Siak sebesar 13 juta gulden yang setara dengan 69 juta Euro (pada tahun 2011) kepada pemerintah Indonesia serta menyatakan Kerajaan Siak sebagai bagian dari wilayah Indonesia. Ia juga menyerahkan mahkota Kerajaan Siak dan pedang kebesarasn Siak untuk pemerintah Indonesia. Ia juga menentang dan menyelamatkan rakyatnya dari kerja rodi Belanda dan kerja romusha oleh Jepang. Oleh karenanya ia dianggap sebagai pemberontak oleh kedua bangsa kolonialis itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here